Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.
Wahyu 20:12, 15
Puncak dari penghakiman Allah, setelah iblis, antikristus dan nabi palsu yaitu mereka yang melawan Allah dihukum, maka tiba waktunya semua manusia menghadap takhta penghakiman Tuhan Yesus.
Secara pribadi saya mencoba membayangkan bagian firman ini demikian:
Pertama, kitab kitab akan dibuka di hadapan Tuhan, semua manusia akan dihakimi menurut perbuatannya. Dan saya tidak bisa membayangkan bahwa semua perbuatan saya, baik atau jahat, tersembunyi atau tidak tersembunyi, akan terbuka di hadapan Tuhan. Ya, di dalamnya bisa jadi ada catatan bahwa saya jadi rohaniawan, melayani, dll dll. Tetapi apakah kemudian saya berani berkata kepada Tuhan, seperti dalam Matius 7:21-23 = "Tuhan, aku sudah berbuat ini itu, aku jadi pendeta demi Engkau dll dll." Saya kuatir Tuhan akan berkata: "Siapa kamu, Aku tidak kenal engkau. Enyahlah pembuat kejahatan." Karena kita menyadari sekali bagaimana mungkin hidup kita ini bisa dihitung benar hanya karena segala perbuatan kita.
Kedua, tetapi barangsiapa yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan akan diselamatkan. Di sinilah yang namanya anugerah ditemukan. Bahwa bukan kita yang membuat Tuhan menuliskan nama kita di kitab kehidupan. Tetapi hanya karena iman di dalam Tuhan Yesus yang sudah mati dan bangkit menebus kita, menggantikan kita, dan menyelesaikan hukum dosa. Seakan karya Kristus Anak Domba itu menutupi melingkupi kita sehingga di bawah penghakiman Tuhan itu saya dihitungnya sebagai orang benar dan layak menerima kerajaan surga dan bukannya lautan api kekal.
Maka dalam ingatan ini, saya teringat seruan penjahat di samping salib Yesus yang bertobat: "Yesus, ingatlah akan aku ketika Engkau datang sebagai Raja" (Lukas 23:42). Kita sama seperti dia, pantas menerima hukuman itu, tetapi ketika memandang salib Tuhan Yesus maka kita hanya bisa berseru, "Tuhan Yesus ingatlah akan aku." Tidak bisa lagi kita merasa tegak berdiri karena segala perbuatan kita. Kita bersyukur janji firman-Nya bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dicatat dalam kitab kehidupan.
Ketiga, maka bagaimana saat ini? Kiranya kesadaran akan penghakiman terakhir ini membuat saya tidak menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah saya terima. Apa yang saya hidupi saat ini bukan lagi untuk mencari pembenaran atau pengakuan Tuhan dan sesama. Tetapi hanya meresponi anugerah Allah, yang mengerjakan pengudusan-Nya untuk memakai saya di dalam kehidupan ini. Dan sikap iman yang ada bukan seakan-akan saya merasa "lebih tinggi" dari orang-orang yang tidak percaya, tetapi hanya kerendahan hati bahwa semua karena anugerah, dan saya merindukan orang lain mengalami anugerah Allah juga.
Kiranya Tuhan menguatkan dan menolong saya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar