Selasa, Desember 20, 2022

Tuhan, Gembala yang Baik

 

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Mazmur 23:1

 

Tuhan adalah Gembalaku, sebuah mazmur yang indah dan menyatakan begitu dekatnya relasi Tuhan dengan umat-Nya, seperti yang dialami pemazmur. Bukan hanya menyatakan relasi yang dekat, namun juga memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan adalah segala-segalanya bagi hidup kita. Sama seperti domba tidak bisa hidup tanpa gembalanya, demikian hidup kita bergantung kepada Tuhan. Dia “menuntun pada padang rumput hijau dan air yang tenang”, Tuhan memenuhi kebutuhan kita. Tuhan menuntun kita di jalan yang benar, Dia tidak pernah bermaksud jahat dan sengaja menyesatkan kita. Bahkan bukan hanya kebutuhan fisik, Tuhan juga menyegarkan jiwa kita. Tuhan adalah Gembala yang memimpin hidupku, dan aku tidak akan kekurangan.

 

Jika Tuhan adalah Gembala yang baik, sandaran sepenuhnya hidup kita, maka pertanyaannya: MAUKAH kita digembalakan oleh Tuhan?” Tentu saja jawaban kita adalah “Ya, masakan tidak mau?” Tapi realitanya, memberi hidup untuk sepenuhnya dipimpin atau digembalakan oleh Tuhan tidaklah mudah.  Contohnya kehidupan Daud yang adalah penulis mazmur ini. Ada kalanya Daud benar-benar bersandar dan mencari pimpinan Tuhan. Dia bersandar pada kekuatan Tuhan ketika melawan Goliat. Ketika maju berperang, Alkitab mencatat Daud mencari pimpinan Tuhan. Ketika dikejar-kejar raja Saul, Daud belajar bersabar dan menahan tangannya untuk tidak membunuh raja Saul yang diurapi Tuhan. Daud bahkan disebut sebagai orang yang dekat dengan hati Tuhan. Namun kita juga melihat bahwa ada saat-saat Daud membiarkan dirinya justru “digembalakan” oleh yang lain yang bukan Tuhan. Misalnya dalam 2 Samuel 11-12, bagaimana dia jatuh dalam dosa karena hawa nafsunya dan berzinah dengan Batsyeba, mencoba menutupi dosanya, dan puncaknya bersiasat jahat dengan memakai tangan orang lain untuk membunuh Uria, suami Batsyeba. Ternyata memberi hidup untuk sepenuhnya dipimpin oleh Tuhan bukanlah hal mudah. Ada kalanya kita, sadar tidak sadar, malah memberi diri digembalakan oleh yang lain yang bukan Tuhan.  Bagaimana dengan hidup kita sendiri?

 

Puji Tuhan! Tuhan, Gembala yang Baik itu mencari dan tidak meninggalkan umat gembalaan-Nya. Mazmur 23:4 mengatakan: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Lembah kekelaman adalah sebuah situasi yang begitu gelap mencekam sehingga membuat kita menjadi kuatir dan takut. Kita bisa ada dalam situasi seperti dalam lembah kekelaman karena dua hal. Pertama, Tuhan mengizinkan kita berjalan dalam situasi kehidupan yang sulit, yang tidak nampak cahaya atau jalan keluar. Kedua, kita menjalani konsekuensi perbuatan jahat kita sendiri. Hal kedua ini yang pernah   dialami oleh Daud, yaitu ketika dia berbuat dosa dan harus menjalani konsekuensinya. Allah mengampuni dan tidak membiarkan Daud tetap dalam dosanya, tetapi Allah tidak melepaskan Daud dari konsekuensi dosanya. Keluarganya menjadi hancur, yang menimbulkan rasa malu dan penyesalan bagi Daud. Anak membunuh anak, anak melawan orang tua, anak melecehkan anak yang lain. Namun dalam kondisi seperti itu, Daud berkata: “Tuhan, Engkau tidak meninggalkan aku, karena gada-Mu dan tongkat-Mu masih menarik aku untuk tetap dekat dengan Engkau, untuk tetap berjalan di dalam Engkau.” Tuhan bahkan masih mau “mengundang” Daud “untuk makan sehidangan dengan-Nya”. Dalam situasi lembah kekelaman, di mana kita bisa berpikir bahwa semuanya sudah selesai, habis ‘dah hidupku, hancur ‘deh, tapi ternyata Tuhan tidak membiarkan, bahkan mau memulihkan kita. Apakah kita pernah mengalaminya?  Jika kita berada dalam situasi seperti itu saat ini, masihkah kita menaruh harapan pada Tuhan, Gembala kita?

 

Jika Tuhan itu Gembala kita yang baik dan kita mau digembalakan oleh-Nya, tetapi kita sadar bahwa betapa kita bisa semaunya sendiri dan tidak selalu mau memberi diri digembalakan oleh Tuhan, maka bagaimana kita digembalakan oleh Tuhan?

 

Pertama, maukah kita dekat Gembala kita dan mendengar suara-Nya? Yohanes 10:14-16 mengatakan bahwa Gembala yang baik mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal-Nya, dan mendengar suara-Nya. Ada relasi yang dekat antara Gembala dan domba-domba-Nya, ada pemberian diri dari sang gembala untuk melindungi dan menyelamatkan domba-dombanya. Itulah yang telah dinyatakan Tuhan Yesus kepada kita dengan menyelamatkan kita dari dosa. Keselamatan dari dosa bukan sekedar kita selamat, tetapi kita dijadikan milik Tuhan. Maka bagaimana mungkin kita tidak memberikan diri untuk digembalakan oleh Tuhan, Gembala yang baik? Bagaimana mungkin kita tidak belajar mendengar suara-Nya, dengan kata lain mendengar firman-Nya untuk sungguh-sungguh melakukannya?

 

Kedua, mari kita memberi diri ada dalam kumpulan umat Tuhan. Domba adalah binatang yang tidak bisa hidup sendirian di luar kumpulannya. Jika ada domba sedang sendirian, itu sebuah bahaya buat dia dan seharusnya dia menjadi kuatir, karena jangan-jangan dia sedang tersesat dan jauh dari gembalanya. Ada di mana kita sekarang? Kumpulan anak-anak Tuhan ‘kah? Ibrani 10:25 mengatakan: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Jangan kita menjauh dari perkumpulan umat Tuhan, gereja Tuhan, di zaman yang jahat dan penuh godaan dosa ini. Di dalam persekutuan anak-anak Tuhan, kita memiliki saudara-saudara seiman yang  saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menegur ketika ada yang jatuh dalam dosa atau mulai jauh dari Tuhan agar dibawa kembali kepada Tuhan.

 

Tuhan Gembala kita yang baik. Sudahkah kita mencoba memahami bagaimana cara Dia menggembalakan saya di tengah dunia ini untuk memberi diri dalam penggembalaan-Nya? Adakah kita memahami bahwa terkadang kita bisa menolak penggembalaan-Nya dan memilih gembala kita sendiri, bahkan ingin menggembalakan hidup kita sendiri? Maka doa Thomas Merton bisa menjadi doa kita kepada Sang Gembala:

 

Good Sheperd, You have a wild and crazy sheep in love with thorns and brambles.

But please don’t get tired of looking for me!

I know you won’t. For You have found me.

Minggu, Oktober 09, 2022

Penghakiman Takhta Putih

Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.

Wahyu 20:12, 15


Puncak dari penghakiman Allah, setelah iblis, antikristus dan nabi palsu yaitu mereka yang melawan Allah dihukum, maka tiba waktunya semua manusia menghadap takhta penghakiman Tuhan Yesus. 

Secara pribadi saya mencoba membayangkan bagian firman ini demikian:
Pertama, kitab kitab akan dibuka di hadapan Tuhan, semua manusia akan dihakimi menurut perbuatannya. Dan saya tidak bisa membayangkan bahwa semua perbuatan saya, baik atau jahat, tersembunyi atau tidak tersembunyi, akan terbuka di hadapan Tuhan. Ya, di dalamnya bisa jadi ada catatan bahwa saya jadi rohaniawan, melayani, dll dll. Tetapi apakah kemudian saya berani berkata kepada Tuhan, seperti dalam Matius 7:21-23 = "Tuhan, aku sudah berbuat ini itu, aku jadi pendeta demi Engkau dll dll." Saya kuatir Tuhan akan berkata: "Siapa kamu, Aku tidak kenal engkau. Enyahlah pembuat kejahatan." Karena kita menyadari sekali bagaimana mungkin hidup kita ini bisa dihitung benar hanya karena segala perbuatan kita. 

Kedua, tetapi barangsiapa yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan akan diselamatkan. Di sinilah yang namanya anugerah ditemukan. Bahwa bukan kita yang membuat Tuhan menuliskan nama kita di kitab kehidupan. Tetapi hanya karena iman di dalam Tuhan Yesus yang sudah mati dan bangkit menebus kita, menggantikan kita, dan menyelesaikan hukum dosa. Seakan karya Kristus Anak Domba itu menutupi melingkupi kita sehingga di bawah penghakiman Tuhan itu saya dihitungnya sebagai orang benar dan layak menerima kerajaan surga dan bukannya lautan api kekal. 
Maka dalam ingatan ini, saya teringat seruan penjahat di samping salib Yesus yang bertobat: "Yesus, ingatlah akan aku ketika Engkau datang sebagai Raja" (Lukas 23:42). Kita sama seperti dia, pantas menerima hukuman itu, tetapi ketika memandang salib Tuhan Yesus maka kita hanya bisa berseru, "Tuhan Yesus ingatlah akan aku." Tidak bisa lagi kita merasa tegak berdiri karena segala perbuatan kita. Kita bersyukur janji firman-Nya bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dicatat dalam kitab kehidupan. 

Ketiga, maka bagaimana saat ini? Kiranya kesadaran akan penghakiman terakhir ini membuat saya tidak menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah saya terima. Apa yang saya hidupi saat ini bukan lagi untuk mencari pembenaran atau pengakuan Tuhan dan sesama. Tetapi hanya meresponi anugerah Allah, yang mengerjakan pengudusan-Nya untuk memakai saya di  dalam kehidupan ini. Dan sikap iman yang ada bukan seakan-akan saya merasa "lebih tinggi" dari orang-orang yang tidak percaya, tetapi hanya kerendahan hati bahwa semua karena anugerah, dan saya merindukan orang lain mengalami anugerah Allah juga.  

Kiranya Tuhan menguatkan dan menolong saya. Amin.