Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku,
apabila Engkau datang sebagai Raja."
(Lukas 23:42)
Bacaan Alkitab: Lukas 23:32-43
Berbicara tentang finishing well, maka saya teringat seorang tokoh dalam Alkitab yang uniknya sepanjang hidupnya dia terlihat akan end dengan not well, tetapi di detik detik akhir hidupnya dia end well. Dia adalah salah satu penjahat di samping salib Tuhan Yesus*. Hukuman salib membuat orang ini disebut sebagai seorang penjahat, bahkan dia sendiri mengakui dirinya layak menerima hukuman itu. Tetapi di saat akhir hidupnya itu dia menerima Tuhan Yesus dan menyerahkan diri kepada-Nya. Katanya: “Yesus, ingatlah aku ... “. Tuhan Yesus berkata bukan nanti di akhir zaman tapi “Saat ini juga engkau bersama Aku di Firdaus.” Woow, sebuah turning point hidup yang begitu radikal dan mengejutkan tak dinyana. Sekaligus sebuah pemikiran buat saya, lalu apa artinya finishing well? Mengapa orang ini yang mengaku dirinya sebagai seorang yang layak dihukum, tetapi dia dihitung finishing well bahkan ketika dia tidak dapat lagi berbuat apa-apa dalam hidupnya? Tidak ada lagi perbuatan baik atau pelayanan bagi Tuhan yang dapat dia lakukan setelah pertobatannya karena dia mati di kayu salib tersebut. Ironi bukan!? Ada orang yang begitu nampak well dalam sepanjang hidupnya tetapi dihitung Allah sebagai “pembuat kejahatan” pada ujungnya, sebaliknya ada yang dihitung sebagai penjahat seumur hidupnya namun dibenarkan Allah pada ujung hidupnya.
Hal pertama yang langsung saya dapatkan dari firman Tuhan ini adalah finishing well itu adalah “hak prerogatif” Tuhan Yesus. Sama seperti dalam edisi ke-1 sebelumnya yang menyebutkan bahwa ada banyak orang bahkan pelayan Tuhan terhitung sebagai seorang yang melayani dengan luar biasa bahkan bisa membanggakan pelayanannya dan kedekatan kehidupannya di hadapan Tuhan Yesus, tetapi justru dihitung sebagai orang yang tak dikenal Tuhan Yesus. Memang manusia bisa menilai diri sendiri dan orang lain tentang sebuah keberhasilan atau finishing well ini. Sehingga tidak jarang saya mendengar seorang pendeta emeritus berkata bahwa dirinya sudah finishing well dan menjadikan dirinya teladan untuk yang muda. Ya, tidak salah ‘sih penilaian itu. Bagaimanapun juga bisa setia menyelesaikan sebuah tanggung jawab adalah sebuah hal yang patut dipuji dan diberikan penghormatan. Tetapi ketika saya memikirkan ulang arti finishing well di hadapan Allah maka saya menjadi ngeri ketika mengaitkan terminologi ini dengan diri saya sendiri karena ternyata di hadapan Allah bisa terjadi banyak kejutan. Seakan kriteria dunia dan kriteria kita menjadi suram dan lenyap di hadapan Tuhan. Lha para pembuat mujizat demi Nama Yesus saja disebut-Nya pembuat kejahatan?
Hal kedua adalah ketika melihat kisah penjahat di samping salib Tuhan Yesus ini maka bisa jadi beberapa orang akan berkata: “Nggak fair banget Tuhan Yesus ini, masakan orang tinggal nunggu mati begitu kemudian dihitung sebagai finishing well?” Tetapi ketika kita berkata atau berpikir demikian maka di sanalah kita menyadari ada satu aspek yang tidak bisa dilepaskan dari finishing well, yaitu kasih karunia. Apa itu kasih karunia? Bahasa Inggris menggunakan kata “grace” yang ternyata banyak sekali digunakan dalam berbagai kesempatan dengan padanan kata yang kaya sekali. Tetapi kasih karunia secara sederhana bisa diartikan pemberian Allah kepada kita, manusia berdosa, yang sebenarnya tidak layak kita terima, bahkan sebenarnya tidak ada keharusan bagi Allah untuk memberikannya kepada kita. Jadi kalau Allah mau memberikannya maka itu semata karena Diri-Nya dan bukan ada faktor lain yang memaksa Allah apalagi dari sang penerima kasih karunia.
Hal ketiga adalah jangan lupakan Tuhan Yesus yang tersalib. Kasih karunia Allah memang diberikan gratis tetapi bukan berarti murahan. Ketika kita bicara tentang kasih karunia Allah maka tidak bisa dilepaskan dari karya Tuhan Yesus bagi kita yang kita terima dalam iman kepada-Nya. Percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dalam dunia, Dia tidak berdosa dan memenuhi semua kegenapan hukum Allah dengan sempurna, karena itu Dia layak untuk menjadi kurban penebus dosa manusia. Di atas kayu salib itulah semua kutuk dosa ditumpahkan ke atas-Nya tetapi Dia memenangkannya karena Dia mati tetapi bangkit dari kematian. Ketika kita, manusia berdosa ini, percaya dan menerima karya Kristus maka apa yang telah Kristus kerjakan itu dipertalikan kepada kita, sehingga ketika Allah melihat kita maka Dia melihat Kristus yang ada di dalam kita. Itulah sebabnya kita dibenarkan di hadapan Allah, karena Kristus dan bukan kita. Sehingga Paulus pernah berkata: aku telah mati karena dosa tetapi aku hidup dan hidupku sekarang ini bukan lagi aku tetapi Kristus yang hidup dalam aku (Galatia 2:20).
Maka sekarang mari kita pikirkan: kalau sebenarnya hidup kita dibenarkan di hadapan Allah karena Kristus yang kita imani, Kristus yang telah menggenapkan semuanya, dan kalau finishing well di hadapan Allah bisa kita cerminkan dari akhir kehidupan sang penjahat yang bertobat itu. Maka, apakah kita berani menilai bahwa hidup kita masih lebih baik dari sang penjahat itu, karena kita masih bisa melayani Tuhan, kita masih bisa berbuat baik, atau kita masih bisa jadi berkat? Sedangkan kita masih terkejut ketika membaca para pelayan yang luar biasa itu dikatakan-Nya sebagai pembuat kejahatan (terus terang saya terus tergetar ketika membaca ayat ini, jangan-jangan itu saya nanti). Apa yang bisa kita banggakan dalam hidup ini di hadapan Tuhan kalau Kristus sudah menggenapkan dan menyelesaikan semuanya bagi kita? Maka di hadapan-Nya bagaimana kita harus berkata: (1) “Tuhan Yesus, ingatlah akan aku”, atau (2) “Tuhan, bukankah kami sudah berbuat ini itu demi Nama-Mu?” Apakah jawabmu???
Ketika kita sudah menjawab maka mungkin pikiran kita masih tergelitik dengan satu pertanyaan: lalu apa artinya hidup? Apa artinya percaya Kristus dan menghidupi kehidupan kita di dalam Dia kalau seakan kita tidak berani membanggakan pelayanan dan hal-hal baik yang kita lakukan dengan tulus bagi Kristus? Tulus loh, bukan cari keuntungan atau mau menyombongkan. It is not finished yet ...
*note: Alkitab tidak menyebut penjahat yang bertobat ini ada di sebelah kiri atau kanan salib Tuhan Yesus. Bahkan namanya tidak disebut menunjukkan benar-benar hidupnya hanya karena kasih karunia Allah. Dia diingat Yesus dan Roh Kudus menuntun Lukas menuliskan pertobatannya (sedangkan 2 Injil lain tidak).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar