Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Matius 7:21-23
Bacaan Alkitab: Matius 7:21-23; Lukas 13:26-27; 2 Timotius 4:7; 1 Korintus 9:25-27
Finishing
well, sebuah tema yang harus
dipikirkan kembali pada hari-hari ini.
Mengapa? Biasanya ketika kita
membicarakan tema ini maka selalu muncul dua macam tokoh. Pertama adalah tokoh
yang terlihat sangat setia dan berhasil dalam kehidupan pelayanannya sampai
akhir hidupnya. Kedua adalah tokoh yang “not finished well”. Awalnya baik dan
luar biasa tetapi sampai pada satu titik dia jatuh dan justru meninggalkan
sebuah teladan sebagai batu sandungan. Walau sebenarnya di dalam Tuhan Yesus
selalu tersedia kesempatan untuk bertobat dan membangun kembali walau dari
awal. Jadi sebenarnya “it is not the end yet”.
Tetapi ternyata ada contoh ketiga. Apa
itu? Seorang yang nampaknya finishing
well, tetapi ternyata ketahuan tidak seperti itu sebenarnya. Ya, jika kita
mengingat pada akhir tahun 2020 lalu ketika seorang tokoh Kristen besar, “a
famous apologist,” yang ketika berpulang begitu luar biasa diantar lautan
manusia tetapi beberapa bulan kemudian malah ditinggalkan perlahan demi
perlahan. Apa yang terjadi? Ternyata dia dinyana memiliki yang namanya “double
life” (kehidupan ganda) yang sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip
iman Kristen yang dia ajarkan dalam kehidupannya.
Lalu bagaimana ini?
Maka kita harus memikirkan kembali apa itu artinya finishing well? Apa itu artinya kita mengakhiri kehidupan kita dengan baik, menyelesaikan pelayanan kita dengan baik? Siapakah yang berhak menentukan itu pada akhirnya, karena ‘toh ketika manusia berkata bahwa si apologist itu telah finishing well, tetapi tetiba petir datang tak dinyana menunjukkan kita semua seakan tertipu. Memang terjadi pro-kontra, beberapa mengatakan itu konspirasi ingin menjatuhkan kekristenan dan nama besar organisasinya. Tetapi ada yang mengatakan bahwa itu benar terjadi karena bagaimana mungkin ada lembaga berani merancang-rancang sesuatu sejahat itu dan tidak takut ketahuan. Tetapi apapun itu, bagi saya, finishing well perlu kita pikirkan ulang.
Lagipula, kejadian ini membuat saya mengingat beberapa bagian firman Tuhan yang menunjukkan orang-orang yang begitu luar biasa melayani Tuhan semasa hidupnya tetapi ditolak di hadapan Tuhan Yesus. Misalnya dalam Matius 7:21-23 di mana Tuhan Yesus mengatakan bahwa pada akhir zaman akan ada banyak orang yang berdiri di hadapan-Nya sambil berkata: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Rasanya ayat ini merujuk kepada para pelayan Tuhan, para hamba-hamba Tuhan, yang nampaknya luar biasa melayani dan dipakai Allah. Tetapi jawaban Tuhan Yesus mengejutkan: “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Mereka melayani demi Nama Tuhan Yesus, mereka kelihatan begitu luar biasa bagi Tuhan Yesus, orang-orang mengenal mereka sebagai pelayan Tuhan yang luar biasa, maka bagaimana mungkin Tuhan Yesus tidak mengenal mereka? Mereka ini nampak finishing well di hadapan manusia tetapi mengapa di hadapan Tuhan Yesus malah dianggap pembuat kejahatan. Ironi banget ‘kan, kontradiktif banget ‘kan!
Ayat lain yang senada misalnya dalam Lukas 13:26-27 yang menyatakan bahwa pada akhir zaman nanti banyak orang akan datang mendekat dan berseru kepada Tuhan: “Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.” Mereka adalah orang-orang yang begitu dekat dengan Tuhan Yesus, mendengarkan ajaran Tuhan, melayani bersama. Tetapi Tuhan Yesus kembali mengatakan hal yang sama: “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” Orang-orang yang begitu dekat, bahkan akrab sekali dengan Tuhan, dan selalu bertemu Tuhan bahkan dikunjungi Tuhan tetapi justru pada hari akhir akan ditolak Tuhan bahkan tidak dikenal-Nya?
Lalu bagaimana? Untuk edisi pertama ini saya
mengambil peringatan dari rasul Paulus yang luar biasa itu, yang darinya kita
mendapatkan ungkapan “finishing well” ini.
Yaitu ketika dia berkata dalam 2 Timotius 4:7 = “Aku telah mengakhiri
pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara
iman.” Tetapi dalam suratnya yang lain, rasul Paulus mengingatkan kita akan
pergulatan iman dan pelayanannya. Dia berkata dalam 1 Korintus 9:27, yaitu “supaya
sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Entah
ini bisa berarti Paulus menjadi batu sandungan bagi Injil yang dia beritakan
atau benar-benar nantinya ditolak di hadapan Allah. Tetapi jika merujuk kepada
ayat 25 bahwa fokusnya tertuju kepada mahkota abadi maka bisa jadi artinya adalah
“jangan sampai aku sendiri ditolak di hadapan Tuhan.” Peringatan Paulus ini menunjukkan
bahwa ternyata seseorang bisa begitu luar biasa melayani Tuhan dan mengabarkan
Injil sehingga Injil Tuhan Yesus diterima di mana-mana, tetapi ironinya sang
pemberitanya sendiri ditolak. Oleh karena itu dalam kesadarannya Paulus berkata
bahwa “aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan
saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya.” Betapa
bahayanya, kita dapat menggunakan segala kemampuan kehebatan pribadi kita untuk
melakukan pelayanan begitu rupa tapi ternyata sama sekali tidak dikenal dan
tidak diperkenan Tuhan. Hasilnya kelihatan begitu baik, tetapi ironinya diri
kita sendiri ditolak. Beritanya benar dan baik dan diterima, tetapi sang
pemberitanya sendiri ditolak. Bisa terjadi seperti itu dan firman Tuhan memperingatkan
kita akan hal itu. Oleh karena itu, seperti kata Paulus, apakah kita aware dengan keberadaan diri kita di
hadapan Allah ketika melayani Dia dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya
sekedar digerakkan oleh ambisi dan hawa nafsu pribadi kita, dibuai dengan
pengakuan-pengakuan manusia, ditipu atau menipu dengan ungkapan-ungkapan ini pelayanan
bagi Tuhan, atau kita dengan sadar menyadari diri kita di hadapan Allah? Untuk
itu kita perlu melanjutkan ke edisi kedua ... it is not finished yet.