“Ketika
orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih,
sebab
banyak hartanya.”
Matius
19:22
Bacaan Alkitab = Matius
19:16-26
Membaca bagian firman Tuhan ini timbul beberapa pertanyaan dalam pikiran kita. Salah satunya adalah apakah Tuhan Yesus begitu jahat sampai-sampai menyuruh orang muda itu untuk menjual seluruh kekayaannya dan memberikannya kepada orang miskin? Apakah Tuhan tidak suka dengan orang kaya? Tentu jawabannya adalah “Tidak.” Lalu, mengapa Tuhan Yesus meminta demikian? Alasannya adalah Tuhan Yesus ingin menyadarkan dia akan hidupnya yang telah menjadikan harta kekayaan sebagai tuhan. Demikian juga bisa terjadi dalam kehidupan orang percaya yang tanpa disadari menjadikan kekayaan sebagai tuhannya. Mengapa ini bisa terjadi? Salah satu alasannya adalah salah mengerti tentang percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti kita menyerahkan kehidupan kita seutuhnya kepada-Nya dan bukan sekedar untuk mendapatkan surga (kehidupan kekal). Maka dalam hidup kita setiap harinya kita belajar bersandar kepada-Nya. Masalahnya ada beberapa orang Kristen mengaku percaya Tuhan Yesus tetapi masih menjadikan harta kekayaannya sebagai sandaran hidupnya. Ini yang Tuhan Yesus ingin peringatkan dalam kehidupan kita.
Mengapa Tuhan tidak ingin orang percaya menjadikan harta kekayaan sebagai tuhannya?
Pertama, kita
bisa salah menempatkan posisi diri kita, harta, dan Tuhan. Tuhan adalah Pencipta,
kita adalah ciptaan, harta adalah alat yang seharusnya kita kuasai dan pakai dengan bertanggung jawab.
Tetapi ketika harta menjadi tuhan kita maka dia berada di atas kita sedangkan
Tuhan bisa-bisa kita jadikan ‘pembantu’ untuk mendapatkan harta
sebanyak-banyaknya. Bukankah sering dalam kehidupan orang Kristen, mereka
berdoa, rajin ke gereja, rajin memberikan persembahan/persepuluhan, dan rajin
bersaat teduh hanya agar Tuhan memenuhi keinginannya untuk kaya dan sukses? Bahkan
terkadang orang Kristen mencari resep dan cara agar Tuhan membuat pekerjaannya
sukses dan dia menjadi kaya. Tuhan hanya menjadi “alat” untuk mendapatkan
kekayaan dan bukan menjadi Tuhannya. Kata seorang Pendeta, Tuhan seperti mesin ATM di mana yang kita butuhkan adalah PIN yang tepat sehingga mesin itu bisa bekerja sesuai harapan kita.
Kedua, kita bisa kecanduan harta. Orang yang kecanduan harta tidak akan pernah merasa cukup atau merasa puas dengan hartanya. Makin dia mendapatkan banyak harta maka makin dia merasa belum cukup. Mengapa? Karena dia salah meletakkan hidupnya pada harta yang adalah benda mati. Seharusnya sebagai manusia, hidupnya diletakkan di dalam Tuhan yang adalah Penciptanya. Meletakkan hidup kita pada hal lain selain Tuhan hanya akan mendatangkan rasa ketidakcukupan dan ketidaktenangan dalam hidup kita. Untuk hal ini, kita perlu mengingat perkataan dari Blaise Pascal = "There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus."
Ketiga, mentuhankan harta
kekayaan menjadikan
kita bisa nekad untuk mengabaikan Tuhan dan melakukan apapun (bahkan yang
dilarang Tuhan) demi mendapatkan kekayaan. Sering kita mendengar bagaimana
seorang Kristen meninggalkan imannya demi kekayaan atau bermain-main dengan
kuasa gelap demi kekayaan. Atau ketika dia telah mendapatkan kekayaan maka
lambat laun Tuhan mulai dilupakan dalam hidupnya.
Bagaimana sebagai orang percaya kita belajar untuk sungguh-sungguh meletakkan hidup kita kepada Tuhan dan dihindarkan dari mentuhankan kekayaan?
*Mari kita menguji diri apakah kita adalah seorang yang bisa tergoda bahkan mudah jatuh dalam menyandarkan hidup pada kekayaan? Kalau “ya,” maka mari kita jangan menjauh dari Tuhan tetapi dengan kerendahan hati kita mengakuinya dan meminta pengampunan serta pertolongan kepada Tuhan. Orang muda itu seharusnya menyadari akan keberadaan dirinya dan kemudian mengakuinya bahwa dia tidak mampu melakukan permintaan Tuhan Yesus itu karena cintanya akan harta dan meminta pengampunan Tuhan. Celakanya dia malah lari dari hadapan Tuhan Yesus. Ini masalah hati, apakah kita mau jujur ketika Allah menyelidiki dan menyatakannya kepada kita?
*Mari
kita belajar bersyukur dan menjadi berkat lewat harta kekayaan kita. Setialah
memberikan persembahan/persepuluhan dengan sukacita dan hati yang penuh syukur
karena pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Jangan kita hitung-hitungan dengan
Tuhan. Mari kita juga belajar menjadi saluran berkat-Nya lewat harta yang kita
miliki. Selain itu, mari kita memakai harta yang Tuhan berikan kepada kita
dengan penuh tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Kita hanyalah
‘manajer’ (pengelola) dari harta itu, sedangkan Tuhanlah Pemiliknya. Kita bukan memakainya dengan penuh hawa nafsu hanya
untuk memenuhi keinginan kita, mendapatkan harga diri kita, apalagi
menjadikannya kesombongan di hadapan orang lain.
Kiranya
Tuhan Yesus menolong kita untuk belajar berserah kepada-Nya dan bukan kepada
harta kekayaan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar