Sabtu, Februari 20, 2021

Orang Muda yang Kaya: Ini Masalah Hati, Jujurlah

 

“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih,

sebab banyak hartanya.”

Matius 19:22

 

 

Bacaan Alkitab = Matius 19:16-26

 

Membaca bagian firman Tuhan ini timbul beberapa pertanyaan dalam pikiran kita. Salah satunya adalah apakah Tuhan Yesus begitu jahat sampai-sampai menyuruh orang muda itu untuk menjual seluruh kekayaannya dan memberikannya kepada orang miskin? Apakah Tuhan tidak suka dengan orang kaya? Tentu jawabannya adalah “Tidak.” Lalu, mengapa Tuhan Yesus meminta demikian? Alasannya adalah Tuhan Yesus ingin menyadarkan dia akan hidupnya yang telah menjadikan harta kekayaan sebagai tuhan. Demikian juga bisa terjadi dalam kehidupan orang percaya yang tanpa disadari menjadikan kekayaan sebagai tuhannya. Mengapa ini bisa terjadi? Salah satu alasannya adalah salah mengerti tentang percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti kita menyerahkan kehidupan kita seutuhnya kepada-Nya dan bukan sekedar untuk mendapatkan surga (kehidupan kekal). Maka dalam hidup kita setiap harinya kita belajar bersandar kepada-Nya. Masalahnya ada beberapa orang Kristen mengaku percaya Tuhan Yesus tetapi masih menjadikan harta kekayaannya sebagai sandaran hidupnya. Ini yang Tuhan Yesus ingin peringatkan dalam kehidupan kita.

 

Mengapa Tuhan tidak ingin orang percaya menjadikan harta kekayaan sebagai tuhannya?       

Pertama, kita bisa salah menempatkan posisi diri kita, harta, dan Tuhan. Tuhan adalah Pencipta, kita adalah ciptaan, harta adalah alat yang seharusnya kita kuasai dan pakai dengan bertanggung jawab. Tetapi ketika harta menjadi tuhan kita maka dia berada di atas kita sedangkan Tuhan bisa-bisa kita jadikan ‘pembantu’ untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Bukankah sering dalam kehidupan orang Kristen, mereka berdoa, rajin ke gereja, rajin memberikan persembahan/persepuluhan, dan rajin bersaat teduh hanya agar Tuhan memenuhi keinginannya untuk kaya dan sukses? Bahkan terkadang orang Kristen mencari resep dan cara agar Tuhan membuat pekerjaannya sukses dan dia menjadi kaya. Tuhan hanya menjadi “alat” untuk mendapatkan kekayaan dan bukan menjadi Tuhannya. Kata seorang Pendeta, Tuhan seperti mesin ATM di mana yang kita butuhkan adalah PIN yang tepat sehingga mesin itu bisa bekerja sesuai harapan kita. 

 

Kedua, kita bisa kecanduan harta. Orang yang kecanduan harta tidak akan pernah merasa cukup atau merasa puas dengan hartanya. Makin dia mendapatkan banyak harta maka makin dia merasa belum cukup. Mengapa? Karena dia salah meletakkan hidupnya pada harta yang adalah benda mati. Seharusnya sebagai manusia, hidupnya diletakkan di dalam Tuhan yang adalah Penciptanya. Meletakkan hidup kita pada hal lain selain Tuhan hanya akan mendatangkan rasa ketidakcukupan dan ketidaktenangan dalam hidup kita. Untuk hal ini, kita perlu mengingat perkataan dari Blaise Pascal "There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus."

 

Ketiga, mentuhankan harta kekayaan menjadikan kita bisa nekad untuk mengabaikan Tuhan dan melakukan apapun (bahkan yang dilarang Tuhan) demi mendapatkan kekayaan. Sering kita mendengar bagaimana seorang Kristen meninggalkan imannya demi kekayaan atau bermain-main dengan kuasa gelap demi kekayaan. Atau ketika dia telah mendapatkan kekayaan maka lambat laun Tuhan mulai dilupakan dalam hidupnya.

 

Bagaimana sebagai orang percaya kita belajar untuk sungguh-sungguh meletakkan hidup kita kepada Tuhan dan dihindarkan dari mentuhankan kekayaan?

*Mari kita menguji diri apakah kita adalah seorang yang bisa tergoda bahkan mudah jatuh dalam menyandarkan hidup pada kekayaan? Kalau “ya,” maka mari kita jangan menjauh dari Tuhan tetapi dengan kerendahan hati kita mengakuinya dan meminta pengampunan serta pertolongan kepada Tuhan. Orang muda itu seharusnya menyadari akan keberadaan dirinya dan kemudian mengakuinya bahwa dia tidak mampu melakukan permintaan Tuhan Yesus itu karena cintanya akan harta dan meminta pengampunan Tuhan. Celakanya dia malah lari dari hadapan Tuhan Yesus. Ini masalah hati, apakah kita mau jujur ketika Allah menyelidiki dan menyatakannya kepada kita?

*Mari kita belajar bersyukur dan menjadi berkat lewat harta kekayaan kita. Setialah memberikan persembahan/persepuluhan dengan sukacita dan hati yang penuh syukur karena pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Jangan kita hitung-hitungan dengan Tuhan. Mari kita juga belajar menjadi saluran berkat-Nya lewat harta yang kita miliki. Selain itu, mari kita memakai harta yang Tuhan berikan kepada kita dengan penuh tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Kita hanyalah ‘manajer’ (pengelola) dari harta itu, sedangkan Tuhanlah Pemiliknya. Kita bukan memakainya dengan penuh hawa nafsu hanya untuk memenuhi keinginan kita, mendapatkan harga diri kita, apalagi menjadikannya kesombongan di hadapan orang lain.

 

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk belajar berserah kepada-Nya dan bukan kepada harta kekayaan kita.

 

 

 

 

Eben-Haezer: Sampai Di Sini Tuhan Menolong Kita

 

“Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: 

"Sampai di sini TUHAN menolong kita."

1 Samuel 7:12

 

 

Bacaan Alkitab = 1 Samuel 7:2-14

 

Terkadang Allah mengijinkan kita untuk kemudian menolong kita dalam menghadapi situasi yang sulit dan menjepit, sehingga seakan tidak ada yang bisa kita andalkan selain Tuhan saja, untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan bukan cuma dicari kalau lagi susah saja. Tapi Tuhan adalah segalanya yang seharusnya menjadi Pemimpin kehidupan kita.

Itulah yang ingin diingatkan Tuhan lewat peristiwa yang disebut Eben-Haezer, sampai di sini Tuhan menolong kita.

Saat itu Samuel mengumpulkan bangsa Israel di Mizpa untuk mengadakan ibadah pertobatan massal bagi Israel. Ditengah berkumpul itu Israel tiba-tiba diserang orang Filistin. Jadi saat itu orang-orang Israel benar-benar dalam kondisi tidak siap berperang, mereka terjepit kemudian ketakutan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Maka berserulah mereka kepada Samuel, "Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu."  Disebutkan pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka semua. Sekali lagi Tuhan Allah menolong umat-Nya.

Tuhan ingin mengingatkan Israel agar jangan melupakan Dia, jangan cuma mencari Dia kalau lagi sulit saja seperti yang biasa mereka lakukan, tapi hendaknya mereka mau hidup dalam pimpinan Tuhan. Sudah bukan rahasia lagi, kalau kita melihat kitab Hakim-Hakim, bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang suka “tomat” alias tobat-kumat. Kalau nyaman hidupnya maka secepat itu mereka melupakan Tuhan, ketika kemudian Tuhan mengijinkan bangsa-bangsa lain mempersulit mereka maka secepat itu juga mereka berseru dan meminta pertolongan Allah. Dan begitulah dua hal itu berulang dan berulang.

Demikian juga yang diingatkan kepada kita...

Terkadang  tanpa kita sadari, Tuhan hanya kita cari kalau dalam kesulitan saja, itupun supaya kita dibantu untuk  dilepaskan dari kesulitan itu. Maka biasanya ketika situasi mulai nyaman dan membaik, apalagi kita merasa sudah cukup kuat, maka dengan cepat kita mengabaikan Tuhan. Nanti ingat Tuhan lagi kalau ada kesulitan yang kita hadapi dan kita sudah menyerah mengatasinya.

Maka di dalam kemurahan-Nya, ketika kita dituntun Tuhan melewati kesulitan kehidupan maka biarlah kita tidak kemudian berkata, “Sampai disini aja ya Tuhan, thank you sudah menolong, sekarang aku sudah bisa sendiri, nanti kalau ada kesulitan kita akan ketemu lagi.” Dan kemudian kita berjalan meninggalkan Dia.   

Tetapi ketika kita menyadari bahwa  Eben-Haezer, kalau sampai saat ini Tuhan yang menyertai dan menolong kita maka mari kita belajar seperti Musa dalam Keluaran 33:15 yang berkata kepada Tuhan, "Jika Engkau sendiri, TUHAN, tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Sampai sejauh ini, sampai di saat ini, adakah kita melihat Eben-Haezer itu? Jika ya, maka kiranya doa Musa adalah juga menjadi doa kita untuk menjalani hari-hari kita ke depan. “Kami tidak mau berjalan sendiri, kami mau belajar berjalan bersama-Mu, dipimpin oleh-MU, Tuhan.” Dan kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin.