... yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
1 Timotius 6:5-6
Bacaan Alkitab: 1 Timotius 6:2b-10
Ibadah itu membawa keuntungan!? Ya, benar, jangan diragukan! Tapi keuntungannya apa?
Nah, dalam hal inilah Paulus mengingatkan kita tentang para pengajar palsu yang berpikir ibadah adalah sebagai suatu sumber keuntungan, maksudnya untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Oleh karena itu mereka dikenal sebagai orang yang sibuk berebut pengaruh dengan mencari soal dan bersilat lidah yang akhirnya menimbulkan dengki, fitnah, dan cekcok di antara jemaat Tuhan, terutama orang-orang yang mudah dipengaruhi, yang tidak lagi berpikir sehat dan sudah jauh dari kebenaran. Mereka menunggangi kebenaran untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Jangan kita menjadi seperti mereka dan jangan kita terjebak ke dalam spirit mereka.
Memang Paulus mengatakan bahwa ibadah itu akan memberi keuntungan besar asalkan disertai rasa cukup. Rasa cukup akan apa? Nah, disinilah kita jangan cepat menyimpulkan bahwa keuntungan itu adalah uang atau materi semata, atau keuntungan pribadi seperti yang dicari para pengajar palsu itu. Karena Paulus langsung melanjutkan dan mengunci kesimpulan tidak tepat itu dengan berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta akan uang; bukan “uang” tapi “cinta akan uang”. Cinta pada hal yang salah, cinta pada mamon yaitu pesaing Allah, akan membelenggu dan membawa kita pada kesusahan dan terus menarik kita untuk mengejarnya sampai-sampai kita rela menyiksa diri kita sendiri. Tanpa sadar kita akan kehilangan iman, kehilangan kebenaran, dan jatuh dalam kebinasaan. Jadi, rasa cukup yang ditaruh pada kepemilikkan materi, keuntungan pribadi, dan segala hal duniawi malah akan membawa seseorang berani mempergunakan ibadah demi diri sendiri dan bukan Tuhan, yang akhirnya dia malah kehilangan keuntungan dalam ibadah yang sebenarnya disediakan Allah.
Maka seharusnya bagaimana? Kata “ibadah” di dalam bagian firman Tuhan ini bukan semata berarti ibadah di Gereja, tetapi diartikan “godliness” (kesalehan) yang artinya kehidupan seseorang yang berjalan di jalannya Allah. Jadi ini tentang kehidupan bersama Tuhan di tengah-tengah kehidupan ini dan bukan cuma di Gereja saja. Maka, kembalikan cintamu pada Tuhan karena itulah dasar ibadah yang sejati. Letakkan hidupmu dalam Tuhan dan bukan yang lain. Kejarlah firman-Nya untuk taat dan menghidupinya. Cukuplah di dalam Kristus. Jangan sebaliknya kita malah mempergunakan Kristus dan Gereja untuk mendapatkan keuntungan kita sendiri. Luar biasa jahat bukan mempergunakan sesuatu yang seharusnya dipersembahkan bagi Tuhan malah untuk diri sendiri.
Kalau bagi saya, pertanyaannya bisa dipersempit misalnya adakah yang saya kejar saat ini melalui semua ibadah dan pelayanan yang saya lakukan? Mungkin bukan uang yang saya cari, tapi bisa jadi nama baik, pengakuan, popularitas, dan celakanya iri hati seakan sudah membungkus erat semua itu. Ya, saya tahu itu tidak dibenarkan, tapi saya seakan ingin menawar untuk mendua hati. Bisakah? Tentu saja tidak bisa karena saya pasti akan lebih mencintai yang satu daripada yang lain, dan percayalah pasti mamon yang saya cintai dan bukan Tuhan. Percayalah!
Maka, cintailah Tuhan Yesus, berbaliklah pada-Nya dan hidupilah firman-Nya. Karena justru dengan cukup di dalam Dia maka kita mendapatkan keuntungan besar yaitu Tuhan Yesus sendiri yang adalah segala kepenuhan Allah yang sanggup mengisi "God's shaped vacuum" dalam hidup kita. Dan “lubang” inilah yang seakan mengatur segala rasa cukup dalam hidup kita. Ketika Tuhan sudah mengisi penuh “lubang” itu maka sebenarnya yang kita ingini hanya Tuhan saja. Bukan berarti kita tidak lagi mengalami “kehausan” dalam hidup ini, tetapi kita tahu ke mana kita berlari ketika mencari “kelegaan di dalam kehausan”?
Lalu bagaimana dengan hidup ini? Hidup ini akan kita bawa dibawah tuntunan firman Tuhan. Misalnya, apa standar kehidupan kita (baca: kemewahan kehidupan kita)? Bukan berarti kita tidak boleh punya barang mewah, karena saya sadar kadang hal itu kita miliki karena “keterpaksaan sosial atau pekerjaan atau status kita di tengah masyarakat atau sedikit rasa ingin icip-icip kita”. 1 Timotius 6:8 mengingatkan agar jangan hidup kita ditaruh pada hal-hal yang justru tidak kita bawa ketika datang dan pergi dari dunia ini nantinya. Asalkan ada makanan dan pakaian, cukuplah, begitu kata Paulus. Kita tahu bagaimana rasa cukup ketika menghidupi dan memiliki apa yang ada di dalam dunia ini karena rasa cukup yang sejati sudah kita berikan kepada Tuhan Yesus sendiri. Bukan malah Tuhan Yesus yang kita pakai untuk memenuhi rasa cukup kita di dalam segala hal yang ada di dunia ini. Ketika rasa cukup itu ada, maka apa yang kita miliki bisa kita persembahkan untuk dipakai bagi kemuliaan Allah dan menjadi berkat bagi sesama kita.
Memang, ibadah jika disertai dengan rasa cukup akan membawa keuntungan besar bagi kita. Maukah kita mengalaminya? Kiranya kasih Allah melingkupi dan menuntun kita kepada-Nya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar