Jumat, Mei 14, 2021

Finishing Well: Endingnya saja yang Well? (edisi 2)


Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, 

apabila Engkau datang sebagai Raja."

(Lukas 23:42)

 

 

Bacaan Alkitab: Lukas 23:32-43

 

Berbicara tentang finishing well, maka saya teringat seorang tokoh dalam Alkitab yang uniknya sepanjang hidupnya dia terlihat akan end dengan not well, tetapi di detik detik akhir hidupnya dia end well. Dia adalah salah satu penjahat di samping salib Tuhan Yesus*. Hukuman salib membuat orang ini disebut sebagai seorang penjahat, bahkan dia sendiri mengakui dirinya layak menerima hukuman itu. Tetapi di saat akhir hidupnya itu dia menerima Tuhan Yesus dan menyerahkan diri kepada-Nya. Katanya: “Yesus, ingatlah aku ... “. Tuhan Yesus berkata bukan nanti di akhir zaman tapi “Saat ini juga engkau bersama Aku di Firdaus.” Woow, sebuah turning point hidup yang begitu radikal dan mengejutkan tak dinyana. Sekaligus sebuah pemikiran buat saya, lalu apa artinya finishing well? Mengapa orang ini yang mengaku dirinya sebagai seorang yang layak dihukum, tetapi dia dihitung finishing well bahkan ketika dia tidak dapat lagi berbuat apa-apa dalam hidupnya? Tidak ada lagi perbuatan baik atau pelayanan bagi Tuhan yang dapat dia lakukan setelah pertobatannya karena dia mati di kayu salib tersebut.  Ironi bukan!? Ada orang yang begitu nampak well dalam sepanjang hidupnya tetapi dihitung Allah sebagai “pembuat kejahatan” pada ujungnya, sebaliknya ada yang dihitung sebagai penjahat seumur hidupnya  namun dibenarkan Allah pada ujung hidupnya.  

 

Hal pertama yang langsung saya dapatkan dari firman Tuhan ini adalah finishing well itu adalah “hak prerogatif”  Tuhan Yesus. Sama seperti dalam edisi ke-1 sebelumnya yang menyebutkan bahwa ada banyak orang bahkan pelayan Tuhan terhitung sebagai seorang yang melayani dengan luar biasa bahkan bisa membanggakan pelayanannya dan kedekatan kehidupannya di hadapan Tuhan Yesus, tetapi justru dihitung sebagai orang yang tak dikenal Tuhan Yesus. Memang manusia bisa menilai diri sendiri dan orang lain tentang sebuah keberhasilan atau finishing well ini. Sehingga tidak jarang saya mendengar seorang pendeta emeritus berkata bahwa dirinya sudah finishing well dan menjadikan dirinya teladan untuk yang muda. Ya, tidak salah ‘sih penilaian itu. Bagaimanapun juga bisa setia menyelesaikan sebuah tanggung jawab adalah sebuah hal yang patut dipuji dan diberikan penghormatan.  Tetapi ketika saya memikirkan ulang arti finishing well di hadapan Allah maka saya menjadi ngeri ketika mengaitkan terminologi ini dengan diri saya sendiri karena ternyata di hadapan Allah bisa terjadi banyak kejutan. Seakan kriteria dunia dan kriteria kita menjadi suram dan lenyap di hadapan Tuhan. Lha para pembuat mujizat demi Nama Yesus saja disebut-Nya pembuat kejahatan?

 

Hal kedua adalah ketika melihat kisah penjahat di samping salib Tuhan Yesus ini maka bisa jadi beberapa orang akan berkata: “Nggak fair banget Tuhan Yesus ini, masakan orang tinggal nunggu mati begitu kemudian dihitung sebagai finishing well?”  Tetapi ketika kita berkata atau berpikir demikian maka di sanalah kita menyadari ada satu aspek yang tidak bisa dilepaskan dari finishing well, yaitu kasih karunia. Apa itu kasih karunia? Bahasa Inggris menggunakan kata “grace” yang ternyata banyak sekali digunakan dalam berbagai kesempatan dengan padanan kata yang kaya sekali. Tetapi kasih karunia secara sederhana bisa diartikan pemberian Allah kepada kita, manusia berdosa, yang sebenarnya tidak layak kita terima, bahkan sebenarnya tidak ada keharusan bagi Allah untuk memberikannya kepada kita. Jadi kalau Allah mau memberikannya maka itu semata karena Diri-Nya dan bukan ada faktor lain yang memaksa Allah apalagi dari sang penerima kasih karunia.

Hal ketiga adalah jangan lupakan Tuhan Yesus yang tersalib. Kasih karunia Allah memang diberikan gratis tetapi  bukan berarti murahan. Ketika kita bicara tentang kasih karunia Allah maka tidak bisa dilepaskan dari karya Tuhan Yesus bagi kita yang kita terima dalam iman kepada-Nya. Percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dalam dunia, Dia tidak berdosa dan memenuhi semua kegenapan hukum Allah dengan sempurna, karena itu Dia layak untuk menjadi kurban penebus dosa manusia. Di atas kayu salib itulah semua kutuk dosa ditumpahkan ke atas-Nya tetapi Dia memenangkannya karena Dia mati tetapi bangkit dari kematian. Ketika kita, manusia berdosa ini, percaya dan menerima karya Kristus maka apa yang telah Kristus kerjakan itu dipertalikan kepada kita,  sehingga ketika Allah melihat kita maka Dia melihat Kristus yang ada di dalam kita. Itulah sebabnya kita dibenarkan di hadapan Allah, karena Kristus dan bukan kita.  Sehingga Paulus pernah berkata: aku telah mati karena dosa tetapi aku hidup dan hidupku sekarang ini bukan lagi aku tetapi Kristus yang hidup dalam aku (Galatia 2:20).

 

Maka sekarang mari kita pikirkan: kalau sebenarnya hidup kita dibenarkan di hadapan Allah karena Kristus yang kita imani, Kristus yang telah menggenapkan semuanya, dan kalau finishing well di hadapan Allah bisa kita cerminkan dari akhir kehidupan sang penjahat yang bertobat itu. Maka, apakah kita berani  menilai bahwa  hidup kita masih lebih baik dari sang penjahat itu, karena kita masih bisa melayani Tuhan, kita masih bisa berbuat baik, atau kita masih bisa jadi berkat? Sedangkan kita masih terkejut ketika membaca para pelayan yang luar  biasa itu  dikatakan-Nya sebagai pembuat kejahatan (terus terang saya terus tergetar ketika membaca ayat ini, jangan-jangan itu saya nanti). Apa yang bisa kita banggakan dalam hidup ini di hadapan Tuhan kalau Kristus sudah menggenapkan dan menyelesaikan semuanya bagi kita?  Maka di hadapan-Nya  bagaimana kita harus berkata: (1) “Tuhan Yesus, ingatlah akan aku”, atau (2) “Tuhan, bukankah kami sudah berbuat ini itu demi Nama-Mu?” Apakah jawabmu???

 

Ketika kita sudah menjawab maka mungkin pikiran kita masih tergelitik dengan satu pertanyaan: lalu apa artinya hidup? Apa artinya percaya Kristus dan menghidupi kehidupan kita di dalam Dia kalau seakan kita tidak berani membanggakan pelayanan dan hal-hal baik yang kita lakukan dengan tulus bagi Kristus? Tulus loh, bukan cari keuntungan atau mau menyombongkan. It is not finished yet ...

 

 

 

 

*note: Alkitab tidak menyebut penjahat yang bertobat ini ada  di sebelah kiri atau kanan salib Tuhan Yesus. Bahkan namanya tidak disebut menunjukkan benar-benar hidupnya hanya karena kasih karunia Allah. Dia diingat Yesus dan Roh Kudus menuntun Lukas menuliskan pertobatannya (sedangkan 2 Injil lain tidak). 

Rabu, April 14, 2021

Finishing Well??? (edisi 1)

 

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Matius 7:21-23



Bacaan Alkitab: Matius 7:21-23; Lukas 13:26-27; 2 Timotius 4:7; 1 Korintus 9:25-27

 

Finishing well, sebuah tema yang harus dipikirkan kembali pada hari-hari ini.

Mengapa? Biasanya ketika kita membicarakan tema ini maka selalu muncul dua macam tokoh. Pertama adalah tokoh yang terlihat sangat setia dan berhasil dalam kehidupan pelayanannya sampai akhir hidupnya. Kedua adalah tokoh yang “not finished well”. Awalnya baik dan luar biasa tetapi sampai pada satu titik dia jatuh dan justru meninggalkan sebuah teladan sebagai batu sandungan. Walau sebenarnya di dalam Tuhan Yesus selalu tersedia kesempatan untuk bertobat dan membangun kembali walau dari awal. Jadi sebenarnya “it is not the end yet”.

Tetapi ternyata ada contoh ketiga. Apa itu? Seorang yang nampaknya finishing well, tetapi ternyata ketahuan tidak seperti itu sebenarnya. Ya, jika kita mengingat pada akhir tahun 2020 lalu ketika seorang tokoh Kristen besar, “a famous apologist,” yang ketika berpulang begitu luar biasa diantar lautan manusia tetapi beberapa bulan kemudian malah ditinggalkan perlahan demi perlahan. Apa yang terjadi? Ternyata dia dinyana memiliki yang namanya “double life” (kehidupan ganda) yang sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip iman Kristen yang dia ajarkan dalam kehidupannya.

Lalu bagaimana ini?


Maka kita harus memikirkan kembali apa itu artinya finishing well? Apa itu artinya kita mengakhiri kehidupan kita dengan baik, menyelesaikan pelayanan kita dengan baik? Siapakah yang berhak menentukan itu pada akhirnya, karena ‘toh ketika manusia berkata bahwa si apologist itu telah finishing well, tetapi tetiba petir datang tak dinyana menunjukkan kita semua seakan tertipu. Memang terjadi pro-kontra, beberapa mengatakan itu konspirasi ingin menjatuhkan kekristenan dan nama besar organisasinya. Tetapi ada yang mengatakan bahwa itu benar terjadi karena bagaimana mungkin ada lembaga berani merancang-rancang sesuatu sejahat itu dan tidak takut ketahuan. Tetapi apapun itu, bagi saya, finishing well perlu kita pikirkan ulang.


Lagipula, kejadian ini membuat saya mengingat beberapa bagian firman Tuhan yang menunjukkan orang-orang yang begitu luar biasa melayani Tuhan semasa hidupnya tetapi ditolak di hadapan Tuhan Yesus.  Misalnya dalam Matius 7:21-23 di mana Tuhan Yesus mengatakan bahwa pada akhir zaman akan ada banyak orang yang berdiri di hadapan-Nya sambil berkata: “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?”  Rasanya ayat ini merujuk kepada para pelayan Tuhan, para hamba-hamba Tuhan, yang nampaknya luar biasa melayani dan dipakai Allah. Tetapi jawaban Tuhan Yesus mengejutkan: “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Mereka melayani demi Nama Tuhan Yesus, mereka kelihatan begitu luar biasa bagi Tuhan Yesus, orang-orang mengenal mereka sebagai pelayan Tuhan yang luar biasa, maka bagaimana mungkin Tuhan Yesus tidak mengenal mereka? Mereka ini nampak finishing well di hadapan manusia tetapi mengapa di hadapan Tuhan Yesus malah dianggap pembuat kejahatan. Ironi banget ‘kan, kontradiktif banget ‘kan!


Ayat lain yang senada misalnya dalam Lukas 13:26-27 yang menyatakan bahwa  pada akhir zaman nanti banyak orang akan datang mendekat dan berseru kepada Tuhan: “Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.” Mereka adalah orang-orang yang begitu dekat dengan Tuhan Yesus, mendengarkan ajaran Tuhan, melayani bersama. Tetapi Tuhan Yesus kembali mengatakan hal yang sama: “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” Orang-orang yang begitu dekat, bahkan akrab sekali dengan Tuhan, dan selalu bertemu Tuhan bahkan dikunjungi Tuhan tetapi justru pada hari akhir akan ditolak Tuhan bahkan tidak dikenal-Nya?


Lalu bagaimana? Untuk edisi pertama ini saya mengambil peringatan dari rasul Paulus yang luar biasa itu, yang darinya kita mendapatkan ungkapan  “finishing well” ini. Yaitu ketika dia berkata dalam 2 Timotius 4:7 = “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Tetapi dalam suratnya yang lain, rasul Paulus mengingatkan kita akan pergulatan iman dan pelayanannya. Dia berkata dalam 1 Korintus 9:27, yaitu “supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Entah ini bisa berarti Paulus menjadi batu sandungan bagi Injil yang dia beritakan atau benar-benar nantinya ditolak di hadapan Allah. Tetapi jika merujuk kepada ayat 25 bahwa fokusnya tertuju kepada mahkota abadi maka bisa jadi artinya adalah “jangan sampai aku sendiri ditolak di hadapan Tuhan.” Peringatan Paulus ini menunjukkan bahwa ternyata seseorang bisa begitu luar biasa melayani Tuhan dan mengabarkan Injil sehingga Injil Tuhan Yesus diterima di mana-mana, tetapi ironinya sang pemberitanya sendiri ditolak. Oleh karena itu dalam kesadarannya Paulus berkata bahwa “aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya.” Betapa bahayanya, kita dapat menggunakan segala kemampuan kehebatan pribadi kita untuk melakukan pelayanan begitu rupa tapi ternyata sama sekali tidak dikenal dan tidak diperkenan Tuhan. Hasilnya kelihatan begitu baik, tetapi ironinya diri kita sendiri ditolak. Beritanya benar dan baik dan diterima, tetapi sang pemberitanya sendiri ditolak. Bisa terjadi seperti itu dan firman Tuhan memperingatkan kita akan hal itu. Oleh karena itu, seperti kata Paulus, apakah kita aware dengan keberadaan diri kita di hadapan Allah ketika melayani Dia dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya sekedar digerakkan oleh ambisi dan hawa nafsu pribadi kita, dibuai dengan pengakuan-pengakuan manusia, ditipu atau menipu dengan ungkapan-ungkapan ini pelayanan bagi Tuhan, atau kita dengan sadar menyadari diri kita di hadapan Allah? Untuk itu kita perlu melanjutkan ke edisi kedua ... it is not finished yet.  

Sabtu, Februari 20, 2021

Orang Muda yang Kaya: Ini Masalah Hati, Jujurlah

 

“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih,

sebab banyak hartanya.”

Matius 19:22

 

 

Bacaan Alkitab = Matius 19:16-26

 

Membaca bagian firman Tuhan ini timbul beberapa pertanyaan dalam pikiran kita. Salah satunya adalah apakah Tuhan Yesus begitu jahat sampai-sampai menyuruh orang muda itu untuk menjual seluruh kekayaannya dan memberikannya kepada orang miskin? Apakah Tuhan tidak suka dengan orang kaya? Tentu jawabannya adalah “Tidak.” Lalu, mengapa Tuhan Yesus meminta demikian? Alasannya adalah Tuhan Yesus ingin menyadarkan dia akan hidupnya yang telah menjadikan harta kekayaan sebagai tuhan. Demikian juga bisa terjadi dalam kehidupan orang percaya yang tanpa disadari menjadikan kekayaan sebagai tuhannya. Mengapa ini bisa terjadi? Salah satu alasannya adalah salah mengerti tentang percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti kita menyerahkan kehidupan kita seutuhnya kepada-Nya dan bukan sekedar untuk mendapatkan surga (kehidupan kekal). Maka dalam hidup kita setiap harinya kita belajar bersandar kepada-Nya. Masalahnya ada beberapa orang Kristen mengaku percaya Tuhan Yesus tetapi masih menjadikan harta kekayaannya sebagai sandaran hidupnya. Ini yang Tuhan Yesus ingin peringatkan dalam kehidupan kita.

 

Mengapa Tuhan tidak ingin orang percaya menjadikan harta kekayaan sebagai tuhannya?       

Pertama, kita bisa salah menempatkan posisi diri kita, harta, dan Tuhan. Tuhan adalah Pencipta, kita adalah ciptaan, harta adalah alat yang seharusnya kita kuasai dan pakai dengan bertanggung jawab. Tetapi ketika harta menjadi tuhan kita maka dia berada di atas kita sedangkan Tuhan bisa-bisa kita jadikan ‘pembantu’ untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Bukankah sering dalam kehidupan orang Kristen, mereka berdoa, rajin ke gereja, rajin memberikan persembahan/persepuluhan, dan rajin bersaat teduh hanya agar Tuhan memenuhi keinginannya untuk kaya dan sukses? Bahkan terkadang orang Kristen mencari resep dan cara agar Tuhan membuat pekerjaannya sukses dan dia menjadi kaya. Tuhan hanya menjadi “alat” untuk mendapatkan kekayaan dan bukan menjadi Tuhannya. Kata seorang Pendeta, Tuhan seperti mesin ATM di mana yang kita butuhkan adalah PIN yang tepat sehingga mesin itu bisa bekerja sesuai harapan kita. 

 

Kedua, kita bisa kecanduan harta. Orang yang kecanduan harta tidak akan pernah merasa cukup atau merasa puas dengan hartanya. Makin dia mendapatkan banyak harta maka makin dia merasa belum cukup. Mengapa? Karena dia salah meletakkan hidupnya pada harta yang adalah benda mati. Seharusnya sebagai manusia, hidupnya diletakkan di dalam Tuhan yang adalah Penciptanya. Meletakkan hidup kita pada hal lain selain Tuhan hanya akan mendatangkan rasa ketidakcukupan dan ketidaktenangan dalam hidup kita. Untuk hal ini, kita perlu mengingat perkataan dari Blaise Pascal "There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus."

 

Ketiga, mentuhankan harta kekayaan menjadikan kita bisa nekad untuk mengabaikan Tuhan dan melakukan apapun (bahkan yang dilarang Tuhan) demi mendapatkan kekayaan. Sering kita mendengar bagaimana seorang Kristen meninggalkan imannya demi kekayaan atau bermain-main dengan kuasa gelap demi kekayaan. Atau ketika dia telah mendapatkan kekayaan maka lambat laun Tuhan mulai dilupakan dalam hidupnya.

 

Bagaimana sebagai orang percaya kita belajar untuk sungguh-sungguh meletakkan hidup kita kepada Tuhan dan dihindarkan dari mentuhankan kekayaan?

*Mari kita menguji diri apakah kita adalah seorang yang bisa tergoda bahkan mudah jatuh dalam menyandarkan hidup pada kekayaan? Kalau “ya,” maka mari kita jangan menjauh dari Tuhan tetapi dengan kerendahan hati kita mengakuinya dan meminta pengampunan serta pertolongan kepada Tuhan. Orang muda itu seharusnya menyadari akan keberadaan dirinya dan kemudian mengakuinya bahwa dia tidak mampu melakukan permintaan Tuhan Yesus itu karena cintanya akan harta dan meminta pengampunan Tuhan. Celakanya dia malah lari dari hadapan Tuhan Yesus. Ini masalah hati, apakah kita mau jujur ketika Allah menyelidiki dan menyatakannya kepada kita?

*Mari kita belajar bersyukur dan menjadi berkat lewat harta kekayaan kita. Setialah memberikan persembahan/persepuluhan dengan sukacita dan hati yang penuh syukur karena pemeliharaan-Nya atas hidup kita. Jangan kita hitung-hitungan dengan Tuhan. Mari kita juga belajar menjadi saluran berkat-Nya lewat harta yang kita miliki. Selain itu, mari kita memakai harta yang Tuhan berikan kepada kita dengan penuh tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Kita hanyalah ‘manajer’ (pengelola) dari harta itu, sedangkan Tuhanlah Pemiliknya. Kita bukan memakainya dengan penuh hawa nafsu hanya untuk memenuhi keinginan kita, mendapatkan harga diri kita, apalagi menjadikannya kesombongan di hadapan orang lain.

 

Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk belajar berserah kepada-Nya dan bukan kepada harta kekayaan kita.

 

 

 

 

Eben-Haezer: Sampai Di Sini Tuhan Menolong Kita

 

“Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: 

"Sampai di sini TUHAN menolong kita."

1 Samuel 7:12

 

 

Bacaan Alkitab = 1 Samuel 7:2-14

 

Terkadang Allah mengijinkan kita untuk kemudian menolong kita dalam menghadapi situasi yang sulit dan menjepit, sehingga seakan tidak ada yang bisa kita andalkan selain Tuhan saja, untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan bukan cuma dicari kalau lagi susah saja. Tapi Tuhan adalah segalanya yang seharusnya menjadi Pemimpin kehidupan kita.

Itulah yang ingin diingatkan Tuhan lewat peristiwa yang disebut Eben-Haezer, sampai di sini Tuhan menolong kita.

Saat itu Samuel mengumpulkan bangsa Israel di Mizpa untuk mengadakan ibadah pertobatan massal bagi Israel. Ditengah berkumpul itu Israel tiba-tiba diserang orang Filistin. Jadi saat itu orang-orang Israel benar-benar dalam kondisi tidak siap berperang, mereka terjepit kemudian ketakutan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Maka berserulah mereka kepada Samuel, "Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu."  Disebutkan pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka semua. Sekali lagi Tuhan Allah menolong umat-Nya.

Tuhan ingin mengingatkan Israel agar jangan melupakan Dia, jangan cuma mencari Dia kalau lagi sulit saja seperti yang biasa mereka lakukan, tapi hendaknya mereka mau hidup dalam pimpinan Tuhan. Sudah bukan rahasia lagi, kalau kita melihat kitab Hakim-Hakim, bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang suka “tomat” alias tobat-kumat. Kalau nyaman hidupnya maka secepat itu mereka melupakan Tuhan, ketika kemudian Tuhan mengijinkan bangsa-bangsa lain mempersulit mereka maka secepat itu juga mereka berseru dan meminta pertolongan Allah. Dan begitulah dua hal itu berulang dan berulang.

Demikian juga yang diingatkan kepada kita...

Terkadang  tanpa kita sadari, Tuhan hanya kita cari kalau dalam kesulitan saja, itupun supaya kita dibantu untuk  dilepaskan dari kesulitan itu. Maka biasanya ketika situasi mulai nyaman dan membaik, apalagi kita merasa sudah cukup kuat, maka dengan cepat kita mengabaikan Tuhan. Nanti ingat Tuhan lagi kalau ada kesulitan yang kita hadapi dan kita sudah menyerah mengatasinya.

Maka di dalam kemurahan-Nya, ketika kita dituntun Tuhan melewati kesulitan kehidupan maka biarlah kita tidak kemudian berkata, “Sampai disini aja ya Tuhan, thank you sudah menolong, sekarang aku sudah bisa sendiri, nanti kalau ada kesulitan kita akan ketemu lagi.” Dan kemudian kita berjalan meninggalkan Dia.   

Tetapi ketika kita menyadari bahwa  Eben-Haezer, kalau sampai saat ini Tuhan yang menyertai dan menolong kita maka mari kita belajar seperti Musa dalam Keluaran 33:15 yang berkata kepada Tuhan, "Jika Engkau sendiri, TUHAN, tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Sampai sejauh ini, sampai di saat ini, adakah kita melihat Eben-Haezer itu? Jika ya, maka kiranya doa Musa adalah juga menjadi doa kita untuk menjalani hari-hari kita ke depan. “Kami tidak mau berjalan sendiri, kami mau belajar berjalan bersama-Mu, dipimpin oleh-MU, Tuhan.” Dan kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin.

 

 

Senin, Januari 11, 2021

Keuntungan dalam Ibadah

 

... yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

1 Timotius 6:5-6


Bacaan Alkitab: 1 Timotius 6:2b-10

 

Ibadah itu membawa keuntungan!? Ya, benar, jangan diragukan! Tapi keuntungannya apa?

Nah, dalam hal inilah Paulus mengingatkan kita tentang para pengajar palsu yang berpikir ibadah adalah sebagai suatu sumber keuntungan, maksudnya untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Oleh karena itu mereka dikenal sebagai orang yang sibuk  berebut pengaruh dengan mencari soal dan bersilat lidah yang akhirnya menimbulkan dengki, fitnah, dan cekcok di antara jemaat Tuhan, terutama orang-orang yang mudah dipengaruhi, yang tidak lagi berpikir sehat dan sudah jauh dari kebenaran. Mereka menunggangi kebenaran untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Jangan kita menjadi seperti mereka dan jangan kita terjebak ke dalam spirit mereka.

 

Memang Paulus mengatakan bahwa ibadah itu akan memberi keuntungan besar asalkan disertai rasa cukup. Rasa cukup akan apa? Nah, disinilah kita jangan cepat menyimpulkan bahwa keuntungan itu adalah uang atau materi semata, atau keuntungan pribadi seperti yang dicari para pengajar palsu itu. Karena Paulus langsung melanjutkan dan mengunci kesimpulan tidak tepat itu dengan berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta akan uang; bukan “uang” tapi “cinta akan uang”. Cinta pada hal yang salah, cinta pada mamon yaitu pesaing Allah, akan membelenggu dan membawa kita pada kesusahan dan terus menarik kita untuk mengejarnya sampai-sampai kita rela menyiksa diri kita sendiri. Tanpa sadar kita akan kehilangan iman, kehilangan kebenaran, dan jatuh dalam kebinasaan. Jadi, rasa cukup yang ditaruh pada kepemilikkan materi, keuntungan pribadi, dan segala hal duniawi malah akan membawa seseorang berani mempergunakan ibadah demi diri sendiri dan bukan Tuhan, yang akhirnya dia malah kehilangan keuntungan dalam ibadah yang sebenarnya disediakan Allah.

 

Maka seharusnya bagaimana? Kata “ibadah” di dalam bagian firman Tuhan ini bukan semata berarti ibadah di Gereja, tetapi diartikan “godliness” (kesalehan) yang artinya kehidupan seseorang yang berjalan di jalannya Allah. Jadi ini tentang kehidupan bersama Tuhan di tengah-tengah kehidupan ini dan bukan cuma di Gereja saja. Maka, kembalikan cintamu pada Tuhan karena itulah dasar ibadah yang sejati. Letakkan hidupmu dalam Tuhan dan bukan yang lain. Kejarlah firman-Nya untuk taat dan menghidupinya. Cukuplah di dalam Kristus. Jangan sebaliknya kita malah mempergunakan Kristus dan Gereja untuk mendapatkan keuntungan kita sendiri. Luar biasa jahat bukan mempergunakan sesuatu yang seharusnya dipersembahkan bagi Tuhan malah untuk diri sendiri.

Kalau bagi saya, pertanyaannya bisa dipersempit misalnya adakah yang saya kejar saat ini melalui semua ibadah dan pelayanan yang saya lakukan? Mungkin bukan uang yang saya cari, tapi bisa jadi nama baik, pengakuan, popularitas, dan celakanya iri hati seakan sudah membungkus erat semua itu. Ya, saya tahu itu tidak dibenarkan, tapi saya seakan ingin menawar untuk mendua hati. Bisakah? Tentu saja tidak bisa karena saya pasti akan lebih mencintai yang satu daripada yang lain, dan percayalah pasti mamon yang saya cintai dan bukan Tuhan. Percayalah!

 

Maka, cintailah Tuhan Yesus, berbaliklah pada-Nya dan hidupilah firman-Nya. Karena justru dengan cukup di dalam Dia maka kita mendapatkan keuntungan besar yaitu Tuhan Yesus sendiri yang adalah segala kepenuhan Allah yang sanggup mengisi "God's shaped vacuum" dalam hidup kita. Dan “lubang” inilah yang seakan mengatur segala rasa cukup dalam hidup kita. Ketika Tuhan sudah mengisi penuh  “lubang” itu maka sebenarnya yang kita ingini hanya Tuhan saja. Bukan berarti kita tidak lagi mengalami “kehausan” dalam hidup ini, tetapi kita tahu ke mana kita berlari ketika mencari “kelegaan di dalam kehausan”? 

 

Lalu bagaimana dengan hidup ini? Hidup ini akan kita bawa dibawah tuntunan firman Tuhan. Misalnya, apa standar kehidupan kita (baca: kemewahan kehidupan kita)? Bukan berarti kita tidak boleh punya barang mewah, karena saya sadar kadang hal itu kita miliki karena “keterpaksaan sosial atau pekerjaan atau status kita di tengah masyarakat atau sedikit rasa ingin icip-icip kita”. 1 Timotius 6:8 mengingatkan agar jangan hidup kita ditaruh pada hal-hal yang justru tidak kita bawa ketika datang dan pergi dari dunia ini nantinya. Asalkan ada makanan dan pakaian, cukuplah, begitu kata Paulus. Kita tahu bagaimana rasa cukup ketika menghidupi dan memiliki apa yang ada di dalam dunia ini karena rasa cukup yang sejati sudah kita berikan kepada Tuhan Yesus sendiri. Bukan malah Tuhan Yesus yang kita pakai untuk memenuhi rasa cukup kita di dalam segala hal yang ada di dunia ini. Ketika rasa cukup itu ada, maka apa yang kita miliki bisa kita persembahkan untuk dipakai bagi kemuliaan Allah dan menjadi berkat bagi sesama kita.

 

Memang, ibadah jika disertai dengan rasa cukup akan membawa keuntungan besar bagi kita. Maukah kita mengalaminya? Kiranya kasih Allah melingkupi dan menuntun kita kepada-Nya. Amin.