“Fred,
aku mau tanya, lembaga apa yang diberikan Tuhan agar kita dan anak-anak kita bertumbuh
di dalamnya?” Seorang teman bertanya demikian kepada saya. Tahu bahwa dia
serius dengan pertanyaannya maka tanpa tendeng aling-aling saya langsung
menjawab, “Keluarga, Gereja, dan SEKOLAH KRISTEN.” Tetapi jawaban berikutnya
dari dia menjadi pergulatan dalam diri saya, “Di Alkitab cuma dua ‘lho,
pernikahan (keluarga) dan Gereja yang dibentuk oleh Tuhan.” Saya langsung
terdiam di depan handphone yang saya pegang sambil memandang jawaban yang
muncul dalam pesan text tersebut. “Iya, ya, kenapa saya dengan gagah mengatakan
sekolah Kristen adalah salah satunya?” Karena nanti malam teman saya ini akan
membawakan webinar tentang keluarga, maka dia ‘minta izin’ kepada saya, “Kalau
nanti malam saya cuman bilang keluarga dan Gereja aja, kamu sebagai yang
pelayanan di sekolahan keberatan ‘nggak?” Saya langsung menjawab, “No, I’m okay
okay aja.”
Dari
sanalah kemudian saya makin memikirkan hal ini. Dan seperti yang saya sampaikan
di bagian pertama dari tema tentang sekolah Kristen ini (artikel sebelumnya),
saya memahami bahwa sekolah Kristen tidak boleh menjadi pengganti dari Gereja
dan keluarga. Itu artinya sekolah
Kristen jangan juga menjadi pesaingnya Gereja. Dan memang betapa selama
ini sekolah Kristen seperti “Gereja kedua” dalam kehidupan anak-anak dan juga
para karyawannya (Guru, Staf, dan yang lainnya). Ada ibadah, retreat, renungan,
disiplin baca Alkitab, KTB; yang karena aktivitas-aktivitas rohani itulah kita
disebutkan sebagai sekolah Kristen. Coba
cabut semua aktivitas itu, masihkah kita berani menyebut diri sebagai sekolah
Kristen? Wong saya pernah mendengar
sharing ada teman yang mencoba mengganti ibadah di sekolahnya dengan bentuk
lain, langsung jiwa seakan bergejolak dan beberapa temannya mulai mengernyitkan
dahi tanda menolak. Sekolah Kristen tanpa ibadah, apa kata dunia?! Lalu, apa
maksudnya?
Sekali
lagi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah Kristen berdiri bukan
karena kehendak Allah dan juga bukan bermaksud untuk meniadakan semua kegiatan
rohani di sekolah Kristen. Seorang teman pernah berkata bahwa salah satu
kekuatan sekolah Kristen dalam menjaga dan membentuk kehidupan rohani siswa dan
Gurunya adalah karena ada sistem, aturan, atau “kewajiban.” Misalnya siswa harus
ikut beribadah di jam sekolah, Guru harus ikut ibadah pada waktu yang sudah
ditentukan, dan mereka tidak bisa membolos seenaknya atau melarikan diri dari
kewajiban itu. Tentunya hal ini bukan bermaksud untuk membuat ibadah menjadi
sebuah kewajiban, tetapi kalaupun mereka lalai memelihara ibadah Minggu, paling
‘nggak ada saat di mana mereka mau ‘nggak mau harus beribadah. ‘Kan baik toh,
sekolah Kristen membantu Gereja menjaga kehidupan rohani jemaatnya? Ya, sih,
tapi ada sesuatu yang lain. Apa itu?
Bagaimanapun juga, Guru dan para siswa ini harus
dikembalikan kepada Gereja. Mengapa? Di sekolah mereka hanya sementara
waktu saja karena sekolah selalu ada “time limit”. Dan beberapa anak belum
tentu bersekolah di sekolah Kristen, demikian juga belum tentu seorang Guru
Kristen harus mengajar di sekolah Kristen. Tetapi Gereja adalah persekutuan
anak-anak Tuhan yang sifatnya tidak dibatasi waktu, dari anak sampai bertumbuh
dewasa mereka tetap diterima di sana. Dan firman Tuhan berkata justru mereka
diikatkan menjadi satu tubuh yang saling terjalin satu sama lain karena dari
sanalah Kristus berkarya melaluinya dan mempertumbuhkan mereka. Karya
pertumbuhan dalam Kristus justru dikatakan jelas dalam Firman Tuhan adalah
melalui Gereja Tuhan, Tubuh Kristus. Karena itulah kita merindukan agar setiap
orang yang percaya kepada Kristus bergabung dengan sebuah Gereja lokal. Itu
artinya setiap warga sekolah Kristen, jika dia mengaku percaya kepada Tuhan
Yesus, maka harus dipastikan bahwa dia adalah bagian dari sebuah Gereja Tuhan.
Jangan sampai karena dia sudah beribadah di sekolah, membaca Alkitab di
sekolah, melayani di sekolah, maka dia merasa itu bisa menggantikan
persekutuannya dengan Gereja Tuhan. Demikian juga hal itu yang harus saya
ingatkan kepada diri saya sendiri.
Kesaksian
dari dua hamba Tuhan bernama John Piper dan D.A. Carson bisa menjadi ingatan
buat kita. John Piper mensharingkan bahwa ketika dia belajar di sekolah
teologi, dia sempat tidak bergabung kepada gereja lokal manapun karena ‘toh dia
sudah menikmati ibadah dan belajar Alkitab sepanjang minggu. Piper berkata
betapa “foolish dan immature”-nya dia sampai berpikir dan bertindak seperti
itu. Pada akhirnya dia dan isterinya kemudian memberikan diri bergabung dengan
sebuah gereja lokal dan melayani serta bertumbuh dalam persekutuan di sana.
Piper menyimpulkan, “To cut yourself off from local church with a sense of
self-sufficiency is, in the long run, suicidal.” Di bagian lain, D.A. Carson
menyebutkan bahwa seorang dosen seminari (= pendidik) haruslah seorang yang
mencintai gereja Tuhan karena Kristus juga mengasihi Gereja-Nya. Bahkan Carson menegaskan
supaya orang-orang yang kita didik menyadari bahwa Dosen/Gurunya adalah seorang
yang mengasihi Gereja, sebagaimana teman-teman di Gereja kita juga menyadari
bahwa kita mengasihi mereka, mengasihi Gereja Tuhan (John Piper and D.A.
Carson, The Pastor as Scholar and The
Scholar as Pastor: Reflections on Life and Ministry).
Maka motivasilah
warga sekolah Kristen untuk bergabung dengan sebuah Gereja lokal! Bila
perlu ajarkan mereka bagaimana cara
memilih Gereja dengan baik dan memilih Gereja yang baik. Mengapa? Karena
zaman ini adalah zaman “spiritual konsumerisme” yang ternyata sangat
mempengaruhi Gereja, di mana Gereja ‘tanpa sadar’ dituntut harus menyediakan
acara yang menarik untuk mendapatkan perhatian dari jemaat. Gereja seakan menjadi milik segelintir orang
yang disebut Pendeta dan Majelis (Pengurus) sedangkan jemaat adalah ‘fans
club’-nya (konsumen), sehingga tanpa sadar kita malah menjadikan jemaat sebagai
‘fans’ Yesus Kristus dan bukan murid-Nya. Apalagi sekarang zaman “online
online” dan saat ini banyak dari kita masih beribadah secara online. Adakah kita masih beribadah dengan gereja
kita? Atau jangan-jangan Gereja sudah menjadi seperti supermarket buat
kita karena hanya sejauh “jempol”? Saya tidak melarang kita melihat dan
mendengarkan ibadah atau khotbah Gereja lain, tetapi adakah kita dengan aktif
menggabungkan diri kepada sebuah Gereja lokal? Gereja yang jika masa pandemi
ini lewat nanti, kita tetap bisa beribadah, bersekutu, dan melayani di sana?
Berdoalah dan mintalah Allah menunjukkan Gereja yang baik sebagai tempat kita
memberi diri ke sana jika kita masih bingung saat ini. Jangan keliling-keliling
dalam beribadah. Jangan pula mudah berkata, “Saya tidak bertumbuh di sana,”
tetapi itu muncul dari hati yang mencari pengakuan, mencari perhatian, merasa
diabaikan, atau hanya selera semata. Kristus berkarya mempertumbuhkan umat-Nya
lewat Gereja-Nya, Tubuh-Nya. Adakah
engkau di sana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar