Minggu, Desember 06, 2020

Sekolah Kristen, Jangan Saingan Sama Gereja (#2)



Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. 
Efesus 4:16



“Fred, aku mau tanya, lembaga apa yang diberikan Tuhan agar kita dan anak-anak kita bertumbuh di dalamnya?” Seorang teman bertanya demikian kepada saya. Tahu bahwa dia serius dengan pertanyaannya maka tanpa tendeng aling-aling saya langsung menjawab, “Keluarga, Gereja, dan SEKOLAH KRISTEN.” Tetapi jawaban berikutnya dari dia menjadi pergulatan dalam diri saya, “Di Alkitab cuma dua ‘lho, pernikahan (keluarga) dan Gereja yang dibentuk oleh Tuhan.” Saya langsung terdiam di depan handphone yang saya pegang sambil memandang jawaban yang muncul dalam pesan text tersebut. “Iya, ya, kenapa saya dengan gagah mengatakan sekolah Kristen adalah salah satunya?” Karena nanti malam teman saya ini akan membawakan webinar tentang keluarga, maka dia ‘minta izin’ kepada saya, “Kalau nanti malam saya cuman bilang keluarga dan Gereja aja, kamu sebagai yang pelayanan di sekolahan keberatan ‘nggak?” Saya langsung menjawab, “No, I’m okay okay aja.”

 

Dari sanalah kemudian saya makin memikirkan hal ini. Dan seperti yang saya sampaikan di bagian pertama dari tema tentang sekolah Kristen ini (artikel sebelumnya), saya memahami bahwa sekolah Kristen tidak boleh menjadi pengganti dari Gereja dan keluarga. Itu artinya sekolah Kristen jangan juga menjadi pesaingnya Gereja. Dan memang betapa selama ini sekolah Kristen seperti “Gereja kedua” dalam kehidupan anak-anak dan juga para karyawannya (Guru, Staf, dan yang lainnya). Ada ibadah, retreat, renungan, disiplin baca Alkitab, KTB; yang karena aktivitas-aktivitas rohani itulah kita disebutkan sebagai sekolah Kristen. Coba cabut semua aktivitas itu, masihkah kita berani menyebut diri sebagai sekolah Kristen? Wong saya pernah mendengar sharing ada teman yang mencoba mengganti ibadah di sekolahnya dengan bentuk lain, langsung jiwa seakan bergejolak dan beberapa temannya mulai mengernyitkan dahi tanda menolak. Sekolah Kristen tanpa ibadah, apa kata dunia?! Lalu, apa maksudnya?

 

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah Kristen berdiri bukan karena kehendak Allah dan juga bukan bermaksud untuk meniadakan semua kegiatan rohani di sekolah Kristen. Seorang teman pernah berkata bahwa salah satu kekuatan sekolah Kristen dalam menjaga dan membentuk kehidupan rohani siswa dan Gurunya adalah karena ada sistem, aturan, atau “kewajiban.” Misalnya siswa harus ikut beribadah di jam sekolah, Guru harus ikut ibadah pada waktu yang sudah ditentukan, dan mereka tidak bisa membolos seenaknya atau melarikan diri dari kewajiban itu. Tentunya hal ini bukan bermaksud untuk membuat ibadah menjadi sebuah kewajiban, tetapi kalaupun mereka lalai memelihara ibadah Minggu, paling ‘nggak ada saat di mana mereka mau ‘nggak mau harus beribadah. ‘Kan baik toh, sekolah Kristen membantu Gereja menjaga kehidupan rohani jemaatnya? Ya, sih, tapi ada sesuatu yang lain. Apa itu?

 

Bagaimanapun juga, Guru dan para siswa ini harus dikembalikan kepada Gereja. Mengapa? Di sekolah mereka hanya sementara waktu saja karena sekolah selalu ada “time limit”. Dan beberapa anak belum tentu bersekolah di sekolah Kristen, demikian juga belum tentu seorang Guru Kristen harus mengajar di sekolah Kristen. Tetapi Gereja adalah persekutuan anak-anak Tuhan yang sifatnya tidak dibatasi waktu, dari anak sampai bertumbuh dewasa mereka tetap diterima di sana. Dan firman Tuhan berkata justru mereka diikatkan menjadi satu tubuh yang saling terjalin satu sama lain karena dari sanalah Kristus berkarya melaluinya dan mempertumbuhkan mereka. Karya pertumbuhan dalam Kristus justru dikatakan jelas dalam Firman Tuhan adalah melalui Gereja Tuhan, Tubuh Kristus. Karena itulah kita merindukan agar setiap orang yang percaya kepada Kristus bergabung dengan sebuah Gereja lokal. Itu artinya setiap warga sekolah Kristen, jika dia mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka harus dipastikan bahwa dia adalah bagian dari sebuah Gereja Tuhan. Jangan sampai karena dia sudah beribadah di sekolah, membaca Alkitab di sekolah, melayani di sekolah, maka dia merasa itu bisa menggantikan persekutuannya dengan Gereja Tuhan. Demikian juga hal itu yang harus saya ingatkan kepada diri saya sendiri.

 

Kesaksian dari dua hamba Tuhan bernama John Piper dan D.A. Carson bisa menjadi ingatan buat kita. John Piper mensharingkan bahwa ketika dia belajar di sekolah teologi, dia sempat tidak bergabung kepada gereja lokal manapun karena ‘toh dia sudah menikmati ibadah dan belajar Alkitab sepanjang minggu. Piper berkata betapa “foolish dan immature”-nya dia sampai berpikir dan bertindak seperti itu. Pada akhirnya dia dan isterinya kemudian memberikan diri bergabung dengan sebuah gereja lokal dan melayani serta bertumbuh dalam persekutuan di sana. Piper menyimpulkan, “To cut yourself off from local church with a sense of self-sufficiency is, in the long run, suicidal.” Di bagian lain, D.A. Carson menyebutkan bahwa seorang dosen seminari (= pendidik) haruslah seorang yang mencintai gereja Tuhan karena Kristus juga mengasihi Gereja-Nya. Bahkan Carson menegaskan supaya orang-orang yang kita didik menyadari bahwa Dosen/Gurunya adalah seorang yang mengasihi Gereja, sebagaimana teman-teman di Gereja kita juga menyadari bahwa kita mengasihi mereka, mengasihi Gereja Tuhan (John Piper and D.A. Carson, The Pastor as Scholar and The Scholar as Pastor: Reflections on Life and Ministry).

 

Maka  motivasilah warga sekolah Kristen untuk bergabung dengan sebuah Gereja lokal! Bila perlu ajarkan mereka bagaimana cara memilih Gereja dengan baik dan memilih Gereja yang baik. Mengapa? Karena zaman ini adalah zaman “spiritual konsumerisme” yang ternyata sangat mempengaruhi Gereja, di mana Gereja ‘tanpa sadar’ dituntut harus menyediakan acara yang menarik untuk mendapatkan perhatian dari jemaat. Gereja seakan menjadi milik segelintir orang yang disebut Pendeta dan Majelis (Pengurus) sedangkan jemaat adalah ‘fans club’-nya (konsumen), sehingga tanpa sadar kita malah menjadikan jemaat sebagai ‘fans’ Yesus Kristus dan bukan murid-Nya. Apalagi sekarang zaman “online online” dan saat ini banyak dari kita masih beribadah secara online. Adakah kita masih beribadah dengan gereja kita? Atau jangan-jangan Gereja sudah menjadi seperti supermarket buat kita karena hanya sejauh “jempol”? Saya tidak melarang kita melihat dan mendengarkan ibadah atau khotbah Gereja lain, tetapi adakah kita dengan aktif menggabungkan diri kepada sebuah Gereja lokal? Gereja yang jika masa pandemi ini lewat nanti, kita tetap bisa beribadah, bersekutu, dan melayani di sana? Berdoalah dan mintalah Allah menunjukkan Gereja yang baik sebagai tempat kita memberi diri ke sana jika kita masih bingung saat ini. Jangan keliling-keliling dalam beribadah. Jangan pula mudah berkata, “Saya tidak bertumbuh di sana,” tetapi itu muncul dari hati yang mencari pengakuan, mencari perhatian, merasa diabaikan, atau hanya selera semata. Kristus berkarya mempertumbuhkan umat-Nya lewat Gereja-Nya, Tubuh-Nya. Adakah engkau di sana?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar