Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu,
yang sedang berbaring di dalam palungan.
(Lukas 2:16)
Ketika pemuda, di bulan Desember seperti ini, saya pernah mendengar istilah yang disebutkan seorang Pendeta mengenai “ORANG KRISTEN NATAL dan Paskah.” Apa artinya? Ini adalah sebutan untuk ORANG-ORANG YANG MENGAKU KRISTEN TETAPI HANYA HADIR DI GEREJA KETIKA NATAL dan Paskah saja. Jadi sebenarnya ini adalah sindiran untuk orang Kristen yang tidak peduli dengan kehidupan ibadahnya, tapi herannya kalau pas Natal dan Paskah dia akan hadir, paling ‘nggak pas Natal. Mengapa Natal? Karena Natal adalah momen bahagia, momen suvenir, momen melihat pertunjukan spektakuler di Gereja, sehingga orang-orang seperti ini akan ke Gereja memang untuk merayakan Natal tetapi BUKAN MERAYAKAN KELAHIRAN KRISTUS.
Lalu, ‘kok judul artikel ini malah mempersilakan atau memaklumi orang-orang Kristen untuk menjadi “Orang Kristen Natal”? Di dalam dunia tafsir menafsir ada yang namanya “memaknai sebuah kata atau kalimat berdasarkan konteksnya.” Maka izinkan saya memaknai ISTILAH “ORANG KRISTEN NATAL” INI DENGAN KONTEKS YANG BARU, YAITU KONTEKS SAAT INI. Bagaimana itu?
Kita menyadari bahwa saat ini orang-orang percaya sedang menghadapi TANTANGAN yang tidak mudah dalam kehidupan rohani mereka, salah satunya adalah KEHIDUPAN GEREJAWI YANG SUDAH HAMPIR SETAHUN INI “TERTAHAN” karena pandemi. Semua berganti menjadi pertemuan virtual, walau memang sudah ada beberapa Gereja yang mulai membuka pintu walau masih dengan keterbatasan. Apa dampaknya? Karena tidak bisa bertemu, tidak bisa beribadah di tempat, tidak bisa melayani dengan bebas, dan hanya terkurung di depan layar, maka bisa jadi banyak orang Kristen yang sudah mulai jenuh bahkan beberapa tanpa sadar mulai menjauh dari kehidupan persekutuan atau ibadah mereka. Bagaimanapun juga hanya di depan layar bukanlah sesuatu yang ideal dan rasanya kita membutuhkan interaksi nyata satu sama lain di Gereja. Beberapa juga mulai menjauh karena tidak ada yang melakukan absensi kehadiran Gereja online, dan memang siapa yang tahu pasti apakah kita beribadah atau tidak karena ‘toh berbohongpun kita bisa. Berkata sudah beribadah tetapi sebenarnya hanya kita, keluarga kita dan Tuhan sendiri yang tahu apa yang terjadi; lagipula ibadah ‘nggak ibadah rasanya ‘nggak ada sesuatu terjadi.
Beberapa hamba Tuhan berkata bahwa sebenarnya dalam konteks seperti ini, kehidupan Gereja masih bisa berjalan dalam skala kecil walau tetap dalam keterbatasan, yaitu dalam keluarga. Tuhan Yesus berkata, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20). Sehingga bisalah dikatakan bahwa ada ibadah ketika satu keluarga sedang bersekutu dan menyembah Tuhan. Gereja ‘kan bukan masalah jumlah, organisasi, bentuk liturgi, dan hal-hal eksternal lainnya, tetapi persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan Kristus dari dosa untuk masuk kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). TETAPI BAHKAN ANTAR ANGGOTA KELUARGAPUN, PADA SAAT INI, BELUM TENTU ADA ‘KENGOTOTAN’ UNTUK TETAP SALING MENGINGATKAN DAN MENJAGA UNTUK BERIBADAH. Jangan-jangan anak-anak kita sudah tidak lagi menikmati sekolah minggunya, sebagaimana anak remaja kita bahkan entah sudah berapa lama tidak lagi mendengar lagu pujian dan firman Tuhan. Dan kalaupun mereka di depan channel gereja, apakah benar mereka sedang beribadah? Satu hal, KEHIDUPAN ROHANI ORANG PERCAYA SEDANG DALAM TANTANGAN BESAR.
MAKA BERITANYA PADA NATAL TAHUN INI, DI TENGAH PANDEMI SEPERTI INI, ADALAH “IT’S OK MENJADI ORANG KRISTEN NATAL.” Sudah berapa lama kita tidak lagi beribadah, tanpa ada yang mengingatkan bahkan “alarm jiwa” kitapun sudah tidak lagi “berbunyi”? Sekuat apa kita menahan kejenuhan dan tetap berusaha beribadah di tengah kebosanan menatap layar dan seakan berharap ibadah segera selesai, atau kalau diizinkan kita bisa men-skip segera menuju momen khotbah dan doa berkat? Seberapa kuat kita masih bisa menahan godaan yang mulai muncul dalam hati untuk menunda waktu ibadah, ‘toh tersimpan di Youtube ‘kok dan bisa diputar ulang? Seberapa tekun kita untuk tetap bisa melawan godaan teman-teman yang mulai mengajak kita bertamasya keliling kota naik sepeda padahal kita tahu itu akan memakan waktu ibadah kita? Di tengah tantangan dan godaan seperti itu, It’s OK Menjadi Orang Kristen Natal. Apa artinya?
Istilah ini bukan lagi menjadi sindiran tetapi sebuah ajakan untuk kembali, untuk restart, untuk kembali dari ‘titik nol’. UNTUK KEMBALI DATANG KEPADA TUHAN YESUS, JURUSELAMAT DAN TUHAN KITA, DAN MENGALAMI KEMBALI SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KASIH MULA-MULA, SEPERTI SAAT KITA JATUH CINTA PERTAMA KALI DENGAN DIA. Seperti yang dialami para gembala pada Natal pertama malam itu. Orang-orang yang hidupnya monoton, terbatas, tertuduh sebagai orang berdosa dan terpinggirkan sehingga tidak diziinkan masuk lebih dalam di Bait Allah. Pada malam itu mereka mendengar berita sukacita kelahiran Mesias. Hati mereka bergejolak, bukan karena keingintahuan semata, tetapi ada sebuah sukacita dan dorongan rohani yang secara spontan mereka sikapi dengan pergi menjumpai bayi Yesus itu. Menyembah, menyaksikan, menceritakan, dan dipenuhi dengan sukacita, sehingga hidup mereka begitu berubah dan mengherankan banyak orang. “MENJADI ORANG KRISTEN NATAL” DALAM ARTI SEPERTI PARA GEMBALA INI, YANG SEKALI LAGI DATANG DENGAN KERINDUAN HATI UNTUK MERASAKAN SUKACITA SURGA DAN MENGALAMI KABAR BAIK YANG MEMBANGKITKAN KASIH KEPADA TUHAN YESUS DALAM HIDUP KITA.
It’s OK menjadi Orang Kristen Natal, bukan berarti saya ‘meng-excuse’ setiap kita untuk menanti Natal baru beribadah lagi. TETAPI MARI DI MOMEN NATAL INI KITA SEKALI LAGI DATANG DENGAN KEJUJURAN, KETULUSAN HATI, DAN MENYEMBAH SERTA BERSERU KEPADA TUHAN YESUS. “Tuhan Yesus, selama ini entah bagaimana hidup rohaniku di hadapan-Mu. Tetapi di momen Natal ini, aku mau jadi orang Kristen Natal, ‘nggak papa kalau aku dibilang cari Tuhan ‘pas Natal saja, karena memang aku mau mencari Engkau saat ini untuk boleh sekali lagi Engkau membangkitkan sukacita, damai sejahtera, kerohanian yang berkobar, seperti pertama kali ketika Engkau menyentuh hatiku. MAUKAH ENGKAU MENERIMA DAN MENYENTUH HATIKU, ORANG KRISTEN NATAL INI?” Maukah kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar