Senin, Desember 28, 2020

Iri Hati kepada Yang Jahat

 

Janganlah terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu.

1 Timotius 5:22



Iri hati kepada kejahatan, kok bisa?

Bukan benci lho ya, tapi sirik dengan orang jahat!

Ya, benar, yang saya maksudkan adalah iri dengan orang yang berbuat tidak patut, orang yang berbuat dosa. Terutama orang yang berbuat fasik tapi di Gereja Tuhan. Apa maksudnya?

 

Kita iri karena mereka nampak beruntung dalam dosanya, mereka nampak dianggep justru dalam kejahatannya, dan mereka kok dibiarkan dalam dosanya. Malah mereka terlihat lebih membantu orang lain, lebih bermanfaat hidupnya, lebih jadi berkat, dibandingkan saya yang malah menjadi beban atau nampak nggak ada gunanya.

Ya, tentu saja mereka tidak mencelakai orang secara langsung atau melakukan sesuatu yg mencelakai, INGAT mereka ada di lingkungan Gereja Tuhan. Tapi di balik semuanya, di balik kehidupannya, kita tahu ada yang nggak murni, ada yang nggak beres, ada yang jahat. Kalau saya diizinkan untuk menghakimi mereka maka saya akan berkata dengan keras tanpa tendeng aling-aling: "a-lah, kamu berbuat apa yang baik tapi sebenarnya dalamannya apa?" Cuma sulit 'kan karena siapa yang tahu jelas dalamannya hati manusia?  

Tapi kenapa kok mereka nampak lebih baik?

Dan saya menjadi iri kepada orang-orang seperti ini. Mengapa? Karena saya berusaha menjaga diri tetap murni tapi kok rasanya keliatan lebih nggak main, lebih kurang dihargai daripada mereka.

 

Hal ini mirip seperti pergulatan pemazmur dalam Mazmur 73. Pemazmur berkata kok orang fasik malah gemuk dan makmur? Rasanya mereka seperti orang yang nggak berdosa dan lebih diberkati. Sehingga Pemazmur dengan jujur mengatakan bahwa dalam hatinya muncul keirihatian kepada orang fasik itu dan ngapain dia berusaha mempertahankan hidupnya bersih. Tetapi beruntungnya adalah dia kemudian menyadari bahwa itu adalah sikap yang tidak benar, dan karena hal itu nyaris dia terpeleset dan jatuh dalam dosa. Mazmur 73:2-3 menyatakannya: “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

 

Saya harus mengakui bahwa terkadang situasi seperti ini bisa menggoda saya untuk mengikuti orang-orang fasik itu. Ya, tentunya saya nggak akan sampai bertindak sejauh orang-orang itu, saya juga nggak ingin mencelakai orang atau berbuat dosa sejelas-jelasnya. INGAT, SAYA KAN JUGA DI LINGKUNGAN GEREJA TUHAN. Tapi dalam arti ada beberapa hal dari diri mereka atau yang mereka lakukan itu yang kalau saya  ikuti rasanya bisa mendatangkan keuntungan buat saya.  Terlalu banyak alasan untuk saya mengikuti cara mereka. Lagipula, kok dia diperbolehkan kenapa saya nggak boleh. Bagaimana kalau saya lakukan saja, nanti kalau saya ditegur ya tinggal pakai diri mereka sebagai tameng, toh dia juga gitu kok. Misalnya secara diam-diam saya melakukan sesuatu yang seharusnya saya harus mendapatkan izin lebih dulu. Nanti kalau ketahuan dan saya ditegur, kan saya tinggal bilang kenapa dia boleh dan saya nggak. Atau saya bisa menjawab, ini saya lakukan untuk kebaikan organisasi, nggak akan rugi kok organisasi. Padahal dalam hati saya berkata: “Enak aja dia diizinkan, dibenarkan, nggak disanksi, kok saya yang mesti mengalah, dalam arti melakukan yang sepatutnya dan taat terus.” Ini loh yang ingin saya tiru. Boleh nggak?

Kadang pergulatan batinnya adalah seperti itu. Tapi firman Tuhan mengingatkan bahwa hati-hati jangan sampai saya terpeleset dan jatuh. Mengapa? 

 

1 Timotius 5:22 juga mengingatkan: “Jagalah kemurnian dirimu, jangan terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Ini bukan masalah ikut buat jahat, tapi dimulai dari hati yang iri dan kemudian nggak terima, dan ingin mengecap keuntungan yang sama. Padahal jelas kita tahu kalau itu jahat, kalau itu dimulai dari hati yang dengki dan bahkan mencobai Tuhan.

Saya diingatkan sekali lagi akan perkataan Tuhan Yesus, bahwa dari hati bisa muncul segala yang jahat, maka jagalah kemurnian dirimu. Sekali lagi, jangan biarkan dosa orang lain membawa dirimu untuk ikut berdosa.  


Lagipula 1 Timotius 5:24  mengingatkan bahwa tidak ada dosa yang akan terus tersembunyi. Memang ada dosa yang begitu mencolok, bahkan sudah menghakimi mereka yang melakukannya bahkan sebelum mereka diadili. Tetapi memang ada dosa yang tersembunyi, sembunyi di balik hal hal yang keliatannya  bisa dibenarkan dan sulit dibantah, bersembunyi di balik yang namanya kebaikan sekalipun, tersembunyi di balik manfaat bagi orang lain. Tapi firman Tuhan mengatakan toh akan dibukakan pada akhirnya. Karena satu hal, yang kita permainkan bukan sekedar manusia, tapi Allah. Dan masakan Allah mendiamkan diriNya dipermainkan, lagipula Dia menilai hati dan bukan apa yang nampak di muka manusia. Tetapi kalau benar Allah mendiamkan, maka bertambah celakalah kita karena itu berarti Dia sudah nggak peduli lagi kita mau ke mana dan berakhir di mana.

Ini yang diingatkan dalam Mazmur 73:18 tentang kondisi orang fasik sebenarnya, yang celakanya mereka nggak sadari itu karena semua terlihat enak dan baik bagi mereka. Padahal "Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur."

 

Maka jagalah kemurnian dirimu,  jangan biarkan hal-hal jahat itu bercokol di hati kita. Lakukan yang benar di dalam Tuhan, bertekunlah. Mengapa? Karena 1 Timotius 5:25  berkata: Demikianlah kebaikan kalaupun tidak dinyatakan sekarang maka percayalah kebaikan tidak dapat terus tersembunyi, dia akan segera dinyatakan.”  Mazmur 73:1 juga mengingatkan bahwa sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetaplah bertekun dalam apa yang benar di dalam Tuhan, God is Good. Maka, selalu ujilah dan selidikilah hati hamba-Mu ini ya, Tuhan; Lihatlah kalau-kalau ada yang serong dan tuntunlah dia kembali di jalan-Mu yang kekal. Amin. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar