“Tetapi
aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
Yosua
24:15b
Jangan
salah mengerti ketika Anda membaca judul artikel di atas. Saya tidak sedang
bermaksud merendahkan keberadaan dari sekolah Kristen karena saya sendiri
melayani di sekolah Kristen. Saya juga tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa
berdirinya sekolah Kristen pasti mau-maunya beberapa kelompok orang atau Gereja
dan bukan dari Tuhan. BUKAN ITU! Tetapi masa pandemi yang sedang berjalan
sampai sekarang ini membuat saya, mau tidak mau, memikirkan kembali keberadaan
sekolah Kristen di tengah-tengah keluarga dan Gereja Tuhan. Apa maksudnya?
Banyak
hal yang terjadi saat ini membuat sekolah Kristen harus jujur mengakui bahwa
pelayanan yang mereka berikan kepada para siswanya tidak lagi bisa maksimal
seperti biasanya, apalagi salah satunya memberikan pelayanan pembentukan rohani
dan karakter. Bagaimana mungkin membentuk kerohanian seseorang hanya dengan
bertatapan di depan layar tanpa contoh hidup dan interaksi nyata bukan maya?
Bagaimana mungkin membentuk karakter seseorang hanya dengan suara dan foto di
layar tanpa interaksi dan teladan? Harus diakui bahwa saat ini sekolah-sekolah
Kristen mengalami pergumulan yang berat untuk mewujudkan visi misinya yang
rindu membentuk siswa “more than academic achievement” semata. Tetapi
di sanalah kami menyadari bahwa kami tidak boleh menjadi pengganti keluarga dan
Gereja. Mengapa? Karena memang sekolah Kristen tidak didirikan untuk maksud
itu.
Dalam
Alkitab dinyatakan ada dua lembaga yang dibentuk Allah dengan maksud dan
tujuannya, yaitu keluarga dan Gereja. Paling tidak Kejadian pasal 1-2 dan
Matius 16:18 menyatakan hal itu. Sekolah Kristen? Dia muncul karena kebutuhan untuk
memperlengkapi dan membantu keluarga dan Gereja dalam pendidikan anak-anak
mereka. Tidak mungkin ‘kan orang tua dan Gereja mengajarkan semua hal di
tengah-tengah keterbatasan mereka. Dan melihat perkembangannya sampai saat ini
maka saya mengakui bahwa keberadaan sekolah Kristen pada sebenar-benarnya
diperkenan Tuhan untuk berdampak dan mempengaruhi keluarga dan Gereja Tuhan,
tanpa dimaksudkan untuk menggantikan kedua lembaga itu. Lalu?
Pandemi
dan situasi yang absurd ini seakan ingin menegaskan kembali kebenaran di atas.
Rasanya sudah terlalu lama kebenaran di atas diselubungkan oleh pikiran-pikiran
dan kenyamanan kita sendiri. Bukankah banyak dari kita (tanpa sadar) menjadikan
sekolah Kristen sebagai “tempat penitipan anak” sementara kita beraktivitas dan
bekerja? Ke sanalah kita menaruh segala idealisme dan harapan terhadap anak-anak
kita dan dengan mudah mengarahkan telunjuk kita kepada sekolah ketika anak-anak
kita tidak menjadi sesuai harapan kita, for the sake of money yang kita sudah
keluarkan. Tanpa kita menyadari bahwa empat
jari lainnya mengarah kepada kita atau pernahkah kita bertanya “jari Tuhan” sebenarnya
mengarah kepada siapa? Beberapa dari
kita menjadikan sekolah adalah “bengkel kehidupan,” berharap anak-anak kita
yang bertumbuh tidak sesuai harapan kita (jika istilah “nakal” terlalu keras
digunakan) akan diperbaiki ketika 6 atau 9 tahun ada di sana. Padahal berulang
kali kita mendengar bahwa usia awal 5-6 tahun adalah usia anak-anak mendapatkan
pembentukan karakternya dan keluarga adalah tempat utamanya. Jika anak-anak
masuk dan keluar dalam kondisi sama alias tidak berubah maka kita langsung
menghakimi bahwa “bengkelnya” kurang rohani, sudah ‘nggak sesuai visi misinya, mulai
sekuler dan terlalu akademik ‘tok. Tanpa menyadari bahwa di sisi sana ada orang
tua yang menangis dan berdoa bersama wali kelas anaknya setiap hari, walau
tanpa bertemu, untuk perbaikan kehidupan anak yang beberapa dari mereka
mengalami perubahan hidup pada akhirnya. Lalu apa maksudnya?
Pertama,
saya harus menyadari dan izinkan saya mengajak Anda juga menyadari bahwa keluargalah
tempat pertama bahkan utama dalam pendidikan anak. Ini kebenaran yang tidak
terbantahkan karena Allah sendiri yang merancangkannya. Guru hanya perwakilan
orang tua selama anak di sekolah dan itupun selama mereka masih sekolah di
sana. Orang tua? Adalah yang dipercayakan Allah seumur hidup dan tidak ada perjanjian
untuk dialihkan kepada pihak lain. Ketika sekolah menjadi seperti saat ini,
adakah hal ini membangunkan kita bahwa anak-anak membutuhkan kita, orang
tuanya? Adakah hal ini menyadarkan kita, sesadar-sadarnya, bahwa jangan-jangan
selama ini kita, tanpa sengaja, sudah menukar “hak kesulungan” kita untuk
mendidik anak-anak kita dengan “semangkuk sup kacang merah” dalam bentuk apapun
itu? Dan ini bukan sekedar nampak luarnya, tetapi apakah di dalam hati kita
memahami hal itu?
Maka,
bangkitkan dalam diri kita, dalam jiwa kita, bahkan mintakan itu pada Tuhan,
agar kesadaran akan panggilan kita sebagai orang tua kembali menancap
sedalam-dalamnya. Entah kita merasa selama ini sudah baik atau kurang baik
sebagai orang tua, kesadaran akan panggilan mulia ini harus menancap dan makin
dalam berakar kembali. Sehingga kita akan meminta kepada Allah akan
pertolongan-Nya yang memampukan kita. Entah untuk menemani anak kita yang masih
kecil untuk zoom dengan wali kelasnya. Entah untuk sekedar bertanya dan
mengontrol perkembangan studi mereka melalui aplikasi yang sekolah sediakan di gadget
kita. Entah untuk menemani dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit dari
tugasnya walau itu harus membuat kita memutar otak dan me-recall kembali semua
ilmu yang pernah kita dapat. Atau entah-entah yang lainnya. Bahkan bila perlu
kita akan berdoa dan menangisinya demi panggilan kita dan hidup anak-anak kita.
Mari kita mulai dari awal, adakah panggilan mulia itu terngiang-ngiang di
saat-saat seperti ini untuk membawa kita pulang kepada Allah, Sang Empunya
keluarga dan anak-anak kita?
Sehingga
walau kita tak seberani Yosua, tak setegas dan selugas dia ketika mengeluarkan
perkataan iman, sebaliknya kita hanya bisa berlutut, menepuk dada, dan menangis
sambil berkata, “Tuhan, aku dan seisi rumahku akan menyembah-Mu. Tolonglah aku
yang tidak berdaya ini.” Maukah??? Tuhan Yesus memberkati keluarga Anda. Amin.