Rabu, November 11, 2020

Sekolah Kristen, Maaf, Engkau Bukan Ciptaan Tuhan

 

“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Yosua 24:15b

 

Jangan salah mengerti ketika Anda membaca judul artikel di atas. Saya tidak sedang bermaksud merendahkan keberadaan dari sekolah Kristen karena saya sendiri melayani di sekolah Kristen. Saya juga tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa berdirinya sekolah Kristen pasti mau-maunya beberapa kelompok orang atau Gereja dan bukan dari Tuhan. BUKAN ITU! Tetapi masa pandemi yang sedang berjalan sampai sekarang ini membuat saya, mau tidak mau, memikirkan kembali keberadaan sekolah Kristen di tengah-tengah keluarga dan Gereja Tuhan. Apa maksudnya?

 

Banyak hal yang terjadi saat ini membuat sekolah Kristen harus jujur mengakui bahwa pelayanan yang mereka berikan kepada para siswanya tidak lagi bisa maksimal seperti biasanya, apalagi salah satunya memberikan pelayanan pembentukan rohani dan karakter. Bagaimana mungkin membentuk kerohanian seseorang hanya dengan bertatapan di depan layar tanpa contoh hidup dan interaksi nyata bukan maya? Bagaimana mungkin membentuk karakter seseorang hanya dengan suara dan foto di layar tanpa interaksi dan teladan? Harus diakui bahwa saat ini sekolah-sekolah Kristen mengalami pergumulan yang berat untuk mewujudkan visi misinya yang rindu membentuk siswa “more than academic achievement” semata. Tetapi di sanalah kami menyadari bahwa kami tidak boleh menjadi pengganti keluarga dan Gereja. Mengapa? Karena memang sekolah Kristen tidak didirikan untuk maksud itu.

 

Dalam Alkitab dinyatakan ada dua lembaga yang dibentuk Allah dengan maksud dan tujuannya, yaitu keluarga dan Gereja. Paling tidak Kejadian pasal 1-2 dan Matius 16:18 menyatakan hal itu. Sekolah Kristen? Dia muncul karena kebutuhan untuk memperlengkapi dan membantu keluarga dan Gereja dalam pendidikan anak-anak mereka. Tidak mungkin ‘kan orang tua dan Gereja mengajarkan semua hal di tengah-tengah keterbatasan mereka. Dan melihat perkembangannya sampai saat ini maka saya mengakui bahwa keberadaan sekolah Kristen pada sebenar-benarnya diperkenan Tuhan untuk berdampak dan mempengaruhi keluarga dan Gereja Tuhan, tanpa dimaksudkan untuk menggantikan kedua lembaga itu. Lalu?

 

Pandemi dan situasi yang absurd ini seakan ingin menegaskan kembali kebenaran di atas. Rasanya sudah terlalu lama kebenaran di atas diselubungkan oleh pikiran-pikiran dan kenyamanan kita sendiri. Bukankah banyak dari kita (tanpa sadar) menjadikan sekolah Kristen sebagai “tempat penitipan anak” sementara kita beraktivitas dan bekerja? Ke sanalah kita menaruh segala idealisme dan harapan terhadap anak-anak kita dan dengan mudah mengarahkan telunjuk kita kepada sekolah ketika anak-anak kita tidak menjadi sesuai harapan kita, for the sake of money yang kita sudah keluarkan.  Tanpa kita menyadari bahwa empat jari lainnya mengarah kepada kita atau pernahkah kita bertanya “jari Tuhan” sebenarnya mengarah kepada siapa?  Beberapa dari kita menjadikan sekolah adalah “bengkel kehidupan,” berharap anak-anak kita yang bertumbuh tidak sesuai harapan kita (jika istilah “nakal” terlalu keras digunakan) akan diperbaiki ketika 6 atau 9 tahun ada di sana. Padahal berulang kali kita mendengar bahwa usia awal 5-6 tahun adalah usia anak-anak mendapatkan pembentukan karakternya dan keluarga adalah tempat utamanya. Jika anak-anak masuk dan keluar dalam kondisi sama alias tidak berubah maka kita langsung menghakimi bahwa “bengkelnya” kurang rohani, sudah ‘nggak sesuai visi misinya, mulai sekuler dan terlalu akademik ‘tok. Tanpa menyadari bahwa di sisi sana ada orang tua yang menangis dan berdoa bersama wali kelas anaknya setiap hari, walau tanpa bertemu, untuk perbaikan kehidupan anak yang beberapa dari mereka mengalami perubahan hidup pada akhirnya. Lalu apa maksudnya?

 

Pertama, saya harus menyadari dan izinkan saya mengajak Anda juga menyadari bahwa keluargalah tempat pertama bahkan utama dalam pendidikan anak. Ini kebenaran yang tidak terbantahkan karena Allah sendiri yang merancangkannya. Guru hanya perwakilan orang tua selama anak di sekolah dan itupun selama mereka masih sekolah di sana. Orang tua? Adalah yang dipercayakan Allah seumur hidup dan tidak ada perjanjian untuk dialihkan kepada pihak lain. Ketika sekolah menjadi seperti saat ini, adakah hal ini membangunkan kita bahwa anak-anak membutuhkan kita, orang tuanya? Adakah hal ini menyadarkan kita, sesadar-sadarnya, bahwa jangan-jangan selama ini kita, tanpa sengaja, sudah menukar “hak kesulungan” kita untuk mendidik anak-anak kita dengan “semangkuk sup kacang merah” dalam bentuk apapun itu? Dan ini bukan sekedar nampak luarnya, tetapi apakah di dalam hati kita memahami hal itu?

 

Maka, bangkitkan dalam diri kita, dalam jiwa kita, bahkan mintakan itu pada Tuhan, agar kesadaran akan panggilan kita sebagai orang tua kembali menancap sedalam-dalamnya. Entah kita merasa selama ini sudah baik atau kurang baik sebagai orang tua, kesadaran akan panggilan mulia ini harus menancap dan makin dalam berakar kembali. Sehingga kita akan meminta kepada Allah akan pertolongan-Nya yang memampukan kita. Entah untuk menemani anak kita yang masih kecil untuk zoom dengan wali kelasnya. Entah untuk sekedar bertanya dan mengontrol perkembangan studi mereka melalui aplikasi yang sekolah sediakan di gadget kita. Entah untuk menemani dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit dari tugasnya walau itu harus membuat kita memutar otak dan me-recall kembali semua ilmu yang pernah kita dapat. Atau entah-entah yang lainnya. Bahkan bila perlu kita akan berdoa dan menangisinya demi panggilan kita dan hidup anak-anak kita. Mari kita mulai dari awal, adakah panggilan mulia itu terngiang-ngiang di saat-saat seperti ini untuk membawa kita pulang kepada Allah, Sang Empunya keluarga dan anak-anak kita?

 

Sehingga walau kita tak seberani Yosua, tak setegas dan selugas dia ketika mengeluarkan perkataan iman, sebaliknya kita hanya bisa berlutut, menepuk dada, dan menangis sambil berkata, “Tuhan, aku dan seisi rumahku akan menyembah-Mu. Tolonglah aku yang tidak berdaya ini.” Maukah??? Tuhan Yesus memberkati keluarga Anda. Amin.