Selasa, Oktober 06, 2020

Jangan Sampai Uangmu Berubah Menjadi Mamon

 

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

1 Timotius 6:10

 

Terus terang salah satu pergumulan di masa pandemi ini adalah tentang aspek ekonomi, yang artinya itu berkaitan dengan uang. Saya tidak ingin sok suci dengan mengatakan uang itu tidak penting. No! Kita hidup di dunia di mana uang adalah alat tukar kita untuk mendapatkan sesuatu termasuk membeli kebutuhan hidup kita. Maka, uang itu penting. Lalu apa artinya? Akan menjadi masalah begitu uang ‘menyelinap naik’ dan menggantikan tempat Tuhan sebagai penguasa dan penentu hidup kita. Kita pikir dengan mempertahankan cukup uang maka kita memiliki keyakinan diri bahwa kita mampu melewati pandemi ini.  Sekali lagi, bukan uang itu tidak penting, bukan uang itu tidak perlu diperhitungkan, tetapi “di mana” ‘uangmu’ sekarang? Atau kalau meminjam ayat firman Tuhan di atas, apakah cintamu sudah tertuju padanya(=uang)? Karena akar segala kejahatan bukan uang tapi cinta uang.

 

Apa yang terjadi kemudian? Cinta uang membuat seseorang mengejar uang dan menyimpang dari iman bahkan rela untuk menyiksa diri dengan berbagai duka. Rela menderita demi uang bahkan merendahkan diri, menjual muka, mencoreng muka, semua demi uang. Apa contohnya? Anak-anak kita hanya dinilai dengan uang saat ini. Kok bisa? Ya, contoh yang paling mudah adalah masalah pendidikan mereka.  Dalam iman kita, harusnya segala konsekuensi akibat pandemi ini disikapi dengan iman termasuk pendidikan anak-anak kita. Tapi kita lebih memakai perhitungan untung rugi daripada iman. Saat Tuhan memberi kesempatan kita berperan lebih besar untuk pendidikan anak-anak kita sendiri, ANAK KANDUNG! Kita malah marah-marah dan menyalahkan sekolah yang juga ‘nggak tahu mesti menyalahkan siapa lagi? Kenapa? UANG, aku sudah bayar, ‘kok aku yang harus repot?! Sebenarnya jalan keluar untuk hal ini mudah, mungkin ini saatnya mencari sekolah sesuai keinginan kita maka selesai masalahnya. Tapi kita juga nggak mau karena kuatir masa depannya. Lalu? Karena uang beberapa orang tanpa malu memperjuangkan sesuatu dengan mengorbankan nilai-nilai kehidupan yang lebih besar. Trust, rasa hormat, telah disejajarkan dengan uang. Sekali lagi, saya bukan berkata uang ‘nggak penting, tapi kita harus “aware” kalau uang sedang menggoda kita untuk terpikat dengannya dan membuat kita pelan-pelan mati rasa dengan iman kita kepada Tuhan. Apa kita aware? Dalam film Wallstreet, Gordon Gekko berkata kepada seorang pialang muda bahwa uang tidak pernah tertidur, dia selalu terjaga bahkan ketika kita tertidur untuk terus menggoda kita agar menyerah kepadanya. Apakah kita aware? Kalau uang bukan lagi sekedar uang buat kita tapi menggoda kita untuk menjadikannya mamon? Apa itu? Lawan Tuhan, yang disejajarkan dengan Tuhan. Tuhan Yesus sendiri berkata, kamu tidak mungkin mengasihi Allah dan mamon, kalau mencoba mengasihi keduanya maka pasti mamon akan jadi yang utama. Pasti! Kok bisa? Tuhan Yesus kemudian memberikan contoh kehidupan para pemimpin agama saat itu yang kelihatan beriman tetapi mencintai uang (Lukas 16:13-14). Gereja juga ‘nggak luput kuatir akan uang dan begitu yang dikuatirkan adalah uang maka pasti Tuhan Yesus akan disingkirkan. Ini bukan perkataan saya tapi Tuhan Yesus sendiri. Kiranya kemurahan Allah mengasihani kita semua.

 

Lalu bagaimana? Pertama, kita harus mengakui bahwa kita sulit untuk tidak mencintai uang. Sekali lagi, akar segala kejahatan bukan uang tapi cinta uang. Ya, pandemi ini telah membuka semuanya, apa lagi yang kita mau coba tutupi. Selama ini keliatannya fine-fine saja karena situasi seakan begitu memberkati kita. Allah seakan mengambil risiko melalui situasi ini untuk ‘seakan berani sakit hati’ melihat anak-anak-Nya lebih mencintai uang dan rela mensejajarkannya dengan Diri-Nya. Betapa menistanya kita, Tuhan kita sejajarkan dengan uang? Tapi, langkah berikutnya ada, yaitu jangan pergi berpaling dari Yesus seperti orang muda yang kaya itu, tapi berlutut dan mohon Tuhan Yesus mengajarkan bahasa kasih-Nya kepada kita. “Ajar kami Tuhan, kuduskan hati kami Tuhan, agar mengasihi-Mu.” Maka langkah –langkah kecil dibukakan untuk kita. Entah kita belajar berbelas kasihan kepada yang berkekurangan. Atau kita diberikan belas kasihan kepada sesama yang harus ditolong. Atau kita belajar bersyukur melalui persembahan di tengah kekurangan, rasa kurang tepatnya. Atau kita menahan diri untuk berpikir terlalu besar, tetapi belajar melihat apa yang ada sehari demi sehari.

 

Dulu, saya pikir saya masih lebih baik dari pendeta-pendeta lain yang bingung dengan keuangan gerejanya. Tapi nyatanya sama saja, saya juga manusia yang mencintai uang, cuma saya ‘nggak cukup punya keberanian untuk mengakui itu, atau karena saat ini saya bukan penanggung jawab besar di gereja. Lebih mudah untuk bicara memang kalau seperti itu kondisinya.

Tapi di saat kita berani membuka diri dan merendahkan diri di hadapan Allah, maka ketika Allah berkarya menolong dan memampukan kita maka di sanalah kita memahami bahwa memang manusia bukan hidup dari roti saja tapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Amin. Tolonglah kami, ya Tuhan Yesus.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar