“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
1 Timotius 6:10
Terus terang salah satu pergumulan di masa pandemi ini adalah tentang aspek
ekonomi, yang artinya itu berkaitan dengan uang. Saya tidak ingin sok suci
dengan mengatakan uang itu tidak penting. No! Kita hidup di dunia di mana uang
adalah alat tukar kita untuk mendapatkan sesuatu termasuk membeli kebutuhan
hidup kita. Maka, uang itu penting. Lalu apa artinya? Akan menjadi masalah
begitu uang ‘menyelinap naik’ dan menggantikan tempat Tuhan sebagai penguasa
dan penentu hidup kita. Kita pikir dengan mempertahankan cukup uang maka kita
memiliki keyakinan diri bahwa kita mampu melewati pandemi
ini. Sekali lagi, bukan uang itu tidak penting, bukan uang itu tidak
perlu diperhitungkan, tetapi “di mana” ‘uangmu’ sekarang? Atau kalau meminjam
ayat firman Tuhan di atas, apakah cintamu sudah tertuju padanya(=uang)? Karena akar segala
kejahatan bukan uang tapi cinta uang.
Apa yang terjadi kemudian? Cinta uang membuat seseorang mengejar uang dan
menyimpang dari iman bahkan rela untuk menyiksa diri dengan berbagai duka. Rela
menderita demi uang bahkan merendahkan diri, menjual muka, mencoreng muka,
semua demi uang. Apa contohnya? Anak-anak kita hanya dinilai dengan uang saat
ini. Kok bisa? Ya, contoh yang paling mudah adalah masalah pendidikan
mereka. Dalam iman kita, harusnya segala konsekuensi akibat pandemi
ini disikapi dengan iman termasuk pendidikan anak-anak kita. Tapi kita lebih
memakai perhitungan untung rugi daripada iman. Saat Tuhan memberi kesempatan
kita berperan lebih besar untuk pendidikan anak-anak kita sendiri, ANAK
KANDUNG! Kita malah marah-marah dan menyalahkan sekolah yang juga ‘nggak tahu
mesti menyalahkan siapa lagi? Kenapa? UANG, aku sudah bayar, ‘kok aku yang
harus repot?! Sebenarnya jalan keluar untuk hal ini mudah, mungkin ini saatnya
mencari sekolah sesuai keinginan kita maka selesai masalahnya. Tapi kita juga
nggak mau karena kuatir masa depannya. Lalu? Karena uang beberapa orang tanpa
malu memperjuangkan sesuatu dengan mengorbankan nilai-nilai kehidupan yang
lebih besar. Trust, rasa hormat, telah disejajarkan dengan uang. Sekali lagi,
saya bukan berkata uang ‘nggak penting, tapi kita harus “aware” kalau uang
sedang menggoda kita untuk terpikat dengannya dan membuat kita pelan-pelan mati
rasa dengan iman kita kepada Tuhan. Apa kita aware? Dalam film Wallstreet,
Gordon Gekko berkata kepada seorang pialang muda bahwa uang tidak pernah
tertidur, dia selalu terjaga bahkan ketika kita tertidur untuk terus menggoda
kita agar menyerah kepadanya. Apakah kita aware? Kalau uang bukan lagi sekedar
uang buat kita tapi menggoda kita untuk menjadikannya mamon? Apa itu? Lawan
Tuhan, yang disejajarkan dengan Tuhan. Tuhan Yesus sendiri berkata, kamu tidak
mungkin mengasihi Allah dan mamon, kalau mencoba mengasihi keduanya maka pasti
mamon akan jadi yang utama. Pasti! Kok bisa? Tuhan Yesus kemudian memberikan
contoh kehidupan para pemimpin agama saat itu yang kelihatan beriman tetapi
mencintai uang (Lukas 16:13-14). Gereja juga ‘nggak luput kuatir akan uang dan
begitu yang dikuatirkan adalah uang maka pasti Tuhan Yesus akan disingkirkan.
Ini bukan perkataan saya tapi Tuhan Yesus sendiri. Kiranya kemurahan Allah
mengasihani kita semua.
Lalu bagaimana? Pertama, kita harus mengakui bahwa kita sulit untuk tidak
mencintai uang. Sekali lagi, akar segala kejahatan bukan uang tapi
cinta uang. Ya, pandemi ini telah membuka semuanya, apa lagi yang kita mau coba
tutupi. Selama ini keliatannya fine-fine saja karena situasi seakan begitu
memberkati kita. Allah seakan mengambil risiko melalui situasi ini untuk
‘seakan berani sakit hati’ melihat anak-anak-Nya lebih mencintai uang dan rela
mensejajarkannya dengan Diri-Nya. Betapa menistanya kita, Tuhan kita sejajarkan
dengan uang? Tapi, langkah berikutnya ada, yaitu jangan pergi berpaling dari
Yesus seperti orang muda yang kaya itu, tapi berlutut dan mohon Tuhan Yesus
mengajarkan bahasa kasih-Nya kepada kita. “Ajar kami Tuhan, kuduskan hati kami
Tuhan, agar mengasihi-Mu.” Maka langkah –langkah kecil dibukakan untuk kita.
Entah kita belajar berbelas kasihan kepada yang berkekurangan. Atau kita
diberikan belas kasihan kepada sesama yang harus ditolong. Atau kita belajar
bersyukur melalui persembahan di tengah kekurangan, rasa kurang tepatnya. Atau
kita menahan diri untuk berpikir terlalu besar, tetapi belajar melihat apa yang
ada sehari demi sehari.
Dulu, saya pikir saya masih lebih baik dari pendeta-pendeta lain yang
bingung dengan keuangan gerejanya. Tapi nyatanya sama saja, saya juga manusia
yang mencintai uang, cuma saya ‘nggak cukup punya keberanian untuk mengakui
itu, atau karena saat ini saya bukan penanggung jawab besar di gereja. Lebih
mudah untuk bicara memang kalau seperti itu kondisinya.
Tapi di saat kita berani membuka diri dan merendahkan diri di hadapan
Allah, maka ketika Allah berkarya menolong dan memampukan kita maka di sanalah
kita memahami bahwa memang manusia bukan hidup dari roti saja tapi dari setiap
Firman yang keluar dari mulut Allah. Amin. Tolonglah kami, ya Tuhan Yesus.