Sudah beberapa bulan ini kita menjalani masa belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Apa yang kita rasakan? Beberapa dari kita ingin situasi seperti ini segera berakhir sehingga bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Beberapa dari kita mungkin berharap situasi seperti ini jangan cepat berlalu karena kita menemukan sesuatu yang baik di dalamnya. Sulitnya adalah situasi ini disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak mudah kita kendalikan, sehingga kita berada dalam posisi menanti sambil tetap bekerja dan beraktivitas sebisanya dengan terus menaruh pengharapan di dalam Tuhan.
Uniknya, kita adalah makhluk yang adaptif, yang terus mencoba untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Seperti yang terjadi saat ini ketika Covid-19 sudah mengguncang zona nyaman dan sistem hidup yang selama ini sudah terbangun dan “settle.” Pada awalnya kita merasa sangat terganggu sekali, tetapi kita terus bergerak (sadar atau tidak sadar) untuk menemukan “titik tenang” dalam menyikapi problem hidup ini. Setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan di dalam perjalanan menuju “titik tenang” ini, ada yang cepat tetapi ada juga yang lambat bergantung dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Tetapi kita semua sedang mengarah ke sana karena kita ingin menemukan kembali sistem hidup yang sempat hilang tersebut, walau tidak harus sama seperti sebelumnya. Problemnya adalah sistem hidup yang baru itu apakah berdampak baik bagi kehidupan kita atau justru, tanpa kita sadari, malah mendegradasi kehidupan kita?
Salah satu sistem hidup yang diguncang oleh kehadiran Covid-19 ini adalah berkaitan dengan kehidupan kerohanian kita, yaitu relasi kita dengan Tuhan termasuk Gereja-Nya. Sekarang rumah kita adalah tempat ibadah kita. Jadwal pelayanan kita menjadi berkurang karena Gereja harus selektif dalam memilih pelayannya atau sebaliknya malah makin sibuk karena kompetensi kita dibutuhkan oleh Gereja di saat-saat seperti ini. Kita berusaha beradaptasi dengan hal itu. Maka izinkan saya mengajak Anda untuk “berhenti sejenak” dengan menjawab beberapa pertanyaan reflektif di akhir tulisan ini (jawablah beberapa pertanyaan tersebut dalam situasi yang tenang tanpa banyak gangguan sehingga tidak terburu-buru dan ada waktu untuk berefleksi). Yang penting, jangan jatuh dalam rasa bersalah berlebihan atau malah sombong rohani, tetapi hendaknya ini menjadi sebuah refleksi pribadi (atau bersama pasangan) dan bahan doa di hadapan Tuhan. Kemudian kita mencoba melangkah ke depan, dengan pertolongan Tuhan, untuk merubah atau membentuk kembali sistem hidup yang membangun.
Jadi, ‘yuk berhenti sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini berdasarkan kondisi Anda yang sesungguhnya selama beberapa bulan ini.
Apakah Anda mengikuti ibadah setiap minggu (baik online ataupun ibadah keluarga)? (Ya/Tidak rutin/Sudah hampir tidak pernah).
Gereja yang Anda ikuti ibadah onlinenya? (Gereja sendiri/Gereja lain/Bergantian) Apa alasannya Anda mengikuti ibadah Gereja lain? (Gereja sendiri tidak ada ibadah online/ Keinginan pribadi/Menambah wawasan).
Apakah Anda mengikuti ibadah online sesuai waktu yang ditentukan gereja? (Ya/Menyesuaikan dengan kondisi saya).
Bagaimana kehidupan saat teduh Anda dengan Tuhan dan firman-Nya? (Makin baik/Berusaha menjaga/Hampir tidak pernah)
Bagaimana kehidupan doa Anda bersama Tuhan? (Makin baik/Berusaha menjaga/Hampir tidak pernah)
Apa yang menjadi hambatan untuk bersaat teduh/berdoa? (Tidak ada/Mengurus rumah tangga/Kesibukan kerja di rumah/Lain-lain/Malas)
Bagaimana perasaan Anda ketika menjalani kondisi saat ini? (Tenang/Kuatir/Biasa saja)
Secara umum, apakah kesulitan saat ini membuat Anda makin bertumbuh dan ingin dekat dengan Tuhan? (Ya/Biasa saja/Tidak terpikir)
* Jika melihat jawaban-jawaban di atas, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anda dan apa yang Anda ingin doakan kepada Tuhan untuk perjalanan kehidupan ke depan?
Mengapa mesti berhenti sejenak dan memikirkan kembali kehidupan rohani kita di masa karantina ini? Kehidupan rohani berkaitan dengan relasi dan hati kita kepada Tuhan, yang berdampak dalam pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Sehingga apa yang dicari melalui beberapa pertanyaan reflektif di atas bukan jawaban ya atau tidak atau bukan siapa lebih rohani atau kurang rohani. Tetapi lebih dalam dari itu, agar jangan sampai kita menjadi “ilfil” atau “ilang rasa” sama Tuhan. Apakah Anda sedang dalam kondisi tersebut di saat seperti ini? Atau sebaliknya, feeling/rasa Anda kepada Tuhan tidak pernah sekuat seperti ini sebelumnya? Atau situasi ini membukakan kondisi kerohanian kita yang tidak pernah disadari sebelumnya? Kesulitan hidup memang bisa membuat seseorang menyadari akan Tuhan dan termotivasi untuk membangun kehidupan rohani yang lebih baik dari sebelumnya. Sebaliknya kesulitan bisa membuat seseorang makin terpuruk dan mengasihani diri sendiri, atau malah masa bodoh dengan situasi yang ada bahkan terhadap Tuhan dan hal-hal rohani. Jangan sampai kesulitan saat ini justru membentuk sistem hidup rohani yang tanpa sadar bisa mendegradasi kerohanian kita karena Gereja sekarang hanya sejauh jempol, mouse, atau remote TV kita, dengan kata lain “hal rohani menjadi begitu nyaman”.
Kehidupan kita dengan Allah di dalam Tuhan Yesus adalah relasi kepemilikan dan bukan sebuah kontrak dagang atau bisnis yang saling menguntungkan. Begitu eratnya relasi itu sehingga kita dapat memanggil-Nya sebagai Bapa. Itulah mengapa relasi dengan Dia harus dijaga dan ditumbuhkan karena Dia adalah Bapa kita. Ketika Anda berhenti sejenak dan menemukan dengan terang pertolongan Tuhan bahwa: “Tuhan, aku rasanya ilang filing sama Kamu,” maka datanglah pada-Nya. Ingatlah janji firman-Nya dalam Yesaya 42:3: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” Justru kita membutuhkan Dia untuk kembali menumbuhkan kasih yang mula-mula itu (Wahyu 2:4). Tuhan tidak pernah ilang rasa sama kita, maka jangan biarkan rasa Anda kepada Tuhan perlahan-lahan mulai hilang. Biarlah Ibadah Minggu nanti menjadi awal yang baru di dalam Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar