Kamis, Agustus 06, 2020

Surat untuk Para Pendidik




Para Pendidik yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. 

Sudah beberapa bulan ini kita berada dalam situasi yang sulit dan tidak biasa ini. Tentunya karena kita sedang menghadapi hal yang sama seperti yang dihadapi semua orang, yaitu pandemi Covid-19 dengan semua aspek yang dipengaruhinya, seperti kesehatan, sosial, ekonomi, dsb. Termasuk bagi beberapa dari Anda yang adalah orang tua, kita juga mengalami apa yang namanya work from home sambil membimbing anak-anak untuk home learning. 


Tetapi terkhusus sebagai pendidik, kita juga mengalami yang lebih dari itu, yang orang lain mungkin tidak mudah untuk memahaminya. 

Pertama, yang kita semua makin merasakannya, yaitu kita kehilangan sekali yang dinamakan “personal touch”, salah satu hal yang kita butuhkan dalam mendidik. Semua yang serba virtual ini menghasilkan “lubang” dalam proses pendidikan yang kita sedang kerjakan saat ini. 
Kedua, kita bisa kehilangan afirmitas diri (keajegan), karena seakan semua yang kita lakukan sekarang sebagai pendidik tidak lagi firm/ajeg. Terutama akan terasa sekali bagi Anda yang baru saja memulai profesi ini, yang sedang berusaha beradaptasi dan menemukan keajegan dengan profesi ini. Apa yang kita lakukan dan siapkan selalu ada kurangnya dan mudah disalahkan. Kita bertanya-tanya apakah semua yang kita siapkan tersampaikan dengan baik kepada para siswa dan orang tua mereka. Apakah semua yang kita perbuat ini dihargai atau jangan-jangan hanya dianggap angin lalu? 
Ketiga, kita bisa kehilangan “sense of calling,” atau terputus dalam perjalanan mencari panggilan Tuhan bagi kita saat ini terutama panggilan sebagai pendidik. Saya berdoa agar ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita. Justru di saat seperti ini kita sadar betapa signifikannya kehadiran kita sebagai pendidik. Ya, kita bukan orang tua para siswa itu, tapi apa yang terjadi beberapa bulan ini menyadarkan kita bahwa kehadiran para pendidik dalam hidup sebuah keluarga adalah sesuatu yang tidak mudah dicari penggantinya. Ini tidak mudah dipahami karena dunia saat-saat sekarang ini “memaksa” setiap orang mengukur semuanya dengan materi. Tetapi jangan sampai “calling” kita perlahan-lahan mulai hilang karena tergerus dengan situasi ini. 


Lalu bagaimana? 
Kitab Suci mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Secara sederhana ayat ini memberikan satu pelajaran agar kita belajar menjalani hidup yang penuh kekuatiran ini satu hari demi satu hari. Apa artinya? 

(1) Berjalan menjalani hidup sehari demi sehari bukan berarti kita tidak memikirkan dan mempersiapkan hari depan. Tetapi biarlah apa yang memang menjadi bagian Tuhan diserahkan kepada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan seperti “sampai kapan kita seperti ini?” “Bagaimana dengan ini dan itu dalam hidupku?” “Bagaimana ke depan ini?” Atau pertanyaan lain yang kita sadar tidak bisa dijawab dan dikendalikan sepenuhnya, yang kalau kita terus berkutat di dalamnya hanya mendatangkan apa yang tidak baik dalam pikiran, emosi, dan tindakan kita. Mari kita belajar menyerahkannya kepada Tuhan sambil mengimani: “Be still and know that He is God.” Kita saat ini seperti ada dalam pasir hisap atau tenggelam di laut, yang kalau kita makin meronta malah makin tenggelam. Tapi biarlah kita belajar “tenang”, “be still”, “cease striving” (berhenti meronta) dalam Tangan Allah yang kuat yang sedang memegang dan menolong kita. Maka, jangan kita melepaskan relasi dengan Tuhan di dalam waktu yang sulit ini, yang bagi beberapa orang bisa menimbulkan tekanan hidup dan depresi. Mari belajar bersyukur, berdoa, dan mencari kehendak-Nya sehari demi sehari. Salah satu contoh seperti pemazmur yang tidak membiarkan semua tekanan hidup bergulat dalam dirinya. Dia belajar membawanya dalam pergumulan kepada Tuhan, dalam ratapan, keluhan, emosi yang kadang begitu terbuka di hadapan Tuhan, untuk menemukan bahwa Allahlah gunung batu, kota benteng, dan perlindungannya. 

(2) Melakukan apa yang bisa kita temui hari ini untuk dilakukan sebaik-baiknya. Kita memikirkan dan melakukan yang terbaik yang kita mampu untuk mencukupi keluarga kita, mengatur rumah tangga bersama pasangan, dan mendidik anak-anak kita sendiri dan para siswa yang dipercayakan kepada kita. Salah-kurang, merasa gagal, disalah pahami pasti ada, di sanalah kita berproses bersama-sama untuk makin bertumbuh dengan pertolongan Tuhan. 

(3) Kita bisa meminta agar kasih Tuhan melingkupi dan membantu kita untuk berempati dengan orang lain. Sehingga kita dihindarkan dari mengasihani diri sendiri (“self pity”) atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang hanya menimbulkan iri hati, sikap merasa menjadi victim, sikap menuntut, atau sombong. Sebaliknya biarlah kita rindu untuk bisa menjadi berkat, bagaimanapun dan seberapapun terbatasnya kita. 


Pandemi Covid-19 bukan lagi sekedar tantangan dalam kehidupan fisik dan materi kita, tetapi juga menjadi tantangan iman kita. Maka biarlah kita menjalani ini bersama Tuhan yang berjanji tidak pernah meninggalkan kita. Dan dalam kemurahan kasih-Nya, kita memohon supaya Dia segera melekaskan situasi ini. Amin. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar