Pada bagian yang pertama, kita diingatkan untuk berjalan bersama
anak-anak kita di tengah masa pandemi ini, yaitu bagaimana iman kita nampak
ketika kita menemani dan membantu mereka dalam pembelajaran jarak jauh yang
mereka hadapi setiap hari.
Sekarang yang kedua, yaitu bagaimana iman kita nampak dalam sikap kita menghadapi situasi kehidupan kita sendiri sebagai orang tua. Sekali
lagi, kita sadari atau tidak sadari, anak-anak akan memperhatikan bagaimana cara
orang tuanya menghadapi tantangan dan kesulitan hidup mereka. Bagaimana kita
mengatasi kesulitan rumah tangga kita? Bagaimana orang tuanya menyelesaikan
konflik? Bagaimana sikap orang tuanya ketika menghadapi pandemi ini dengan
segala aspek yang dipengaruhinya dalam rumah tangga mereka? Apakah karakter
orang tuanya nampak dengan jelas, tentunya karakter yang makin dikuduskan dan
diubah Tuhan sehari demi sehari? Ataukah yang nampak adalah respons instinct
semata, marah berlebihan, menyalah-nyalahkan, saling bertengkar, selalu
mengeluh, dan semacamnya. Bisa jadi anak-anakpun akan menjadi sasaran karena
merekalah pihak yang lemah di dalam keluarga yang bisa menjadi sasaran tembak dari
kemarahan atau ketidakpuasan orang tua yang sebenarnya ditujukan kepada orang
lain.
Melihat respons yang negatif tersebut, maka saya diingatkan akan sebuah screenshot yang pernah dikirim seorang teman kepada saya. Di sana tertulis tentang 5 ciri-ciri seorang pribadi yang “sulit”, yaitu
- Segala sesuatu selalu dipusatkan kepada mereka (egois)
- Mereka adalah orang yang perkataannya ‘beracun’, sehingga provokatif
- Mereka menganggap diri mereka sebagai korban, sehingga akan self-pity atau selalu menuntut keinginannya dipenuhi
- Mereka buta terhadap apa yang seharusnya jelas terlihat, sehingga tidak peka terhadap orang lain atau kelemahan diri sendiri
- Mereka sangat perhitungan (itung-itungan), sehingga mereka tidak rela rugi walaupun harus mengorbankan orang lain
Screenshot di atas adalah slide dari sebuah webinar yang diadakan di
masa pandemi ini, yang mengingatkan apakah saya ketika menghadapi pandemi ini
bersikap atau memakai sikap seperti itu? Apakah itu juga yang
terjadi dalam kehidupan Anda? Apakah itu yang dilihat oleh anak-anak dalam diri
kita? Atau itu yang tanpa sadar kita ajarkan kepada anak-anak di masa sulit ini?
Maka, sebenarnya untuk berjalan bersama anak-anak di masa sulit ini, hal
pertama yang harus kita tanyakan adalah bagaimana sebenarnya relasi kita
(sebagai ortu) dengan Tuhan di masa sulit ini? Sebuah pepatah rohani mengatakan:
It’s not a parent’s responsibility to have a godly
children. It’s a parent’s responsibility to make sure their children have godly
parents.
Jadi bukan masalah apakah anak-anakku saat ini ada di sekolah Kristen
yang baik, ikut ibadah yang baik, belajar doktrin yang baik. Ya, itu penting.
Tetapi pertanyaan mendasarnya adalah apakah kita sendiri adalah orang tua yang
saleh bagi anak-anak kita? Sering, atau tanpa sadar, kita menuntut dan ingin
anak-anak kita menjadi orang saleh tanpa kita menuntutnya kepada diri kita
sendiri. Bagaimana kehidupan ibadah kita di masa-masa online ini? Kehidupan
doa, saat teduh, firman Tuhan? Apakah kita punya kepekaan, “ngeh”, ketika ada
reaksi, pikiran, atau sikap yang tidak diperkenan Tuhan atau tidak sesuai
dengan firman Tuhan ketika hidup di tengah-tengah situasi yang tidak mudah ini?
Lalu bagaimana?
Saat ini situasi ujian kehidupan kita tidak sama seperti Abraham dan
Ishak, tetapi Tuhan yang menyertai kita adalah Tuhan yang saat itu menyertai Abraham
dan Ishak dalam perjalanan iman ke gunung di tanah Moria. Siapakah Dia? Abraham
mengatakan bahwa Dia adalah “Allah yang Menyediakan”. Seringkali sebutan ini
kita pakai untuk mengaminkan bahwa Dia akan menyediakan segala kebutuhan kita,
yang problemnya adalah kita sendiri sulit membedakan antara keinginan dan
kebutuhan kita. Kita seringkali mencampur-adukkan antara keinginan dan
kebutuhan kita, sampai-sampai kita ‘nggak ‘ngeh lagi apa yang menjadi kebutuhan
kita yang perlu disampaikan kepada Tuhan karena kita sangat bergantung
kepada-Nya.
“Allah yang Menyediakan” adalah Allah yang menyediakan “Anak Domba
Paskah” di dalam Tuhan Yesus bagi penebusan dosa kita, sehingga kita yang
percaya disebut sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak-Nya kita bisa datang
kepada Bapa, Allah yang menyediakan itu, untuk memohon apa yang menjadi
kebutuhan kita saat ini. Kebutuhan yang kita perlukan untuk menghidupi iman
kita dalam perjalanan kehidupan bersama anak-anak saat ini. Apa yang menjadi
kebutuhan kita? Kesabaran untuk menemani dan menjadi teladan perubahan? Damai
sejahtera dan pengharapan di dalam kekalutan dan kesulitan yang menggoyahkan iman
kita? Kebutuhan sehari-hari, seperti doa kepada Bapa untuk memberikan kepada
kita makanan secukupnya setiap hari? Hikmat untuk menjalani hari-hari tidak
mudah ini? Atau kasih dari surga untuk mengasihi pasangan dan anak-anak kita
karena kita sadar betapa kurangnya dan tidak mampunya kita mengasihi mereka? Atau kita hanya datang dalam ketidakmengertian untuk berkata, "Bapa tolonglah aku ini." Maukah
kita datang dan merendahkan diri seraya meminta kepada-Nya? Roma 8:32
mengatakan:
Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri,
tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak
mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Masakan Allah yang sudah memberikan Anak-Nya kepada kita akan membiarkan
kita ketika kita memohon pertolongan untuk hidup memperkenankan-Nya? Justru
karena kita sudah mendapatkan Anak-Nya, maka kita mempunyai keberanian untuk
mendekat dan memohon kepada-Nya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk melewati waktu-waktu yang tidak mudah ini. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar