Judul di atas adalah satu hal yang menjadi pemikiran saya ketika
menjalani masa pandemi Covid-19 ini bersama keluarga. Apa yang akan anak-anak
saya ingat saat menjalani masa pandemi Covid-19 bersama kami, orang tuanya? Hal
yang diingat yang nantinya akan “kembali berbicara” kepada mereka ketika
menghadapi kesulitan atau krisis di masa depan. Hal ini juga yang saya sadari
ketika berjalan di tengah pandemi ini, di mana saya kembali teringat akan kenangan
saya bersama keluarga di masa krisis 1998-1999. Ketika itu saya seorang anak,
tetapi sekarang saya seorang kepala keluarga yang bersama isteri sedang
memimpin anak-anak kami melewati pandemi ini. Jadi, apa yang akan diingat
anak-anak saya? Pertanyaan ini berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana
saya mesti berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini?
Salah satu ayat firman Tuhan yang saya ingat adalah dari Kejadian 22:7-8.
Berbunyi demikian,
Lalu
berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham:
"Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu,
tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
Sahut
Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran
bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
Kejadian 22 adalah kisah tentang ujian iman yang dihadapi Abraham,
berkaitan dengan permintaan Tuhan agar Abraham mengorbankan Ishak, anak yang
dikasihinya. Walaupun ini ujian iman untuk Abraham, tetapi Ishak sendiri
terlibat, mengalami dan ikut merasakan, terutama bagaimana dia dan ayahnya
menjalani ujian iman tersebut. Bagaimana dia dan ayahnya berjalan menuju Gunung
Moria dan kemudian bertanya, “Di mana anak domba untuk korban bakaran?” Tanpa
dia mengerti bahwa dialah korban itu. Tetapi apa yang Abraham katakan saat itu
bahwa Allahlah yang akan menyediakan benar-benar terjadi. Padahal waktu itu Ishak
sudah terikat di atas mezbah siap untuk dkorbankan. Sebuah pengalaman
perjalanan iman seorang anak bersama ayahnya, yang menjadi ingatan untuk kita
sebagai orang tua ketika bersama anak-anak menjalani masa yang tidak mudah
ini.
Bagaimana kita akan berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini?
Jawabannya adalah bagaimana iman kita nampak dalam hidup kita ketika:
Pertama, memperhatikan dan menolong anak-anak menghadapi tantangan ketika menjalani situasi ini, salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ, home learning). Bagi anak, sekolah adalah salah satu tantangan besar dalam hidup mereka, selain di antaranya adalah pertemanan, keluarga, dan imannya.
Saat ini rasanya tidak ada orang tua yang tidak terlibat dalam proses
pembelajaran anak-anak mereka karena ruang kelas telah berpindah ke rumah. Oleh
karena itu, sebagai orang tua, kita bisa memilih sikap, yaitu mengeluh dan
ngomel karena ‘seperti mendapat tugas tambahan’ (refleksi: apakah mendidik anak
adalah tugas tambahan bagi orang tua?), masa bodoh, atau mencoba dan
mengusahakan sikap yang tepat. Sebagai anak Tuhan tentunya iman kitalah yang seharusnya
berbicara dalam situasi seperti ini. Apakah anak-anak melihat bagaimana iman
orang tuanya nampak di dalam situasi seperti ini?
Banyak cerita kita dapatkan tentang orang tua dan PJJ anak-anak mereka.
Dari yang mengusahakan kecukupan gadget bagi anak-anak mereka. Mengusahakan
sambungan internet, ruang belajar yang nyaman, bahkan waktu dan tenaga untuk
menemani anak-anak belajar. Bahkan sampai ada yang mengorbankan gadgetnya untuk
sementara “dijajah” anak-anak pada waktu-waktu belajar mereka. Bagaimanapun,
sadar atau tidak kita sadari, saat ini ataupun nanti, anak-anak merasakan apa
yang orang tuanya sedang lakukan, sebagai wujud iman, kepada mereka.
Menjalani situasi PJJ ini, beberapa orang tua mensharingkan betapa mereka menyadari
bahwa diri mereka ternyata bukanlah orang tua yang baik-baik amat bagi
anak-anaknya. “Tak pikir saya ini sudah baik sebagai Ibu, ternyata kesabaranpun
saya tak punya,” begitu keluh para Ibu. Di grup WA berseliweran gambar-gambar
yang menyindir tetapi disikapi dengan guyon, misalnya transformasi seorang ibu
dari Barney, dinosaurus lucu, menjadi T-Rex yang mengerikan; atau gambar
seorang anak yang meminta dengan sangat supaya sekolah dibuka kembali karena
ibunya lebih mengerikan daripada Gurunya. Tetapi satu hal yang kita ingat
adalah seperti yang dikatakan Howard Hendricks dalam bukunya “Mengajar untuk
Mengubah Hidup.” Hendricks mengatakan bahwa para siswa tidak mencari “faculty”
(Guru/Staf) yang sempurna, tetapi yang bertumbuh. Maka bisalah saya mengatakan
bahwa anak-anak tidak mencari orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang
bertumbuh di dalam Tuhan. Kiranya masa-masa ini menjadi sebuah masa penuh
kesempatan bagi kita sebagai orang tua, masa untuk bertumbuh dalam iman kita
sembari menemani anak-anak kita melewati perjalanan kehidupan bersama.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar