Senin, Agustus 10, 2020

Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Saya? (Part 1)

Judul di atas adalah satu hal yang menjadi pemikiran saya ketika menjalani masa pandemi Covid-19 ini bersama keluarga. Apa yang akan anak-anak saya ingat saat menjalani masa pandemi Covid-19 bersama kami, orang tuanya? Hal yang diingat yang nantinya akan “kembali berbicara” kepada mereka ketika menghadapi kesulitan atau krisis di masa depan. Hal ini juga yang saya sadari ketika berjalan di tengah pandemi ini, di mana saya kembali teringat akan kenangan saya bersama keluarga di masa krisis 1998-1999. Ketika itu saya seorang anak, tetapi sekarang saya seorang kepala keluarga yang bersama isteri sedang memimpin anak-anak kami melewati pandemi ini. Jadi, apa yang akan diingat anak-anak saya? Pertanyaan ini berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana saya mesti berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini?

 

Salah satu ayat firman Tuhan yang saya ingat adalah dari Kejadian 22:7-8. Berbunyi demikian,

 

Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"

Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

 

Kejadian 22 adalah kisah tentang ujian iman yang dihadapi Abraham, berkaitan dengan permintaan Tuhan agar Abraham mengorbankan Ishak, anak yang dikasihinya. Walaupun ini ujian iman untuk Abraham, tetapi Ishak sendiri terlibat, mengalami dan ikut merasakan, terutama bagaimana dia dan ayahnya menjalani ujian iman tersebut. Bagaimana dia dan ayahnya berjalan menuju Gunung Moria dan kemudian bertanya, “Di mana anak domba untuk korban bakaran?” Tanpa dia mengerti bahwa dialah korban itu. Tetapi apa yang Abraham katakan saat itu bahwa Allahlah yang akan menyediakan benar-benar terjadi. Padahal waktu itu Ishak sudah terikat di atas mezbah siap untuk dkorbankan. Sebuah pengalaman perjalanan iman seorang anak bersama ayahnya, yang menjadi ingatan untuk kita sebagai orang tua ketika bersama anak-anak menjalani masa yang tidak mudah ini. 

 

Bagaimana kita akan berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini? Jawabannya adalah bagaimana iman kita nampak dalam hidup kita ketika:

Pertama, memperhatikan dan menolong anak-anak menghadapi tantangan ketika menjalani situasi ini, salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ, home learning). Bagi anak, sekolah adalah salah satu tantangan besar dalam hidup mereka, selain di antaranya adalah pertemanan, keluarga, dan imannya.

Saat ini rasanya tidak ada orang tua yang tidak terlibat dalam proses pembelajaran anak-anak mereka karena ruang kelas telah berpindah ke rumah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita bisa memilih sikap, yaitu mengeluh dan ngomel karena ‘seperti mendapat tugas tambahan’ (refleksi: apakah mendidik anak adalah tugas tambahan bagi orang tua?), masa bodoh, atau mencoba dan mengusahakan sikap yang tepat. Sebagai anak Tuhan tentunya iman kitalah yang seharusnya berbicara dalam situasi seperti ini. Apakah anak-anak melihat bagaimana iman orang tuanya nampak di dalam situasi seperti ini?

Banyak cerita kita dapatkan tentang orang tua dan PJJ anak-anak mereka. Dari yang mengusahakan kecukupan gadget bagi anak-anak mereka. Mengusahakan sambungan internet, ruang belajar yang nyaman, bahkan waktu dan tenaga untuk menemani anak-anak belajar. Bahkan sampai ada yang mengorbankan gadgetnya untuk sementara “dijajah” anak-anak pada waktu-waktu belajar mereka. Bagaimanapun, sadar atau tidak kita sadari, saat ini ataupun nanti, anak-anak merasakan apa yang orang tuanya sedang lakukan, sebagai wujud iman, kepada mereka.

 

Menjalani situasi PJJ ini, beberapa orang tua mensharingkan betapa mereka menyadari bahwa diri mereka ternyata bukanlah orang tua yang baik-baik amat bagi anak-anaknya. “Tak pikir saya ini sudah baik sebagai Ibu, ternyata kesabaranpun saya tak punya,” begitu keluh para Ibu. Di grup WA berseliweran gambar-gambar yang menyindir tetapi disikapi dengan guyon, misalnya transformasi seorang ibu dari Barney, dinosaurus lucu, menjadi T-Rex yang mengerikan; atau gambar seorang anak yang meminta dengan sangat supaya sekolah dibuka kembali karena ibunya lebih mengerikan daripada Gurunya. Tetapi satu hal yang kita ingat adalah seperti yang dikatakan Howard Hendricks dalam bukunya “Mengajar untuk Mengubah Hidup.” Hendricks mengatakan bahwa para siswa tidak mencari “faculty” (Guru/Staf) yang sempurna, tetapi yang bertumbuh. Maka bisalah saya mengatakan bahwa anak-anak tidak mencari orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang bertumbuh di dalam Tuhan. Kiranya masa-masa ini menjadi sebuah masa penuh kesempatan bagi kita sebagai orang tua, masa untuk bertumbuh dalam iman kita sembari menemani anak-anak kita melewati perjalanan kehidupan bersama.


(Bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar