Senin, Agustus 10, 2020

Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Saya? (Part 2)

 

Pada bagian yang pertama, kita diingatkan untuk berjalan bersama anak-anak kita di tengah masa pandemi ini, yaitu bagaimana iman kita nampak ketika kita menemani dan membantu mereka dalam pembelajaran jarak jauh yang mereka hadapi setiap hari.

 

Sekarang yang kedua, yaitu bagaimana iman kita nampak dalam sikap kita menghadapi situasi kehidupan kita sendiri sebagai orang tua. Sekali lagi, kita sadari atau tidak sadari, anak-anak akan memperhatikan bagaimana cara orang tuanya menghadapi tantangan dan kesulitan hidup mereka. Bagaimana kita mengatasi kesulitan rumah tangga kita? Bagaimana orang tuanya menyelesaikan konflik? Bagaimana sikap orang tuanya ketika menghadapi pandemi ini dengan segala aspek yang dipengaruhinya dalam rumah tangga mereka? Apakah karakter orang tuanya nampak dengan jelas, tentunya karakter yang makin dikuduskan dan diubah Tuhan sehari demi sehari? Ataukah yang nampak adalah respons instinct semata, marah berlebihan, menyalah-nyalahkan, saling bertengkar, selalu mengeluh, dan semacamnya. Bisa jadi anak-anakpun akan menjadi sasaran karena merekalah pihak yang lemah di dalam keluarga yang bisa menjadi sasaran tembak dari kemarahan atau ketidakpuasan orang tua yang sebenarnya ditujukan kepada orang lain.

 

Melihat respons yang negatif tersebut, maka saya diingatkan akan sebuah screenshot yang pernah dikirim seorang teman kepada saya. Di sana tertulis tentang 5 ciri-ciri seorang pribadi yang “sulit”, yaitu

  1.  Segala sesuatu selalu dipusatkan kepada mereka (egois)
  2. Mereka adalah orang yang perkataannya ‘beracun’, sehingga provokatif
  3. Mereka menganggap diri mereka sebagai korban, sehingga akan self-pity atau selalu menuntut keinginannya dipenuhi
  4. Mereka buta terhadap apa yang seharusnya jelas terlihat, sehingga tidak peka terhadap orang lain atau kelemahan diri sendiri
  5. Mereka sangat perhitungan (itung-itungan), sehingga mereka tidak rela rugi walaupun harus mengorbankan orang lain

Screenshot di atas adalah slide dari sebuah webinar yang diadakan di masa pandemi ini, yang mengingatkan apakah saya ketika menghadapi pandemi ini bersikap atau memakai sikap seperti itu? Apakah itu juga yang terjadi dalam kehidupan Anda? Apakah itu yang dilihat oleh anak-anak dalam diri kita? Atau itu yang tanpa sadar kita ajarkan kepada anak-anak di masa sulit ini?

 

 

Maka, sebenarnya untuk berjalan bersama anak-anak di masa sulit ini, hal pertama yang harus kita tanyakan adalah bagaimana sebenarnya relasi kita (sebagai ortu) dengan Tuhan di masa sulit ini? Sebuah pepatah rohani mengatakan:

 

It’s not a parent’s responsibility to have a godly children. It’s a parent’s responsibility to make sure their children have godly parents.

 

Jadi bukan masalah apakah anak-anakku saat ini ada di sekolah Kristen yang baik, ikut ibadah yang baik, belajar doktrin yang baik. Ya, itu penting. Tetapi pertanyaan mendasarnya adalah apakah kita sendiri adalah orang tua yang saleh bagi anak-anak kita? Sering, atau tanpa sadar, kita menuntut dan ingin anak-anak kita menjadi orang saleh tanpa kita menuntutnya kepada diri kita sendiri. Bagaimana kehidupan ibadah kita di masa-masa online ini? Kehidupan doa, saat teduh, firman Tuhan? Apakah kita punya kepekaan, “ngeh”, ketika ada reaksi, pikiran, atau sikap yang tidak diperkenan Tuhan atau tidak sesuai dengan firman Tuhan ketika hidup di tengah-tengah situasi yang tidak mudah ini?

 

 

Lalu bagaimana?

Saat ini situasi ujian kehidupan kita tidak sama seperti Abraham dan Ishak, tetapi Tuhan yang menyertai kita adalah Tuhan yang saat itu menyertai Abraham dan Ishak dalam perjalanan iman ke gunung di tanah Moria. Siapakah Dia? Abraham mengatakan bahwa Dia adalah “Allah yang Menyediakan”. Seringkali sebutan ini kita pakai untuk mengaminkan bahwa Dia akan menyediakan segala kebutuhan kita, yang problemnya adalah kita sendiri sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan kita. Kita seringkali mencampur-adukkan antara keinginan dan kebutuhan kita, sampai-sampai kita ‘nggak ‘ngeh lagi apa yang menjadi kebutuhan kita yang perlu disampaikan kepada Tuhan karena kita sangat bergantung kepada-Nya.   

 

“Allah yang Menyediakan” adalah Allah yang menyediakan “Anak Domba Paskah” di dalam Tuhan Yesus bagi penebusan dosa kita, sehingga kita yang percaya disebut sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak-Nya kita bisa datang kepada Bapa, Allah yang menyediakan itu, untuk memohon apa yang menjadi kebutuhan kita saat ini. Kebutuhan yang kita perlukan untuk menghidupi iman kita dalam perjalanan kehidupan bersama anak-anak saat ini. Apa yang menjadi kebutuhan kita? Kesabaran untuk menemani dan menjadi teladan perubahan? Damai sejahtera dan pengharapan di dalam kekalutan dan kesulitan yang menggoyahkan iman kita? Kebutuhan sehari-hari, seperti doa kepada Bapa untuk memberikan kepada kita makanan secukupnya setiap hari? Hikmat untuk menjalani hari-hari tidak mudah ini? Atau kasih dari surga untuk mengasihi pasangan dan anak-anak kita karena kita sadar betapa kurangnya dan tidak mampunya kita mengasihi mereka? Atau kita hanya datang dalam ketidakmengertian untuk berkata, "Bapa tolonglah aku ini." Maukah kita datang dan merendahkan diri seraya meminta kepada-Nya? Roma 8:32 mengatakan:

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Masakan Allah yang sudah memberikan Anak-Nya kepada kita akan membiarkan kita ketika kita memohon pertolongan untuk hidup memperkenankan-Nya? Justru karena kita sudah mendapatkan Anak-Nya, maka kita mempunyai keberanian untuk mendekat dan memohon kepada-Nya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk melewati waktu-waktu yang tidak mudah ini. Amin.

Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Saya? (Part 1)

Judul di atas adalah satu hal yang menjadi pemikiran saya ketika menjalani masa pandemi Covid-19 ini bersama keluarga. Apa yang akan anak-anak saya ingat saat menjalani masa pandemi Covid-19 bersama kami, orang tuanya? Hal yang diingat yang nantinya akan “kembali berbicara” kepada mereka ketika menghadapi kesulitan atau krisis di masa depan. Hal ini juga yang saya sadari ketika berjalan di tengah pandemi ini, di mana saya kembali teringat akan kenangan saya bersama keluarga di masa krisis 1998-1999. Ketika itu saya seorang anak, tetapi sekarang saya seorang kepala keluarga yang bersama isteri sedang memimpin anak-anak kami melewati pandemi ini. Jadi, apa yang akan diingat anak-anak saya? Pertanyaan ini berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana saya mesti berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini?

 

Salah satu ayat firman Tuhan yang saya ingat adalah dari Kejadian 22:7-8. Berbunyi demikian,

 

Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"

Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

 

Kejadian 22 adalah kisah tentang ujian iman yang dihadapi Abraham, berkaitan dengan permintaan Tuhan agar Abraham mengorbankan Ishak, anak yang dikasihinya. Walaupun ini ujian iman untuk Abraham, tetapi Ishak sendiri terlibat, mengalami dan ikut merasakan, terutama bagaimana dia dan ayahnya menjalani ujian iman tersebut. Bagaimana dia dan ayahnya berjalan menuju Gunung Moria dan kemudian bertanya, “Di mana anak domba untuk korban bakaran?” Tanpa dia mengerti bahwa dialah korban itu. Tetapi apa yang Abraham katakan saat itu bahwa Allahlah yang akan menyediakan benar-benar terjadi. Padahal waktu itu Ishak sudah terikat di atas mezbah siap untuk dkorbankan. Sebuah pengalaman perjalanan iman seorang anak bersama ayahnya, yang menjadi ingatan untuk kita sebagai orang tua ketika bersama anak-anak menjalani masa yang tidak mudah ini. 

 

Bagaimana kita akan berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini? Jawabannya adalah bagaimana iman kita nampak dalam hidup kita ketika:

Pertama, memperhatikan dan menolong anak-anak menghadapi tantangan ketika menjalani situasi ini, salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ, home learning). Bagi anak, sekolah adalah salah satu tantangan besar dalam hidup mereka, selain di antaranya adalah pertemanan, keluarga, dan imannya.

Saat ini rasanya tidak ada orang tua yang tidak terlibat dalam proses pembelajaran anak-anak mereka karena ruang kelas telah berpindah ke rumah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita bisa memilih sikap, yaitu mengeluh dan ngomel karena ‘seperti mendapat tugas tambahan’ (refleksi: apakah mendidik anak adalah tugas tambahan bagi orang tua?), masa bodoh, atau mencoba dan mengusahakan sikap yang tepat. Sebagai anak Tuhan tentunya iman kitalah yang seharusnya berbicara dalam situasi seperti ini. Apakah anak-anak melihat bagaimana iman orang tuanya nampak di dalam situasi seperti ini?

Banyak cerita kita dapatkan tentang orang tua dan PJJ anak-anak mereka. Dari yang mengusahakan kecukupan gadget bagi anak-anak mereka. Mengusahakan sambungan internet, ruang belajar yang nyaman, bahkan waktu dan tenaga untuk menemani anak-anak belajar. Bahkan sampai ada yang mengorbankan gadgetnya untuk sementara “dijajah” anak-anak pada waktu-waktu belajar mereka. Bagaimanapun, sadar atau tidak kita sadari, saat ini ataupun nanti, anak-anak merasakan apa yang orang tuanya sedang lakukan, sebagai wujud iman, kepada mereka.

 

Menjalani situasi PJJ ini, beberapa orang tua mensharingkan betapa mereka menyadari bahwa diri mereka ternyata bukanlah orang tua yang baik-baik amat bagi anak-anaknya. “Tak pikir saya ini sudah baik sebagai Ibu, ternyata kesabaranpun saya tak punya,” begitu keluh para Ibu. Di grup WA berseliweran gambar-gambar yang menyindir tetapi disikapi dengan guyon, misalnya transformasi seorang ibu dari Barney, dinosaurus lucu, menjadi T-Rex yang mengerikan; atau gambar seorang anak yang meminta dengan sangat supaya sekolah dibuka kembali karena ibunya lebih mengerikan daripada Gurunya. Tetapi satu hal yang kita ingat adalah seperti yang dikatakan Howard Hendricks dalam bukunya “Mengajar untuk Mengubah Hidup.” Hendricks mengatakan bahwa para siswa tidak mencari “faculty” (Guru/Staf) yang sempurna, tetapi yang bertumbuh. Maka bisalah saya mengatakan bahwa anak-anak tidak mencari orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang bertumbuh di dalam Tuhan. Kiranya masa-masa ini menjadi sebuah masa penuh kesempatan bagi kita sebagai orang tua, masa untuk bertumbuh dalam iman kita sembari menemani anak-anak kita melewati perjalanan kehidupan bersama.


(Bersambung)


Kamis, Agustus 06, 2020

'Yuk Berhenti Sejenak


Sudah beberapa bulan ini kita menjalani masa belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Apa yang kita rasakan? Beberapa dari kita ingin situasi seperti ini segera berakhir sehingga bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Beberapa dari kita mungkin berharap situasi seperti ini jangan cepat berlalu karena kita menemukan sesuatu yang baik di dalamnya. Sulitnya adalah situasi ini disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak mudah kita kendalikan, sehingga kita berada dalam posisi menanti sambil tetap bekerja dan beraktivitas sebisanya dengan terus menaruh pengharapan di dalam Tuhan.

 

Uniknya, kita adalah makhluk yang adaptif, yang terus mencoba untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Seperti yang terjadi saat ini ketika Covid-19 sudah mengguncang zona nyaman dan sistem hidup yang selama ini sudah terbangun dan “settle.”  Pada awalnya kita merasa sangat terganggu sekali, tetapi kita terus bergerak (sadar atau tidak sadar) untuk menemukan “titik tenang” dalam menyikapi problem hidup ini. Setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan di dalam perjalanan menuju “titik tenang” ini, ada yang cepat tetapi ada juga yang lambat bergantung dari berbagai faktor yang mempengaruhinya.  Tetapi kita semua sedang mengarah ke sana karena kita ingin menemukan kembali sistem hidup yang sempat hilang tersebut, walau tidak harus sama seperti sebelumnya. Problemnya adalah sistem hidup yang baru itu apakah berdampak baik bagi kehidupan kita atau justru, tanpa kita sadari, malah mendegradasi kehidupan kita?

 

Salah satu sistem hidup yang diguncang oleh kehadiran Covid-19 ini adalah berkaitan dengan kehidupan kerohanian kita, yaitu relasi kita dengan Tuhan termasuk Gereja-Nya. Sekarang rumah kita adalah tempat ibadah kita. Jadwal pelayanan kita menjadi berkurang karena Gereja harus selektif dalam memilih pelayannya atau sebaliknya malah makin sibuk karena kompetensi kita dibutuhkan oleh Gereja di saat-saat seperti ini. Kita berusaha beradaptasi dengan hal itu. Maka izinkan saya mengajak Anda untuk “berhenti sejenak” dengan menjawab beberapa pertanyaan reflektif di akhir tulisan ini (jawablah beberapa pertanyaan tersebut dalam situasi yang tenang tanpa banyak gangguan sehingga tidak terburu-buru dan ada waktu untuk berefleksi). Yang penting, jangan jatuh dalam rasa bersalah berlebihan atau malah sombong rohani, tetapi hendaknya ini menjadi sebuah refleksi pribadi (atau bersama pasangan) dan bahan doa di hadapan Tuhan. Kemudian kita mencoba melangkah ke depan, dengan pertolongan Tuhan, untuk merubah atau membentuk kembali sistem hidup yang membangun.

 

Jadi, ‘yuk berhenti sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini berdasarkan kondisi Anda yang sesungguhnya selama beberapa bulan ini. 

      Apakah Anda mengikuti ibadah setiap minggu (baik online ataupun ibadah keluarga)?  (Ya/Tidak rutin/Sudah hampir tidak pernah).

Gereja yang Anda ikuti ibadah onlinenya? (Gereja sendiri/Gereja lain/Bergantian) Apa alasannya Anda mengikuti ibadah Gereja lain? (Gereja sendiri tidak ada ibadah online/ Keinginan pribadi/Menambah wawasan).   

Apakah Anda mengikuti ibadah online sesuai waktu yang ditentukan gereja? (Ya/Menyesuaikan dengan kondisi saya).

Bagaimana kehidupan saat teduh Anda dengan Tuhan dan firman-Nya? (Makin baik/Berusaha menjaga/Hampir tidak pernah)

Bagaimana kehidupan doa Anda bersama Tuhan? (Makin baik/Berusaha menjaga/Hampir tidak pernah)

Apa yang menjadi hambatan untuk bersaat teduh/berdoa? (Tidak ada/Mengurus rumah tangga/Kesibukan kerja di rumah/Lain-lain/Malas)

Bagaimana perasaan Anda ketika menjalani kondisi saat ini? (Tenang/Kuatir/Biasa saja)

Secara umum, apakah kesulitan saat ini membuat Anda makin bertumbuh dan ingin dekat dengan Tuhan? (Ya/Biasa saja/Tidak terpikir)

  

* Jika melihat jawaban-jawaban di atas, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anda dan apa yang Anda ingin doakan kepada Tuhan untuk perjalanan kehidupan ke depan?

 


Mengapa mesti berhenti sejenak dan memikirkan kembali kehidupan rohani kita di masa karantina ini? Kehidupan rohani berkaitan dengan relasi dan hati kita kepada Tuhan, yang berdampak dalam pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Sehingga apa yang dicari melalui beberapa pertanyaan reflektif di atas bukan jawaban ya atau tidak atau bukan siapa lebih rohani atau kurang rohani. Tetapi lebih dalam dari itu, agar jangan sampai kita menjadi “ilfil” atau “ilang rasa” sama Tuhan.  Apakah Anda sedang dalam kondisi tersebut di saat seperti ini? Atau sebaliknya, feeling/rasa Anda kepada Tuhan tidak pernah sekuat seperti ini sebelumnya? Atau situasi ini membukakan kondisi kerohanian kita yang tidak pernah disadari sebelumnya? Kesulitan hidup memang bisa membuat seseorang menyadari akan Tuhan dan termotivasi untuk membangun kehidupan rohani yang lebih baik dari sebelumnya. Sebaliknya kesulitan bisa membuat seseorang makin terpuruk dan mengasihani diri sendiri, atau malah masa bodoh dengan situasi yang ada bahkan terhadap Tuhan dan hal-hal rohani. Jangan sampai kesulitan saat ini justru membentuk sistem hidup rohani yang tanpa sadar bisa mendegradasi kerohanian kita karena Gereja sekarang hanya sejauh jempol, mouse, atau remote TV kita, dengan kata lain “hal rohani menjadi begitu nyaman”.

 

Kehidupan kita dengan Allah di dalam Tuhan Yesus adalah relasi kepemilikan dan bukan sebuah kontrak dagang atau bisnis yang saling menguntungkan. Begitu eratnya relasi itu sehingga kita dapat memanggil-Nya sebagai Bapa. Itulah mengapa relasi dengan Dia harus dijaga dan ditumbuhkan karena Dia adalah Bapa kita. Ketika Anda berhenti sejenak dan menemukan dengan terang pertolongan Tuhan bahwa: “Tuhan, aku rasanya ilang filing sama Kamu,” maka datanglah pada-Nya. Ingatlah janji firman-Nya  dalam Yesaya 42:3: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” Justru kita membutuhkan Dia untuk kembali menumbuhkan kasih yang mula-mula itu (Wahyu 2:4). Tuhan tidak pernah ilang rasa sama kita, maka jangan biarkan rasa Anda kepada Tuhan perlahan-lahan mulai hilang. Biarlah Ibadah Minggu nanti menjadi awal yang baru di dalam  Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

 

 

 

Surat untuk Para Pendidik




Para Pendidik yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. 

Sudah beberapa bulan ini kita berada dalam situasi yang sulit dan tidak biasa ini. Tentunya karena kita sedang menghadapi hal yang sama seperti yang dihadapi semua orang, yaitu pandemi Covid-19 dengan semua aspek yang dipengaruhinya, seperti kesehatan, sosial, ekonomi, dsb. Termasuk bagi beberapa dari Anda yang adalah orang tua, kita juga mengalami apa yang namanya work from home sambil membimbing anak-anak untuk home learning. 


Tetapi terkhusus sebagai pendidik, kita juga mengalami yang lebih dari itu, yang orang lain mungkin tidak mudah untuk memahaminya. 

Pertama, yang kita semua makin merasakannya, yaitu kita kehilangan sekali yang dinamakan “personal touch”, salah satu hal yang kita butuhkan dalam mendidik. Semua yang serba virtual ini menghasilkan “lubang” dalam proses pendidikan yang kita sedang kerjakan saat ini. 
Kedua, kita bisa kehilangan afirmitas diri (keajegan), karena seakan semua yang kita lakukan sekarang sebagai pendidik tidak lagi firm/ajeg. Terutama akan terasa sekali bagi Anda yang baru saja memulai profesi ini, yang sedang berusaha beradaptasi dan menemukan keajegan dengan profesi ini. Apa yang kita lakukan dan siapkan selalu ada kurangnya dan mudah disalahkan. Kita bertanya-tanya apakah semua yang kita siapkan tersampaikan dengan baik kepada para siswa dan orang tua mereka. Apakah semua yang kita perbuat ini dihargai atau jangan-jangan hanya dianggap angin lalu? 
Ketiga, kita bisa kehilangan “sense of calling,” atau terputus dalam perjalanan mencari panggilan Tuhan bagi kita saat ini terutama panggilan sebagai pendidik. Saya berdoa agar ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita. Justru di saat seperti ini kita sadar betapa signifikannya kehadiran kita sebagai pendidik. Ya, kita bukan orang tua para siswa itu, tapi apa yang terjadi beberapa bulan ini menyadarkan kita bahwa kehadiran para pendidik dalam hidup sebuah keluarga adalah sesuatu yang tidak mudah dicari penggantinya. Ini tidak mudah dipahami karena dunia saat-saat sekarang ini “memaksa” setiap orang mengukur semuanya dengan materi. Tetapi jangan sampai “calling” kita perlahan-lahan mulai hilang karena tergerus dengan situasi ini. 


Lalu bagaimana? 
Kitab Suci mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Secara sederhana ayat ini memberikan satu pelajaran agar kita belajar menjalani hidup yang penuh kekuatiran ini satu hari demi satu hari. Apa artinya? 

(1) Berjalan menjalani hidup sehari demi sehari bukan berarti kita tidak memikirkan dan mempersiapkan hari depan. Tetapi biarlah apa yang memang menjadi bagian Tuhan diserahkan kepada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan seperti “sampai kapan kita seperti ini?” “Bagaimana dengan ini dan itu dalam hidupku?” “Bagaimana ke depan ini?” Atau pertanyaan lain yang kita sadar tidak bisa dijawab dan dikendalikan sepenuhnya, yang kalau kita terus berkutat di dalamnya hanya mendatangkan apa yang tidak baik dalam pikiran, emosi, dan tindakan kita. Mari kita belajar menyerahkannya kepada Tuhan sambil mengimani: “Be still and know that He is God.” Kita saat ini seperti ada dalam pasir hisap atau tenggelam di laut, yang kalau kita makin meronta malah makin tenggelam. Tapi biarlah kita belajar “tenang”, “be still”, “cease striving” (berhenti meronta) dalam Tangan Allah yang kuat yang sedang memegang dan menolong kita. Maka, jangan kita melepaskan relasi dengan Tuhan di dalam waktu yang sulit ini, yang bagi beberapa orang bisa menimbulkan tekanan hidup dan depresi. Mari belajar bersyukur, berdoa, dan mencari kehendak-Nya sehari demi sehari. Salah satu contoh seperti pemazmur yang tidak membiarkan semua tekanan hidup bergulat dalam dirinya. Dia belajar membawanya dalam pergumulan kepada Tuhan, dalam ratapan, keluhan, emosi yang kadang begitu terbuka di hadapan Tuhan, untuk menemukan bahwa Allahlah gunung batu, kota benteng, dan perlindungannya. 

(2) Melakukan apa yang bisa kita temui hari ini untuk dilakukan sebaik-baiknya. Kita memikirkan dan melakukan yang terbaik yang kita mampu untuk mencukupi keluarga kita, mengatur rumah tangga bersama pasangan, dan mendidik anak-anak kita sendiri dan para siswa yang dipercayakan kepada kita. Salah-kurang, merasa gagal, disalah pahami pasti ada, di sanalah kita berproses bersama-sama untuk makin bertumbuh dengan pertolongan Tuhan. 

(3) Kita bisa meminta agar kasih Tuhan melingkupi dan membantu kita untuk berempati dengan orang lain. Sehingga kita dihindarkan dari mengasihani diri sendiri (“self pity”) atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang hanya menimbulkan iri hati, sikap merasa menjadi victim, sikap menuntut, atau sombong. Sebaliknya biarlah kita rindu untuk bisa menjadi berkat, bagaimanapun dan seberapapun terbatasnya kita. 


Pandemi Covid-19 bukan lagi sekedar tantangan dalam kehidupan fisik dan materi kita, tetapi juga menjadi tantangan iman kita. Maka biarlah kita menjalani ini bersama Tuhan yang berjanji tidak pernah meninggalkan kita. Dan dalam kemurahan kasih-Nya, kita memohon supaya Dia segera melekaskan situasi ini. Amin.