"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” Matius 6:1
Sebenarnya di masa pandemi seperti saat ini, kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus katakan di atas, yaitu untuk tidak melakukan kewajiban agama kita di hadapan orang. Kalau melakukan di hadapan orang akibatnya adalah kita bisa jatuh dalam motivasi yang salah yaitu cuma ingin dilihat dan dinilai orang, maka sebenarnya ini kesempatannya untuk tulus melakukan kewajiban agama kita tanpa dilihat orang. Tetapi problemnya adalah ternyata hati kita juga tidak tulus-tulus amat ketika tidak dilihat orang. Dicatat ada beberapa kebiasaan muncul ketika menikmati ibadah online, yang menjadi ajang debat/diskusi teologi dari pemimpin sampai jemaatnya. Bosan ‘ah ibadahnya gerejaku, gitu-gitu aja; Nah, ini ada ibadah yang lebih ok! Boleh nggak, pas puji-pujian ikut gerejaku, terus kalau firman ikut gereja sebelah? ‘Kan ditaruh youtube, jadi nanti aku bisa ibadahnya jam berapa saja, kalau sudah mandi dan makan dan siap hati! (Beneran?!). Persembahan nggak ya? Seminggu ini seret banget pemasukan, mana kapan hari bantuin cik Lisa beliin mie gorengnya. Boleh nggak, sudah bantuin orang gitu, terus gak ngasih persembahan? Dan percakapan semacam ini bisa makin panjang seturut dengan segala yang terjadi di sekitar ibadah online yang tidak dilihat orang itu. Tidak dilihat orangpun, ternyata hati kita juga tidak tulus-tulus amat? Lalu, bagaimana ini?
Kita tahu bahwa ini bukan sekedar dilihat atau tidak dilihat orang. Beberapa orang mengatakan, “Ini masalah hati, pak!” Ya, tapi apa artinya ini masalah hati? Hati yang bagaimana, ‘la wong dilihat nggak dilihat bisa nggak tulus, kok. Apa artinya Tuhan Yesus meminta supaya kita jangan lakukan di depan orang, apa artinya Tuhan Yesus meminta kita masuk ke kamar dan temui Bapamu berdua saja? Apa artinya itu terutama ketika kita kaitkan dengan kondisi kita yang benar-benar melakukan kewajiban agama tanpa dilihat orang saat ini?
Apa yang terjadi ketika kita benar-benar berdua dengan orang yang mengasihi kita? Apa yang terjadi ketika kita berdua dengan Bapa yang mengasihi kita di dalam Kristus? Bapa yang tahu kedalaman hati kita dan yang melihat itu melebihi rupa kita? Kita mau show-off di depan Dia atau kita akan jujur dan benar-benar terbuka di depan Dia? “Tuhan, mengapa aku jadi itung-itungan begini dengan-Mu saat ini, seakan selama ini Engkau tidak pernah memelihara hidupku?” “Tuhan, mengapa hidup rohaniku jadi kering seperti ini?” “Bapa, kenapa aku mulai malas beribadah? Tunda-tunda dan akhirnya mencari pembenaran diri?” “Mengapa aku mulai bosan dengan gerejaku sendiri?” Kenapa justru ketika tidak dilihat orang, aku makin berani di hadapan Allah dan bukannya bisa bersikap tulus? Jangan-jangan, justru di saat seperti ini, Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk berani jujur dan terbuka akan diri kita di hadapan-Nya, tanpa malu-malu lagi, karena tidak ada orang yang melihatnya. Ketika kita beribadah, kita datang dengan doa, dengan sikap, dengan ketulusan dan keterbukaan sejujurnya. Ketika memberi persembahan, kita datang dengan sikap, dengan doa, bahkan doa dalam kekuatiran akan masa depan kita. Dalam ketulusan hati, kita bisa berseru kepada-Nya untuk memurnikan dan melembutkan hati kita. Tolonglah aku, ya Bapa, mengasihi-Mu, mengucap syukur walau dalam situasi seperti ini. Tolonglah aku, ya Bapa, di saat-saat seperti ini, untuk Engkau merestart diriku sekali lagi dan memurnikannya, sehingga hidupku makin mengasihi-Mu dan berkenan kepada-Mu.
Dan, ketika pandemi ini berakhir dan kita diizinkan kembali beribadah seperti semula, apakah hanya situasi saja yang akan berubah, ataukah hidup kitapun akan diubah-Nya, sedikit demi sedikit?