Senin, Desember 28, 2020

Iri Hati kepada Yang Jahat

 

Janganlah terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu.

1 Timotius 5:22



Iri hati kepada kejahatan, kok bisa?

Bukan benci lho ya, tapi sirik dengan orang jahat!

Ya, benar, yang saya maksudkan adalah iri dengan orang yang berbuat tidak patut, orang yang berbuat dosa. Terutama orang yang berbuat fasik tapi di Gereja Tuhan. Apa maksudnya?

 

Kita iri karena mereka nampak beruntung dalam dosanya, mereka nampak dianggep justru dalam kejahatannya, dan mereka kok dibiarkan dalam dosanya. Malah mereka terlihat lebih membantu orang lain, lebih bermanfaat hidupnya, lebih jadi berkat, dibandingkan saya yang malah menjadi beban atau nampak nggak ada gunanya.

Ya, tentu saja mereka tidak mencelakai orang secara langsung atau melakukan sesuatu yg mencelakai, INGAT mereka ada di lingkungan Gereja Tuhan. Tapi di balik semuanya, di balik kehidupannya, kita tahu ada yang nggak murni, ada yang nggak beres, ada yang jahat. Kalau saya diizinkan untuk menghakimi mereka maka saya akan berkata dengan keras tanpa tendeng aling-aling: "a-lah, kamu berbuat apa yang baik tapi sebenarnya dalamannya apa?" Cuma sulit 'kan karena siapa yang tahu jelas dalamannya hati manusia?  

Tapi kenapa kok mereka nampak lebih baik?

Dan saya menjadi iri kepada orang-orang seperti ini. Mengapa? Karena saya berusaha menjaga diri tetap murni tapi kok rasanya keliatan lebih nggak main, lebih kurang dihargai daripada mereka.

 

Hal ini mirip seperti pergulatan pemazmur dalam Mazmur 73. Pemazmur berkata kok orang fasik malah gemuk dan makmur? Rasanya mereka seperti orang yang nggak berdosa dan lebih diberkati. Sehingga Pemazmur dengan jujur mengatakan bahwa dalam hatinya muncul keirihatian kepada orang fasik itu dan ngapain dia berusaha mempertahankan hidupnya bersih. Tetapi beruntungnya adalah dia kemudian menyadari bahwa itu adalah sikap yang tidak benar, dan karena hal itu nyaris dia terpeleset dan jatuh dalam dosa. Mazmur 73:2-3 menyatakannya: “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.

 

Saya harus mengakui bahwa terkadang situasi seperti ini bisa menggoda saya untuk mengikuti orang-orang fasik itu. Ya, tentunya saya nggak akan sampai bertindak sejauh orang-orang itu, saya juga nggak ingin mencelakai orang atau berbuat dosa sejelas-jelasnya. INGAT, SAYA KAN JUGA DI LINGKUNGAN GEREJA TUHAN. Tapi dalam arti ada beberapa hal dari diri mereka atau yang mereka lakukan itu yang kalau saya  ikuti rasanya bisa mendatangkan keuntungan buat saya.  Terlalu banyak alasan untuk saya mengikuti cara mereka. Lagipula, kok dia diperbolehkan kenapa saya nggak boleh. Bagaimana kalau saya lakukan saja, nanti kalau saya ditegur ya tinggal pakai diri mereka sebagai tameng, toh dia juga gitu kok. Misalnya secara diam-diam saya melakukan sesuatu yang seharusnya saya harus mendapatkan izin lebih dulu. Nanti kalau ketahuan dan saya ditegur, kan saya tinggal bilang kenapa dia boleh dan saya nggak. Atau saya bisa menjawab, ini saya lakukan untuk kebaikan organisasi, nggak akan rugi kok organisasi. Padahal dalam hati saya berkata: “Enak aja dia diizinkan, dibenarkan, nggak disanksi, kok saya yang mesti mengalah, dalam arti melakukan yang sepatutnya dan taat terus.” Ini loh yang ingin saya tiru. Boleh nggak?

Kadang pergulatan batinnya adalah seperti itu. Tapi firman Tuhan mengingatkan bahwa hati-hati jangan sampai saya terpeleset dan jatuh. Mengapa? 

 

1 Timotius 5:22 juga mengingatkan: “Jagalah kemurnian dirimu, jangan terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain. Ini bukan masalah ikut buat jahat, tapi dimulai dari hati yang iri dan kemudian nggak terima, dan ingin mengecap keuntungan yang sama. Padahal jelas kita tahu kalau itu jahat, kalau itu dimulai dari hati yang dengki dan bahkan mencobai Tuhan.

Saya diingatkan sekali lagi akan perkataan Tuhan Yesus, bahwa dari hati bisa muncul segala yang jahat, maka jagalah kemurnian dirimu. Sekali lagi, jangan biarkan dosa orang lain membawa dirimu untuk ikut berdosa.  


Lagipula 1 Timotius 5:24  mengingatkan bahwa tidak ada dosa yang akan terus tersembunyi. Memang ada dosa yang begitu mencolok, bahkan sudah menghakimi mereka yang melakukannya bahkan sebelum mereka diadili. Tetapi memang ada dosa yang tersembunyi, sembunyi di balik hal hal yang keliatannya  bisa dibenarkan dan sulit dibantah, bersembunyi di balik yang namanya kebaikan sekalipun, tersembunyi di balik manfaat bagi orang lain. Tapi firman Tuhan mengatakan toh akan dibukakan pada akhirnya. Karena satu hal, yang kita permainkan bukan sekedar manusia, tapi Allah. Dan masakan Allah mendiamkan diriNya dipermainkan, lagipula Dia menilai hati dan bukan apa yang nampak di muka manusia. Tetapi kalau benar Allah mendiamkan, maka bertambah celakalah kita karena itu berarti Dia sudah nggak peduli lagi kita mau ke mana dan berakhir di mana.

Ini yang diingatkan dalam Mazmur 73:18 tentang kondisi orang fasik sebenarnya, yang celakanya mereka nggak sadari itu karena semua terlihat enak dan baik bagi mereka. Padahal "Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur."

 

Maka jagalah kemurnian dirimu,  jangan biarkan hal-hal jahat itu bercokol di hati kita. Lakukan yang benar di dalam Tuhan, bertekunlah. Mengapa? Karena 1 Timotius 5:25  berkata: Demikianlah kebaikan kalaupun tidak dinyatakan sekarang maka percayalah kebaikan tidak dapat terus tersembunyi, dia akan segera dinyatakan.”  Mazmur 73:1 juga mengingatkan bahwa sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetaplah bertekun dalam apa yang benar di dalam Tuhan, God is Good. Maka, selalu ujilah dan selidikilah hati hamba-Mu ini ya, Tuhan; Lihatlah kalau-kalau ada yang serong dan tuntunlah dia kembali di jalan-Mu yang kekal. Amin. 


Selasa, Desember 15, 2020

It’s Ok Menjadi “Orang Kristen Natal”


Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, 

yang sedang berbaring di dalam palungan. 

(Lukas 2:16)



Ketika pemuda, di bulan Desember seperti ini, saya pernah mendengar istilah yang disebutkan seorang Pendeta mengenai “ORANG KRISTEN NATAL dan Paskah.” Apa artinya? Ini adalah sebutan untuk ORANG-ORANG YANG MENGAKU KRISTEN TETAPI HANYA HADIR DI GEREJA KETIKA NATAL dan Paskah saja. Jadi sebenarnya ini adalah sindiran untuk orang Kristen yang tidak peduli dengan kehidupan ibadahnya, tapi herannya kalau pas Natal dan Paskah dia akan hadir, paling ‘nggak pas Natal. Mengapa Natal? Karena Natal adalah momen bahagia, momen suvenir, momen melihat pertunjukan spektakuler di Gereja, sehingga orang-orang seperti ini akan ke Gereja memang untuk merayakan Natal tetapi BUKAN MERAYAKAN KELAHIRAN KRISTUS. 

Lalu, ‘kok judul artikel ini malah mempersilakan atau memaklumi orang-orang Kristen untuk menjadi “Orang Kristen Natal”? Di dalam dunia tafsir menafsir ada yang namanya “memaknai sebuah kata atau kalimat berdasarkan konteksnya.” Maka izinkan saya memaknai ISTILAH “ORANG KRISTEN NATAL” INI DENGAN KONTEKS YANG BARU, YAITU KONTEKS SAAT INI. Bagaimana itu? 


Kita menyadari bahwa saat ini orang-orang percaya sedang menghadapi TANTANGAN yang tidak mudah dalam kehidupan rohani mereka, salah satunya adalah KEHIDUPAN GEREJAWI YANG SUDAH HAMPIR SETAHUN INI “TERTAHAN” karena pandemi. Semua berganti menjadi pertemuan virtual, walau memang sudah ada beberapa Gereja yang mulai membuka pintu walau masih dengan keterbatasan. Apa dampaknya? Karena tidak bisa bertemu, tidak bisa beribadah di tempat, tidak bisa melayani dengan bebas, dan hanya terkurung di depan layar, maka bisa jadi banyak orang Kristen yang sudah mulai jenuh bahkan beberapa tanpa sadar mulai menjauh dari kehidupan persekutuan atau ibadah mereka. Bagaimanapun juga hanya di depan layar bukanlah sesuatu yang ideal dan rasanya kita membutuhkan interaksi nyata satu sama lain di Gereja. Beberapa juga mulai menjauh karena tidak ada yang melakukan absensi kehadiran Gereja online, dan memang siapa yang tahu pasti apakah kita beribadah atau tidak karena ‘toh berbohongpun kita bisa. Berkata sudah beribadah tetapi sebenarnya hanya kita, keluarga kita dan Tuhan sendiri yang tahu apa yang terjadi; lagipula ibadah ‘nggak ibadah rasanya ‘nggak ada sesuatu terjadi.


Beberapa hamba Tuhan berkata bahwa sebenarnya dalam konteks seperti ini, kehidupan Gereja masih bisa berjalan dalam skala kecil walau tetap dalam keterbatasan, yaitu dalam keluarga. Tuhan Yesus berkata, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20). Sehingga bisalah dikatakan bahwa ada ibadah ketika satu keluarga sedang bersekutu dan menyembah Tuhan. Gereja ‘kan bukan masalah jumlah, organisasi, bentuk liturgi, dan hal-hal eksternal lainnya, tetapi persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan Kristus dari dosa untuk masuk kepada terang-Nya yang ajaib (1 Petrus 2:9). TETAPI BAHKAN ANTAR ANGGOTA KELUARGAPUN, PADA SAAT INI, BELUM TENTU ADA ‘KENGOTOTAN’ UNTUK TETAP SALING MENGINGATKAN DAN MENJAGA UNTUK BERIBADAH. Jangan-jangan anak-anak kita sudah tidak lagi menikmati sekolah minggunya, sebagaimana anak remaja kita bahkan entah sudah berapa lama tidak lagi mendengar lagu pujian dan firman Tuhan. Dan kalaupun mereka di depan channel gereja, apakah benar mereka sedang beribadah? Satu hal, KEHIDUPAN ROHANI ORANG PERCAYA SEDANG DALAM TANTANGAN BESAR. 


MAKA BERITANYA PADA NATAL TAHUN INI, DI TENGAH PANDEMI SEPERTI INI, ADALAH “IT’S OK MENJADI ORANG KRISTEN NATAL.” Sudah berapa lama kita tidak lagi beribadah, tanpa ada yang mengingatkan bahkan “alarm jiwa” kitapun sudah tidak lagi “berbunyi”? Sekuat apa kita menahan kejenuhan dan tetap berusaha beribadah di tengah kebosanan menatap layar dan seakan berharap ibadah segera selesai, atau kalau diizinkan kita bisa men-skip segera menuju momen khotbah dan doa berkat? Seberapa kuat kita masih bisa menahan godaan yang mulai muncul dalam  hati untuk menunda waktu ibadah, ‘toh tersimpan di Youtube ‘kok dan bisa diputar ulang? Seberapa tekun kita untuk tetap bisa melawan godaan teman-teman yang mulai mengajak kita bertamasya keliling kota naik sepeda padahal kita tahu itu akan memakan waktu ibadah kita? Di tengah tantangan dan godaan seperti itu, It’s OK Menjadi Orang Kristen Natal.  Apa artinya?


Istilah ini bukan lagi menjadi sindiran tetapi sebuah ajakan untuk kembali, untuk restart, untuk kembali dari ‘titik nol’. UNTUK KEMBALI DATANG KEPADA TUHAN YESUS, JURUSELAMAT DAN TUHAN KITA, DAN MENGALAMI KEMBALI SUKACITA, DAMAI SEJAHTERA, KASIH MULA-MULA, SEPERTI SAAT KITA JATUH CINTA PERTAMA KALI DENGAN DIA. Seperti yang dialami para gembala pada Natal pertama malam itu. Orang-orang yang hidupnya monoton, terbatas, tertuduh sebagai orang berdosa dan terpinggirkan sehingga tidak diziinkan masuk lebih dalam di Bait Allah. Pada malam itu mereka mendengar berita sukacita kelahiran Mesias. Hati mereka bergejolak, bukan karena keingintahuan semata, tetapi ada sebuah sukacita dan dorongan rohani yang secara spontan mereka sikapi dengan pergi menjumpai bayi Yesus itu. Menyembah, menyaksikan, menceritakan, dan dipenuhi dengan sukacita, sehingga hidup mereka begitu berubah dan mengherankan banyak orang.  “MENJADI ORANG KRISTEN NATAL” DALAM ARTI SEPERTI PARA GEMBALA INI, YANG SEKALI LAGI DATANG DENGAN KERINDUAN HATI UNTUK MERASAKAN SUKACITA SURGA DAN MENGALAMI KABAR BAIK YANG MEMBANGKITKAN KASIH KEPADA TUHAN YESUS DALAM HIDUP KITA. 


It’s OK menjadi Orang Kristen Natal, bukan berarti saya ‘meng-excuse’ setiap kita untuk menanti Natal baru beribadah lagi. TETAPI MARI DI MOMEN NATAL INI KITA SEKALI LAGI DATANG DENGAN KEJUJURAN, KETULUSAN HATI, DAN MENYEMBAH SERTA BERSERU KEPADA TUHAN YESUS. “Tuhan Yesus, selama ini entah bagaimana hidup rohaniku di hadapan-Mu. Tetapi di momen Natal ini, aku mau jadi orang Kristen Natal, ‘nggak papa kalau aku dibilang cari Tuhan ‘pas Natal saja, karena memang aku mau mencari Engkau saat ini untuk boleh sekali lagi Engkau membangkitkan sukacita, damai sejahtera, kerohanian yang berkobar, seperti pertama kali ketika Engkau menyentuh hatiku. MAUKAH ENGKAU MENERIMA DAN MENYENTUH HATIKU, ORANG KRISTEN NATAL INI?” Maukah kita? 


Minggu, Desember 06, 2020

Sekolah Kristen, Jangan Saingan Sama Gereja (#2)



Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. 
Efesus 4:16



“Fred, aku mau tanya, lembaga apa yang diberikan Tuhan agar kita dan anak-anak kita bertumbuh di dalamnya?” Seorang teman bertanya demikian kepada saya. Tahu bahwa dia serius dengan pertanyaannya maka tanpa tendeng aling-aling saya langsung menjawab, “Keluarga, Gereja, dan SEKOLAH KRISTEN.” Tetapi jawaban berikutnya dari dia menjadi pergulatan dalam diri saya, “Di Alkitab cuma dua ‘lho, pernikahan (keluarga) dan Gereja yang dibentuk oleh Tuhan.” Saya langsung terdiam di depan handphone yang saya pegang sambil memandang jawaban yang muncul dalam pesan text tersebut. “Iya, ya, kenapa saya dengan gagah mengatakan sekolah Kristen adalah salah satunya?” Karena nanti malam teman saya ini akan membawakan webinar tentang keluarga, maka dia ‘minta izin’ kepada saya, “Kalau nanti malam saya cuman bilang keluarga dan Gereja aja, kamu sebagai yang pelayanan di sekolahan keberatan ‘nggak?” Saya langsung menjawab, “No, I’m okay okay aja.”

 

Dari sanalah kemudian saya makin memikirkan hal ini. Dan seperti yang saya sampaikan di bagian pertama dari tema tentang sekolah Kristen ini (artikel sebelumnya), saya memahami bahwa sekolah Kristen tidak boleh menjadi pengganti dari Gereja dan keluarga. Itu artinya sekolah Kristen jangan juga menjadi pesaingnya Gereja. Dan memang betapa selama ini sekolah Kristen seperti “Gereja kedua” dalam kehidupan anak-anak dan juga para karyawannya (Guru, Staf, dan yang lainnya). Ada ibadah, retreat, renungan, disiplin baca Alkitab, KTB; yang karena aktivitas-aktivitas rohani itulah kita disebutkan sebagai sekolah Kristen. Coba cabut semua aktivitas itu, masihkah kita berani menyebut diri sebagai sekolah Kristen? Wong saya pernah mendengar sharing ada teman yang mencoba mengganti ibadah di sekolahnya dengan bentuk lain, langsung jiwa seakan bergejolak dan beberapa temannya mulai mengernyitkan dahi tanda menolak. Sekolah Kristen tanpa ibadah, apa kata dunia?! Lalu, apa maksudnya?

 

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sekolah Kristen berdiri bukan karena kehendak Allah dan juga bukan bermaksud untuk meniadakan semua kegiatan rohani di sekolah Kristen. Seorang teman pernah berkata bahwa salah satu kekuatan sekolah Kristen dalam menjaga dan membentuk kehidupan rohani siswa dan Gurunya adalah karena ada sistem, aturan, atau “kewajiban.” Misalnya siswa harus ikut beribadah di jam sekolah, Guru harus ikut ibadah pada waktu yang sudah ditentukan, dan mereka tidak bisa membolos seenaknya atau melarikan diri dari kewajiban itu. Tentunya hal ini bukan bermaksud untuk membuat ibadah menjadi sebuah kewajiban, tetapi kalaupun mereka lalai memelihara ibadah Minggu, paling ‘nggak ada saat di mana mereka mau ‘nggak mau harus beribadah. ‘Kan baik toh, sekolah Kristen membantu Gereja menjaga kehidupan rohani jemaatnya? Ya, sih, tapi ada sesuatu yang lain. Apa itu?

 

Bagaimanapun juga, Guru dan para siswa ini harus dikembalikan kepada Gereja. Mengapa? Di sekolah mereka hanya sementara waktu saja karena sekolah selalu ada “time limit”. Dan beberapa anak belum tentu bersekolah di sekolah Kristen, demikian juga belum tentu seorang Guru Kristen harus mengajar di sekolah Kristen. Tetapi Gereja adalah persekutuan anak-anak Tuhan yang sifatnya tidak dibatasi waktu, dari anak sampai bertumbuh dewasa mereka tetap diterima di sana. Dan firman Tuhan berkata justru mereka diikatkan menjadi satu tubuh yang saling terjalin satu sama lain karena dari sanalah Kristus berkarya melaluinya dan mempertumbuhkan mereka. Karya pertumbuhan dalam Kristus justru dikatakan jelas dalam Firman Tuhan adalah melalui Gereja Tuhan, Tubuh Kristus. Karena itulah kita merindukan agar setiap orang yang percaya kepada Kristus bergabung dengan sebuah Gereja lokal. Itu artinya setiap warga sekolah Kristen, jika dia mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka harus dipastikan bahwa dia adalah bagian dari sebuah Gereja Tuhan. Jangan sampai karena dia sudah beribadah di sekolah, membaca Alkitab di sekolah, melayani di sekolah, maka dia merasa itu bisa menggantikan persekutuannya dengan Gereja Tuhan. Demikian juga hal itu yang harus saya ingatkan kepada diri saya sendiri.

 

Kesaksian dari dua hamba Tuhan bernama John Piper dan D.A. Carson bisa menjadi ingatan buat kita. John Piper mensharingkan bahwa ketika dia belajar di sekolah teologi, dia sempat tidak bergabung kepada gereja lokal manapun karena ‘toh dia sudah menikmati ibadah dan belajar Alkitab sepanjang minggu. Piper berkata betapa “foolish dan immature”-nya dia sampai berpikir dan bertindak seperti itu. Pada akhirnya dia dan isterinya kemudian memberikan diri bergabung dengan sebuah gereja lokal dan melayani serta bertumbuh dalam persekutuan di sana. Piper menyimpulkan, “To cut yourself off from local church with a sense of self-sufficiency is, in the long run, suicidal.” Di bagian lain, D.A. Carson menyebutkan bahwa seorang dosen seminari (= pendidik) haruslah seorang yang mencintai gereja Tuhan karena Kristus juga mengasihi Gereja-Nya. Bahkan Carson menegaskan supaya orang-orang yang kita didik menyadari bahwa Dosen/Gurunya adalah seorang yang mengasihi Gereja, sebagaimana teman-teman di Gereja kita juga menyadari bahwa kita mengasihi mereka, mengasihi Gereja Tuhan (John Piper and D.A. Carson, The Pastor as Scholar and The Scholar as Pastor: Reflections on Life and Ministry).

 

Maka  motivasilah warga sekolah Kristen untuk bergabung dengan sebuah Gereja lokal! Bila perlu ajarkan mereka bagaimana cara memilih Gereja dengan baik dan memilih Gereja yang baik. Mengapa? Karena zaman ini adalah zaman “spiritual konsumerisme” yang ternyata sangat mempengaruhi Gereja, di mana Gereja ‘tanpa sadar’ dituntut harus menyediakan acara yang menarik untuk mendapatkan perhatian dari jemaat. Gereja seakan menjadi milik segelintir orang yang disebut Pendeta dan Majelis (Pengurus) sedangkan jemaat adalah ‘fans club’-nya (konsumen), sehingga tanpa sadar kita malah menjadikan jemaat sebagai ‘fans’ Yesus Kristus dan bukan murid-Nya. Apalagi sekarang zaman “online online” dan saat ini banyak dari kita masih beribadah secara online. Adakah kita masih beribadah dengan gereja kita? Atau jangan-jangan Gereja sudah menjadi seperti supermarket buat kita karena hanya sejauh “jempol”? Saya tidak melarang kita melihat dan mendengarkan ibadah atau khotbah Gereja lain, tetapi adakah kita dengan aktif menggabungkan diri kepada sebuah Gereja lokal? Gereja yang jika masa pandemi ini lewat nanti, kita tetap bisa beribadah, bersekutu, dan melayani di sana? Berdoalah dan mintalah Allah menunjukkan Gereja yang baik sebagai tempat kita memberi diri ke sana jika kita masih bingung saat ini. Jangan keliling-keliling dalam beribadah. Jangan pula mudah berkata, “Saya tidak bertumbuh di sana,” tetapi itu muncul dari hati yang mencari pengakuan, mencari perhatian, merasa diabaikan, atau hanya selera semata. Kristus berkarya mempertumbuhkan umat-Nya lewat Gereja-Nya, Tubuh-Nya. Adakah engkau di sana?


Rabu, November 11, 2020

Sekolah Kristen, Maaf, Engkau Bukan Ciptaan Tuhan

 

“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Yosua 24:15b

 

Jangan salah mengerti ketika Anda membaca judul artikel di atas. Saya tidak sedang bermaksud merendahkan keberadaan dari sekolah Kristen karena saya sendiri melayani di sekolah Kristen. Saya juga tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa berdirinya sekolah Kristen pasti mau-maunya beberapa kelompok orang atau Gereja dan bukan dari Tuhan. BUKAN ITU! Tetapi masa pandemi yang sedang berjalan sampai sekarang ini membuat saya, mau tidak mau, memikirkan kembali keberadaan sekolah Kristen di tengah-tengah keluarga dan Gereja Tuhan. Apa maksudnya?

 

Banyak hal yang terjadi saat ini membuat sekolah Kristen harus jujur mengakui bahwa pelayanan yang mereka berikan kepada para siswanya tidak lagi bisa maksimal seperti biasanya, apalagi salah satunya memberikan pelayanan pembentukan rohani dan karakter. Bagaimana mungkin membentuk kerohanian seseorang hanya dengan bertatapan di depan layar tanpa contoh hidup dan interaksi nyata bukan maya? Bagaimana mungkin membentuk karakter seseorang hanya dengan suara dan foto di layar tanpa interaksi dan teladan? Harus diakui bahwa saat ini sekolah-sekolah Kristen mengalami pergumulan yang berat untuk mewujudkan visi misinya yang rindu membentuk siswa “more than academic achievement” semata. Tetapi di sanalah kami menyadari bahwa kami tidak boleh menjadi pengganti keluarga dan Gereja. Mengapa? Karena memang sekolah Kristen tidak didirikan untuk maksud itu.

 

Dalam Alkitab dinyatakan ada dua lembaga yang dibentuk Allah dengan maksud dan tujuannya, yaitu keluarga dan Gereja. Paling tidak Kejadian pasal 1-2 dan Matius 16:18 menyatakan hal itu. Sekolah Kristen? Dia muncul karena kebutuhan untuk memperlengkapi dan membantu keluarga dan Gereja dalam pendidikan anak-anak mereka. Tidak mungkin ‘kan orang tua dan Gereja mengajarkan semua hal di tengah-tengah keterbatasan mereka. Dan melihat perkembangannya sampai saat ini maka saya mengakui bahwa keberadaan sekolah Kristen pada sebenar-benarnya diperkenan Tuhan untuk berdampak dan mempengaruhi keluarga dan Gereja Tuhan, tanpa dimaksudkan untuk menggantikan kedua lembaga itu. Lalu?

 

Pandemi dan situasi yang absurd ini seakan ingin menegaskan kembali kebenaran di atas. Rasanya sudah terlalu lama kebenaran di atas diselubungkan oleh pikiran-pikiran dan kenyamanan kita sendiri. Bukankah banyak dari kita (tanpa sadar) menjadikan sekolah Kristen sebagai “tempat penitipan anak” sementara kita beraktivitas dan bekerja? Ke sanalah kita menaruh segala idealisme dan harapan terhadap anak-anak kita dan dengan mudah mengarahkan telunjuk kita kepada sekolah ketika anak-anak kita tidak menjadi sesuai harapan kita, for the sake of money yang kita sudah keluarkan.  Tanpa kita menyadari bahwa empat jari lainnya mengarah kepada kita atau pernahkah kita bertanya “jari Tuhan” sebenarnya mengarah kepada siapa?  Beberapa dari kita menjadikan sekolah adalah “bengkel kehidupan,” berharap anak-anak kita yang bertumbuh tidak sesuai harapan kita (jika istilah “nakal” terlalu keras digunakan) akan diperbaiki ketika 6 atau 9 tahun ada di sana. Padahal berulang kali kita mendengar bahwa usia awal 5-6 tahun adalah usia anak-anak mendapatkan pembentukan karakternya dan keluarga adalah tempat utamanya. Jika anak-anak masuk dan keluar dalam kondisi sama alias tidak berubah maka kita langsung menghakimi bahwa “bengkelnya” kurang rohani, sudah ‘nggak sesuai visi misinya, mulai sekuler dan terlalu akademik ‘tok. Tanpa menyadari bahwa di sisi sana ada orang tua yang menangis dan berdoa bersama wali kelas anaknya setiap hari, walau tanpa bertemu, untuk perbaikan kehidupan anak yang beberapa dari mereka mengalami perubahan hidup pada akhirnya. Lalu apa maksudnya?

 

Pertama, saya harus menyadari dan izinkan saya mengajak Anda juga menyadari bahwa keluargalah tempat pertama bahkan utama dalam pendidikan anak. Ini kebenaran yang tidak terbantahkan karena Allah sendiri yang merancangkannya. Guru hanya perwakilan orang tua selama anak di sekolah dan itupun selama mereka masih sekolah di sana. Orang tua? Adalah yang dipercayakan Allah seumur hidup dan tidak ada perjanjian untuk dialihkan kepada pihak lain. Ketika sekolah menjadi seperti saat ini, adakah hal ini membangunkan kita bahwa anak-anak membutuhkan kita, orang tuanya? Adakah hal ini menyadarkan kita, sesadar-sadarnya, bahwa jangan-jangan selama ini kita, tanpa sengaja, sudah menukar “hak kesulungan” kita untuk mendidik anak-anak kita dengan “semangkuk sup kacang merah” dalam bentuk apapun itu? Dan ini bukan sekedar nampak luarnya, tetapi apakah di dalam hati kita memahami hal itu?

 

Maka, bangkitkan dalam diri kita, dalam jiwa kita, bahkan mintakan itu pada Tuhan, agar kesadaran akan panggilan kita sebagai orang tua kembali menancap sedalam-dalamnya. Entah kita merasa selama ini sudah baik atau kurang baik sebagai orang tua, kesadaran akan panggilan mulia ini harus menancap dan makin dalam berakar kembali. Sehingga kita akan meminta kepada Allah akan pertolongan-Nya yang memampukan kita. Entah untuk menemani anak kita yang masih kecil untuk zoom dengan wali kelasnya. Entah untuk sekedar bertanya dan mengontrol perkembangan studi mereka melalui aplikasi yang sekolah sediakan di gadget kita. Entah untuk menemani dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit dari tugasnya walau itu harus membuat kita memutar otak dan me-recall kembali semua ilmu yang pernah kita dapat. Atau entah-entah yang lainnya. Bahkan bila perlu kita akan berdoa dan menangisinya demi panggilan kita dan hidup anak-anak kita. Mari kita mulai dari awal, adakah panggilan mulia itu terngiang-ngiang di saat-saat seperti ini untuk membawa kita pulang kepada Allah, Sang Empunya keluarga dan anak-anak kita?

 

Sehingga walau kita tak seberani Yosua, tak setegas dan selugas dia ketika mengeluarkan perkataan iman, sebaliknya kita hanya bisa berlutut, menepuk dada, dan menangis sambil berkata, “Tuhan, aku dan seisi rumahku akan menyembah-Mu. Tolonglah aku yang tidak berdaya ini.” Maukah??? Tuhan Yesus memberkati keluarga Anda. Amin.

 

 

Selasa, Oktober 06, 2020

Jangan Sampai Uangmu Berubah Menjadi Mamon

 

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

1 Timotius 6:10

 

Terus terang salah satu pergumulan di masa pandemi ini adalah tentang aspek ekonomi, yang artinya itu berkaitan dengan uang. Saya tidak ingin sok suci dengan mengatakan uang itu tidak penting. No! Kita hidup di dunia di mana uang adalah alat tukar kita untuk mendapatkan sesuatu termasuk membeli kebutuhan hidup kita. Maka, uang itu penting. Lalu apa artinya? Akan menjadi masalah begitu uang ‘menyelinap naik’ dan menggantikan tempat Tuhan sebagai penguasa dan penentu hidup kita. Kita pikir dengan mempertahankan cukup uang maka kita memiliki keyakinan diri bahwa kita mampu melewati pandemi ini.  Sekali lagi, bukan uang itu tidak penting, bukan uang itu tidak perlu diperhitungkan, tetapi “di mana” ‘uangmu’ sekarang? Atau kalau meminjam ayat firman Tuhan di atas, apakah cintamu sudah tertuju padanya(=uang)? Karena akar segala kejahatan bukan uang tapi cinta uang.

 

Apa yang terjadi kemudian? Cinta uang membuat seseorang mengejar uang dan menyimpang dari iman bahkan rela untuk menyiksa diri dengan berbagai duka. Rela menderita demi uang bahkan merendahkan diri, menjual muka, mencoreng muka, semua demi uang. Apa contohnya? Anak-anak kita hanya dinilai dengan uang saat ini. Kok bisa? Ya, contoh yang paling mudah adalah masalah pendidikan mereka.  Dalam iman kita, harusnya segala konsekuensi akibat pandemi ini disikapi dengan iman termasuk pendidikan anak-anak kita. Tapi kita lebih memakai perhitungan untung rugi daripada iman. Saat Tuhan memberi kesempatan kita berperan lebih besar untuk pendidikan anak-anak kita sendiri, ANAK KANDUNG! Kita malah marah-marah dan menyalahkan sekolah yang juga ‘nggak tahu mesti menyalahkan siapa lagi? Kenapa? UANG, aku sudah bayar, ‘kok aku yang harus repot?! Sebenarnya jalan keluar untuk hal ini mudah, mungkin ini saatnya mencari sekolah sesuai keinginan kita maka selesai masalahnya. Tapi kita juga nggak mau karena kuatir masa depannya. Lalu? Karena uang beberapa orang tanpa malu memperjuangkan sesuatu dengan mengorbankan nilai-nilai kehidupan yang lebih besar. Trust, rasa hormat, telah disejajarkan dengan uang. Sekali lagi, saya bukan berkata uang ‘nggak penting, tapi kita harus “aware” kalau uang sedang menggoda kita untuk terpikat dengannya dan membuat kita pelan-pelan mati rasa dengan iman kita kepada Tuhan. Apa kita aware? Dalam film Wallstreet, Gordon Gekko berkata kepada seorang pialang muda bahwa uang tidak pernah tertidur, dia selalu terjaga bahkan ketika kita tertidur untuk terus menggoda kita agar menyerah kepadanya. Apakah kita aware? Kalau uang bukan lagi sekedar uang buat kita tapi menggoda kita untuk menjadikannya mamon? Apa itu? Lawan Tuhan, yang disejajarkan dengan Tuhan. Tuhan Yesus sendiri berkata, kamu tidak mungkin mengasihi Allah dan mamon, kalau mencoba mengasihi keduanya maka pasti mamon akan jadi yang utama. Pasti! Kok bisa? Tuhan Yesus kemudian memberikan contoh kehidupan para pemimpin agama saat itu yang kelihatan beriman tetapi mencintai uang (Lukas 16:13-14). Gereja juga ‘nggak luput kuatir akan uang dan begitu yang dikuatirkan adalah uang maka pasti Tuhan Yesus akan disingkirkan. Ini bukan perkataan saya tapi Tuhan Yesus sendiri. Kiranya kemurahan Allah mengasihani kita semua.

 

Lalu bagaimana? Pertama, kita harus mengakui bahwa kita sulit untuk tidak mencintai uang. Sekali lagi, akar segala kejahatan bukan uang tapi cinta uang. Ya, pandemi ini telah membuka semuanya, apa lagi yang kita mau coba tutupi. Selama ini keliatannya fine-fine saja karena situasi seakan begitu memberkati kita. Allah seakan mengambil risiko melalui situasi ini untuk ‘seakan berani sakit hati’ melihat anak-anak-Nya lebih mencintai uang dan rela mensejajarkannya dengan Diri-Nya. Betapa menistanya kita, Tuhan kita sejajarkan dengan uang? Tapi, langkah berikutnya ada, yaitu jangan pergi berpaling dari Yesus seperti orang muda yang kaya itu, tapi berlutut dan mohon Tuhan Yesus mengajarkan bahasa kasih-Nya kepada kita. “Ajar kami Tuhan, kuduskan hati kami Tuhan, agar mengasihi-Mu.” Maka langkah –langkah kecil dibukakan untuk kita. Entah kita belajar berbelas kasihan kepada yang berkekurangan. Atau kita diberikan belas kasihan kepada sesama yang harus ditolong. Atau kita belajar bersyukur melalui persembahan di tengah kekurangan, rasa kurang tepatnya. Atau kita menahan diri untuk berpikir terlalu besar, tetapi belajar melihat apa yang ada sehari demi sehari.

 

Dulu, saya pikir saya masih lebih baik dari pendeta-pendeta lain yang bingung dengan keuangan gerejanya. Tapi nyatanya sama saja, saya juga manusia yang mencintai uang, cuma saya ‘nggak cukup punya keberanian untuk mengakui itu, atau karena saat ini saya bukan penanggung jawab besar di gereja. Lebih mudah untuk bicara memang kalau seperti itu kondisinya.

Tapi di saat kita berani membuka diri dan merendahkan diri di hadapan Allah, maka ketika Allah berkarya menolong dan memampukan kita maka di sanalah kita memahami bahwa memang manusia bukan hidup dari roti saja tapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Amin. Tolonglah kami, ya Tuhan Yesus.

 

 


Senin, Agustus 10, 2020

Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Saya? (Part 2)

 

Pada bagian yang pertama, kita diingatkan untuk berjalan bersama anak-anak kita di tengah masa pandemi ini, yaitu bagaimana iman kita nampak ketika kita menemani dan membantu mereka dalam pembelajaran jarak jauh yang mereka hadapi setiap hari.

 

Sekarang yang kedua, yaitu bagaimana iman kita nampak dalam sikap kita menghadapi situasi kehidupan kita sendiri sebagai orang tua. Sekali lagi, kita sadari atau tidak sadari, anak-anak akan memperhatikan bagaimana cara orang tuanya menghadapi tantangan dan kesulitan hidup mereka. Bagaimana kita mengatasi kesulitan rumah tangga kita? Bagaimana orang tuanya menyelesaikan konflik? Bagaimana sikap orang tuanya ketika menghadapi pandemi ini dengan segala aspek yang dipengaruhinya dalam rumah tangga mereka? Apakah karakter orang tuanya nampak dengan jelas, tentunya karakter yang makin dikuduskan dan diubah Tuhan sehari demi sehari? Ataukah yang nampak adalah respons instinct semata, marah berlebihan, menyalah-nyalahkan, saling bertengkar, selalu mengeluh, dan semacamnya. Bisa jadi anak-anakpun akan menjadi sasaran karena merekalah pihak yang lemah di dalam keluarga yang bisa menjadi sasaran tembak dari kemarahan atau ketidakpuasan orang tua yang sebenarnya ditujukan kepada orang lain.

 

Melihat respons yang negatif tersebut, maka saya diingatkan akan sebuah screenshot yang pernah dikirim seorang teman kepada saya. Di sana tertulis tentang 5 ciri-ciri seorang pribadi yang “sulit”, yaitu

  1.  Segala sesuatu selalu dipusatkan kepada mereka (egois)
  2. Mereka adalah orang yang perkataannya ‘beracun’, sehingga provokatif
  3. Mereka menganggap diri mereka sebagai korban, sehingga akan self-pity atau selalu menuntut keinginannya dipenuhi
  4. Mereka buta terhadap apa yang seharusnya jelas terlihat, sehingga tidak peka terhadap orang lain atau kelemahan diri sendiri
  5. Mereka sangat perhitungan (itung-itungan), sehingga mereka tidak rela rugi walaupun harus mengorbankan orang lain

Screenshot di atas adalah slide dari sebuah webinar yang diadakan di masa pandemi ini, yang mengingatkan apakah saya ketika menghadapi pandemi ini bersikap atau memakai sikap seperti itu? Apakah itu juga yang terjadi dalam kehidupan Anda? Apakah itu yang dilihat oleh anak-anak dalam diri kita? Atau itu yang tanpa sadar kita ajarkan kepada anak-anak di masa sulit ini?

 

 

Maka, sebenarnya untuk berjalan bersama anak-anak di masa sulit ini, hal pertama yang harus kita tanyakan adalah bagaimana sebenarnya relasi kita (sebagai ortu) dengan Tuhan di masa sulit ini? Sebuah pepatah rohani mengatakan:

 

It’s not a parent’s responsibility to have a godly children. It’s a parent’s responsibility to make sure their children have godly parents.

 

Jadi bukan masalah apakah anak-anakku saat ini ada di sekolah Kristen yang baik, ikut ibadah yang baik, belajar doktrin yang baik. Ya, itu penting. Tetapi pertanyaan mendasarnya adalah apakah kita sendiri adalah orang tua yang saleh bagi anak-anak kita? Sering, atau tanpa sadar, kita menuntut dan ingin anak-anak kita menjadi orang saleh tanpa kita menuntutnya kepada diri kita sendiri. Bagaimana kehidupan ibadah kita di masa-masa online ini? Kehidupan doa, saat teduh, firman Tuhan? Apakah kita punya kepekaan, “ngeh”, ketika ada reaksi, pikiran, atau sikap yang tidak diperkenan Tuhan atau tidak sesuai dengan firman Tuhan ketika hidup di tengah-tengah situasi yang tidak mudah ini?

 

 

Lalu bagaimana?

Saat ini situasi ujian kehidupan kita tidak sama seperti Abraham dan Ishak, tetapi Tuhan yang menyertai kita adalah Tuhan yang saat itu menyertai Abraham dan Ishak dalam perjalanan iman ke gunung di tanah Moria. Siapakah Dia? Abraham mengatakan bahwa Dia adalah “Allah yang Menyediakan”. Seringkali sebutan ini kita pakai untuk mengaminkan bahwa Dia akan menyediakan segala kebutuhan kita, yang problemnya adalah kita sendiri sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan kita. Kita seringkali mencampur-adukkan antara keinginan dan kebutuhan kita, sampai-sampai kita ‘nggak ‘ngeh lagi apa yang menjadi kebutuhan kita yang perlu disampaikan kepada Tuhan karena kita sangat bergantung kepada-Nya.   

 

“Allah yang Menyediakan” adalah Allah yang menyediakan “Anak Domba Paskah” di dalam Tuhan Yesus bagi penebusan dosa kita, sehingga kita yang percaya disebut sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak-Nya kita bisa datang kepada Bapa, Allah yang menyediakan itu, untuk memohon apa yang menjadi kebutuhan kita saat ini. Kebutuhan yang kita perlukan untuk menghidupi iman kita dalam perjalanan kehidupan bersama anak-anak saat ini. Apa yang menjadi kebutuhan kita? Kesabaran untuk menemani dan menjadi teladan perubahan? Damai sejahtera dan pengharapan di dalam kekalutan dan kesulitan yang menggoyahkan iman kita? Kebutuhan sehari-hari, seperti doa kepada Bapa untuk memberikan kepada kita makanan secukupnya setiap hari? Hikmat untuk menjalani hari-hari tidak mudah ini? Atau kasih dari surga untuk mengasihi pasangan dan anak-anak kita karena kita sadar betapa kurangnya dan tidak mampunya kita mengasihi mereka? Atau kita hanya datang dalam ketidakmengertian untuk berkata, "Bapa tolonglah aku ini." Maukah kita datang dan merendahkan diri seraya meminta kepada-Nya? Roma 8:32 mengatakan:

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Masakan Allah yang sudah memberikan Anak-Nya kepada kita akan membiarkan kita ketika kita memohon pertolongan untuk hidup memperkenankan-Nya? Justru karena kita sudah mendapatkan Anak-Nya, maka kita mempunyai keberanian untuk mendekat dan memohon kepada-Nya. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita untuk melewati waktu-waktu yang tidak mudah ini. Amin.

Apa yang Akan Diingat Anak-Anak Saya? (Part 1)

Judul di atas adalah satu hal yang menjadi pemikiran saya ketika menjalani masa pandemi Covid-19 ini bersama keluarga. Apa yang akan anak-anak saya ingat saat menjalani masa pandemi Covid-19 bersama kami, orang tuanya? Hal yang diingat yang nantinya akan “kembali berbicara” kepada mereka ketika menghadapi kesulitan atau krisis di masa depan. Hal ini juga yang saya sadari ketika berjalan di tengah pandemi ini, di mana saya kembali teringat akan kenangan saya bersama keluarga di masa krisis 1998-1999. Ketika itu saya seorang anak, tetapi sekarang saya seorang kepala keluarga yang bersama isteri sedang memimpin anak-anak kami melewati pandemi ini. Jadi, apa yang akan diingat anak-anak saya? Pertanyaan ini berlanjut kepada pertanyaan berikutnya, lalu bagaimana saya mesti berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini?

 

Salah satu ayat firman Tuhan yang saya ingat adalah dari Kejadian 22:7-8. Berbunyi demikian,

 

Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"

Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

 

Kejadian 22 adalah kisah tentang ujian iman yang dihadapi Abraham, berkaitan dengan permintaan Tuhan agar Abraham mengorbankan Ishak, anak yang dikasihinya. Walaupun ini ujian iman untuk Abraham, tetapi Ishak sendiri terlibat, mengalami dan ikut merasakan, terutama bagaimana dia dan ayahnya menjalani ujian iman tersebut. Bagaimana dia dan ayahnya berjalan menuju Gunung Moria dan kemudian bertanya, “Di mana anak domba untuk korban bakaran?” Tanpa dia mengerti bahwa dialah korban itu. Tetapi apa yang Abraham katakan saat itu bahwa Allahlah yang akan menyediakan benar-benar terjadi. Padahal waktu itu Ishak sudah terikat di atas mezbah siap untuk dkorbankan. Sebuah pengalaman perjalanan iman seorang anak bersama ayahnya, yang menjadi ingatan untuk kita sebagai orang tua ketika bersama anak-anak menjalani masa yang tidak mudah ini. 

 

Bagaimana kita akan berjalan bersama anak-anak di tengah situasi ini? Jawabannya adalah bagaimana iman kita nampak dalam hidup kita ketika:

Pertama, memperhatikan dan menolong anak-anak menghadapi tantangan ketika menjalani situasi ini, salah satunya adalah pembelajaran jarak jauh (PJJ, home learning). Bagi anak, sekolah adalah salah satu tantangan besar dalam hidup mereka, selain di antaranya adalah pertemanan, keluarga, dan imannya.

Saat ini rasanya tidak ada orang tua yang tidak terlibat dalam proses pembelajaran anak-anak mereka karena ruang kelas telah berpindah ke rumah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita bisa memilih sikap, yaitu mengeluh dan ngomel karena ‘seperti mendapat tugas tambahan’ (refleksi: apakah mendidik anak adalah tugas tambahan bagi orang tua?), masa bodoh, atau mencoba dan mengusahakan sikap yang tepat. Sebagai anak Tuhan tentunya iman kitalah yang seharusnya berbicara dalam situasi seperti ini. Apakah anak-anak melihat bagaimana iman orang tuanya nampak di dalam situasi seperti ini?

Banyak cerita kita dapatkan tentang orang tua dan PJJ anak-anak mereka. Dari yang mengusahakan kecukupan gadget bagi anak-anak mereka. Mengusahakan sambungan internet, ruang belajar yang nyaman, bahkan waktu dan tenaga untuk menemani anak-anak belajar. Bahkan sampai ada yang mengorbankan gadgetnya untuk sementara “dijajah” anak-anak pada waktu-waktu belajar mereka. Bagaimanapun, sadar atau tidak kita sadari, saat ini ataupun nanti, anak-anak merasakan apa yang orang tuanya sedang lakukan, sebagai wujud iman, kepada mereka.

 

Menjalani situasi PJJ ini, beberapa orang tua mensharingkan betapa mereka menyadari bahwa diri mereka ternyata bukanlah orang tua yang baik-baik amat bagi anak-anaknya. “Tak pikir saya ini sudah baik sebagai Ibu, ternyata kesabaranpun saya tak punya,” begitu keluh para Ibu. Di grup WA berseliweran gambar-gambar yang menyindir tetapi disikapi dengan guyon, misalnya transformasi seorang ibu dari Barney, dinosaurus lucu, menjadi T-Rex yang mengerikan; atau gambar seorang anak yang meminta dengan sangat supaya sekolah dibuka kembali karena ibunya lebih mengerikan daripada Gurunya. Tetapi satu hal yang kita ingat adalah seperti yang dikatakan Howard Hendricks dalam bukunya “Mengajar untuk Mengubah Hidup.” Hendricks mengatakan bahwa para siswa tidak mencari “faculty” (Guru/Staf) yang sempurna, tetapi yang bertumbuh. Maka bisalah saya mengatakan bahwa anak-anak tidak mencari orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang bertumbuh di dalam Tuhan. Kiranya masa-masa ini menjadi sebuah masa penuh kesempatan bagi kita sebagai orang tua, masa untuk bertumbuh dalam iman kita sembari menemani anak-anak kita melewati perjalanan kehidupan bersama.


(Bersambung)


Kamis, Agustus 06, 2020

'Yuk Berhenti Sejenak


Sudah beberapa bulan ini kita menjalani masa belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Apa yang kita rasakan? Beberapa dari kita ingin situasi seperti ini segera berakhir sehingga bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Beberapa dari kita mungkin berharap situasi seperti ini jangan cepat berlalu karena kita menemukan sesuatu yang baik di dalamnya. Sulitnya adalah situasi ini disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak mudah kita kendalikan, sehingga kita berada dalam posisi menanti sambil tetap bekerja dan beraktivitas sebisanya dengan terus menaruh pengharapan di dalam Tuhan.

 

Uniknya, kita adalah makhluk yang adaptif, yang terus mencoba untuk beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Seperti yang terjadi saat ini ketika Covid-19 sudah mengguncang zona nyaman dan sistem hidup yang selama ini sudah terbangun dan “settle.”  Pada awalnya kita merasa sangat terganggu sekali, tetapi kita terus bergerak (sadar atau tidak sadar) untuk menemukan “titik tenang” dalam menyikapi problem hidup ini. Setiap orang memiliki keunikan dan perbedaan di dalam perjalanan menuju “titik tenang” ini, ada yang cepat tetapi ada juga yang lambat bergantung dari berbagai faktor yang mempengaruhinya.  Tetapi kita semua sedang mengarah ke sana karena kita ingin menemukan kembali sistem hidup yang sempat hilang tersebut, walau tidak harus sama seperti sebelumnya. Problemnya adalah sistem hidup yang baru itu apakah berdampak baik bagi kehidupan kita atau justru, tanpa kita sadari, malah mendegradasi kehidupan kita?

 

Salah satu sistem hidup yang diguncang oleh kehadiran Covid-19 ini adalah berkaitan dengan kehidupan kerohanian kita, yaitu relasi kita dengan Tuhan termasuk Gereja-Nya. Sekarang rumah kita adalah tempat ibadah kita. Jadwal pelayanan kita menjadi berkurang karena Gereja harus selektif dalam memilih pelayannya atau sebaliknya malah makin sibuk karena kompetensi kita dibutuhkan oleh Gereja di saat-saat seperti ini. Kita berusaha beradaptasi dengan hal itu. Maka izinkan saya mengajak Anda untuk “berhenti sejenak” dengan menjawab beberapa pertanyaan reflektif di akhir tulisan ini (jawablah beberapa pertanyaan tersebut dalam situasi yang tenang tanpa banyak gangguan sehingga tidak terburu-buru dan ada waktu untuk berefleksi). Yang penting, jangan jatuh dalam rasa bersalah berlebihan atau malah sombong rohani, tetapi hendaknya ini menjadi sebuah refleksi pribadi (atau bersama pasangan) dan bahan doa di hadapan Tuhan. Kemudian kita mencoba melangkah ke depan, dengan pertolongan Tuhan, untuk merubah atau membentuk kembali sistem hidup yang membangun.

 

Jadi, ‘yuk berhenti sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini berdasarkan kondisi Anda yang sesungguhnya selama beberapa bulan ini. 

      Apakah Anda mengikuti ibadah setiap minggu (baik online ataupun ibadah keluarga)?  (Ya/Tidak rutin/Sudah hampir tidak pernah).

Gereja yang Anda ikuti ibadah onlinenya? (Gereja sendiri/Gereja lain/Bergantian) Apa alasannya Anda mengikuti ibadah Gereja lain? (Gereja sendiri tidak ada ibadah online/ Keinginan pribadi/Menambah wawasan).   

Apakah Anda mengikuti ibadah online sesuai waktu yang ditentukan gereja? (Ya/Menyesuaikan dengan kondisi saya).

Bagaimana kehidupan saat teduh Anda dengan Tuhan dan firman-Nya? (Makin baik/Berusaha menjaga/Hampir tidak pernah)

Bagaimana kehidupan doa Anda bersama Tuhan? (Makin baik/Berusaha menjaga/Hampir tidak pernah)

Apa yang menjadi hambatan untuk bersaat teduh/berdoa? (Tidak ada/Mengurus rumah tangga/Kesibukan kerja di rumah/Lain-lain/Malas)

Bagaimana perasaan Anda ketika menjalani kondisi saat ini? (Tenang/Kuatir/Biasa saja)

Secara umum, apakah kesulitan saat ini membuat Anda makin bertumbuh dan ingin dekat dengan Tuhan? (Ya/Biasa saja/Tidak terpikir)

  

* Jika melihat jawaban-jawaban di atas, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anda dan apa yang Anda ingin doakan kepada Tuhan untuk perjalanan kehidupan ke depan?

 


Mengapa mesti berhenti sejenak dan memikirkan kembali kehidupan rohani kita di masa karantina ini? Kehidupan rohani berkaitan dengan relasi dan hati kita kepada Tuhan, yang berdampak dalam pikiran, perasaan, dan perilaku kita. Sehingga apa yang dicari melalui beberapa pertanyaan reflektif di atas bukan jawaban ya atau tidak atau bukan siapa lebih rohani atau kurang rohani. Tetapi lebih dalam dari itu, agar jangan sampai kita menjadi “ilfil” atau “ilang rasa” sama Tuhan.  Apakah Anda sedang dalam kondisi tersebut di saat seperti ini? Atau sebaliknya, feeling/rasa Anda kepada Tuhan tidak pernah sekuat seperti ini sebelumnya? Atau situasi ini membukakan kondisi kerohanian kita yang tidak pernah disadari sebelumnya? Kesulitan hidup memang bisa membuat seseorang menyadari akan Tuhan dan termotivasi untuk membangun kehidupan rohani yang lebih baik dari sebelumnya. Sebaliknya kesulitan bisa membuat seseorang makin terpuruk dan mengasihani diri sendiri, atau malah masa bodoh dengan situasi yang ada bahkan terhadap Tuhan dan hal-hal rohani. Jangan sampai kesulitan saat ini justru membentuk sistem hidup rohani yang tanpa sadar bisa mendegradasi kerohanian kita karena Gereja sekarang hanya sejauh jempol, mouse, atau remote TV kita, dengan kata lain “hal rohani menjadi begitu nyaman”.

 

Kehidupan kita dengan Allah di dalam Tuhan Yesus adalah relasi kepemilikan dan bukan sebuah kontrak dagang atau bisnis yang saling menguntungkan. Begitu eratnya relasi itu sehingga kita dapat memanggil-Nya sebagai Bapa. Itulah mengapa relasi dengan Dia harus dijaga dan ditumbuhkan karena Dia adalah Bapa kita. Ketika Anda berhenti sejenak dan menemukan dengan terang pertolongan Tuhan bahwa: “Tuhan, aku rasanya ilang filing sama Kamu,” maka datanglah pada-Nya. Ingatlah janji firman-Nya  dalam Yesaya 42:3: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” Justru kita membutuhkan Dia untuk kembali menumbuhkan kasih yang mula-mula itu (Wahyu 2:4). Tuhan tidak pernah ilang rasa sama kita, maka jangan biarkan rasa Anda kepada Tuhan perlahan-lahan mulai hilang. Biarlah Ibadah Minggu nanti menjadi awal yang baru di dalam  Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

 

 

 

 

Surat untuk Para Pendidik




Para Pendidik yang dikasihi dan mengasihi Tuhan. 

Sudah beberapa bulan ini kita berada dalam situasi yang sulit dan tidak biasa ini. Tentunya karena kita sedang menghadapi hal yang sama seperti yang dihadapi semua orang, yaitu pandemi Covid-19 dengan semua aspek yang dipengaruhinya, seperti kesehatan, sosial, ekonomi, dsb. Termasuk bagi beberapa dari Anda yang adalah orang tua, kita juga mengalami apa yang namanya work from home sambil membimbing anak-anak untuk home learning. 


Tetapi terkhusus sebagai pendidik, kita juga mengalami yang lebih dari itu, yang orang lain mungkin tidak mudah untuk memahaminya. 

Pertama, yang kita semua makin merasakannya, yaitu kita kehilangan sekali yang dinamakan “personal touch”, salah satu hal yang kita butuhkan dalam mendidik. Semua yang serba virtual ini menghasilkan “lubang” dalam proses pendidikan yang kita sedang kerjakan saat ini. 
Kedua, kita bisa kehilangan afirmitas diri (keajegan), karena seakan semua yang kita lakukan sekarang sebagai pendidik tidak lagi firm/ajeg. Terutama akan terasa sekali bagi Anda yang baru saja memulai profesi ini, yang sedang berusaha beradaptasi dan menemukan keajegan dengan profesi ini. Apa yang kita lakukan dan siapkan selalu ada kurangnya dan mudah disalahkan. Kita bertanya-tanya apakah semua yang kita siapkan tersampaikan dengan baik kepada para siswa dan orang tua mereka. Apakah semua yang kita perbuat ini dihargai atau jangan-jangan hanya dianggap angin lalu? 
Ketiga, kita bisa kehilangan “sense of calling,” atau terputus dalam perjalanan mencari panggilan Tuhan bagi kita saat ini terutama panggilan sebagai pendidik. Saya berdoa agar ini jangan sampai terjadi dalam kehidupan kita. Justru di saat seperti ini kita sadar betapa signifikannya kehadiran kita sebagai pendidik. Ya, kita bukan orang tua para siswa itu, tapi apa yang terjadi beberapa bulan ini menyadarkan kita bahwa kehadiran para pendidik dalam hidup sebuah keluarga adalah sesuatu yang tidak mudah dicari penggantinya. Ini tidak mudah dipahami karena dunia saat-saat sekarang ini “memaksa” setiap orang mengukur semuanya dengan materi. Tetapi jangan sampai “calling” kita perlahan-lahan mulai hilang karena tergerus dengan situasi ini. 


Lalu bagaimana? 
Kitab Suci mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Secara sederhana ayat ini memberikan satu pelajaran agar kita belajar menjalani hidup yang penuh kekuatiran ini satu hari demi satu hari. Apa artinya? 

(1) Berjalan menjalani hidup sehari demi sehari bukan berarti kita tidak memikirkan dan mempersiapkan hari depan. Tetapi biarlah apa yang memang menjadi bagian Tuhan diserahkan kepada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan seperti “sampai kapan kita seperti ini?” “Bagaimana dengan ini dan itu dalam hidupku?” “Bagaimana ke depan ini?” Atau pertanyaan lain yang kita sadar tidak bisa dijawab dan dikendalikan sepenuhnya, yang kalau kita terus berkutat di dalamnya hanya mendatangkan apa yang tidak baik dalam pikiran, emosi, dan tindakan kita. Mari kita belajar menyerahkannya kepada Tuhan sambil mengimani: “Be still and know that He is God.” Kita saat ini seperti ada dalam pasir hisap atau tenggelam di laut, yang kalau kita makin meronta malah makin tenggelam. Tapi biarlah kita belajar “tenang”, “be still”, “cease striving” (berhenti meronta) dalam Tangan Allah yang kuat yang sedang memegang dan menolong kita. Maka, jangan kita melepaskan relasi dengan Tuhan di dalam waktu yang sulit ini, yang bagi beberapa orang bisa menimbulkan tekanan hidup dan depresi. Mari belajar bersyukur, berdoa, dan mencari kehendak-Nya sehari demi sehari. Salah satu contoh seperti pemazmur yang tidak membiarkan semua tekanan hidup bergulat dalam dirinya. Dia belajar membawanya dalam pergumulan kepada Tuhan, dalam ratapan, keluhan, emosi yang kadang begitu terbuka di hadapan Tuhan, untuk menemukan bahwa Allahlah gunung batu, kota benteng, dan perlindungannya. 

(2) Melakukan apa yang bisa kita temui hari ini untuk dilakukan sebaik-baiknya. Kita memikirkan dan melakukan yang terbaik yang kita mampu untuk mencukupi keluarga kita, mengatur rumah tangga bersama pasangan, dan mendidik anak-anak kita sendiri dan para siswa yang dipercayakan kepada kita. Salah-kurang, merasa gagal, disalah pahami pasti ada, di sanalah kita berproses bersama-sama untuk makin bertumbuh dengan pertolongan Tuhan. 

(3) Kita bisa meminta agar kasih Tuhan melingkupi dan membantu kita untuk berempati dengan orang lain. Sehingga kita dihindarkan dari mengasihani diri sendiri (“self pity”) atau membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang hanya menimbulkan iri hati, sikap merasa menjadi victim, sikap menuntut, atau sombong. Sebaliknya biarlah kita rindu untuk bisa menjadi berkat, bagaimanapun dan seberapapun terbatasnya kita. 


Pandemi Covid-19 bukan lagi sekedar tantangan dalam kehidupan fisik dan materi kita, tetapi juga menjadi tantangan iman kita. Maka biarlah kita menjalani ini bersama Tuhan yang berjanji tidak pernah meninggalkan kita. Dan dalam kemurahan kasih-Nya, kita memohon supaya Dia segera melekaskan situasi ini. Amin. 





Kamis, Juli 30, 2020

Hati ke Hati dengan Bapa di Surga

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” Matius 6:1

 

Sebenarnya di masa pandemi seperti saat ini, kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan apa yang Tuhan Yesus katakan di atas, yaitu untuk tidak melakukan kewajiban agama kita di hadapan orang. Kalau melakukan di hadapan orang akibatnya adalah kita bisa jatuh dalam motivasi yang salah yaitu cuma ingin dilihat dan dinilai orang, maka sebenarnya ini kesempatannya untuk tulus melakukan kewajiban agama kita tanpa dilihat orang. Tetapi problemnya adalah ternyata hati kita juga tidak tulus-tulus amat ketika tidak dilihat orang. Dicatat ada beberapa kebiasaan muncul ketika menikmati ibadah online, yang menjadi ajang debat/diskusi teologi dari pemimpin sampai jemaatnya. Bosan ‘ah ibadahnya gerejaku, gitu-gitu aja; Nah, ini ada ibadah yang lebih ok! Boleh nggak, pas puji-pujian ikut gerejaku, terus kalau firman ikut gereja sebelah? ‘Kan ditaruh youtube, jadi nanti aku bisa ibadahnya jam berapa saja, kalau sudah mandi dan makan dan siap hati! (Beneran?!). Persembahan nggak ya? Seminggu ini seret banget pemasukan, mana kapan hari bantuin cik Lisa beliin mie gorengnya. Boleh nggak, sudah bantuin orang gitu, terus gak ngasih persembahan? Dan percakapan semacam ini bisa makin panjang seturut dengan segala yang terjadi di sekitar ibadah online yang tidak dilihat orang itu. Tidak dilihat orangpun, ternyata hati kita juga tidak tulus-tulus amat? Lalu, bagaimana ini?

 

Kita tahu bahwa ini bukan sekedar dilihat atau tidak dilihat orang. Beberapa orang mengatakan, “Ini masalah hati, pak!” Ya, tapi apa artinya ini masalah hati? Hati yang bagaimana, ‘la wong dilihat nggak dilihat bisa nggak tulus, kok. Apa artinya Tuhan Yesus meminta supaya kita jangan lakukan di depan orang, apa artinya Tuhan Yesus meminta kita masuk ke kamar dan temui Bapamu berdua saja? Apa artinya itu terutama ketika kita kaitkan dengan kondisi kita yang benar-benar melakukan kewajiban agama tanpa dilihat orang saat ini?

 

Apa yang terjadi ketika kita benar-benar berdua dengan orang yang mengasihi kita? Apa yang terjadi ketika kita berdua dengan Bapa yang mengasihi kita di dalam Kristus? Bapa yang tahu kedalaman hati kita dan yang melihat itu melebihi rupa kita? Kita mau show-off di depan Dia atau kita akan jujur dan benar-benar terbuka di depan Dia? “Tuhan, mengapa aku jadi itung-itungan begini dengan-Mu saat ini, seakan selama ini Engkau tidak pernah memelihara hidupku?” “Tuhan, mengapa hidup rohaniku jadi kering seperti ini?” “Bapa, kenapa aku mulai malas beribadah? Tunda-tunda dan akhirnya mencari pembenaran diri?” “Mengapa aku mulai bosan dengan gerejaku sendiri?” Kenapa justru ketika tidak dilihat orang, aku makin berani di hadapan Allah dan bukannya bisa bersikap tulus? Jangan-jangan, justru di saat seperti ini, Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk berani jujur dan terbuka akan diri kita di hadapan-Nya, tanpa malu-malu lagi, karena tidak ada orang yang melihatnya. Ketika kita beribadah, kita datang dengan doa, dengan sikap, dengan ketulusan dan keterbukaan sejujurnya. Ketika memberi persembahan, kita datang dengan sikap, dengan doa, bahkan doa dalam kekuatiran akan masa depan kita. Dalam ketulusan hati, kita bisa berseru kepada-Nya untuk memurnikan dan melembutkan hati kita. Tolonglah aku, ya Bapa, mengasihi-Mu, mengucap syukur walau dalam situasi seperti ini. Tolonglah aku, ya Bapa, di saat-saat seperti ini, untuk Engkau merestart diriku sekali lagi dan memurnikannya, sehingga hidupku makin mengasihi-Mu dan berkenan kepada-Mu. 

Dan, ketika pandemi ini berakhir dan kita diizinkan kembali beribadah seperti semula, apakah hanya situasi saja yang akan berubah, ataukah hidup kitapun akan diubah-Nya, sedikit demi sedikit?