Entah disengaja atau
tidak, yang pasti tidak ada yang kebetulan, momen pilkada Gubernur DKI tahun
ini mirip dengan masa JB 4 tahun lalu. Yaitu pas bebarengan dengan momen
pemilihan presiden Amerika Serikat. Gaungnya sudah tentu kita semua tahu,
pilkada DKI lebih besar dari yang disono. Kali ini juga hampir sama. Gaungnya
si kokoh menggema lebih besar dari yang disono.
Pada season 1, saya
menutup tulisan saya dengan menaikkan doa bahwa kiranya kehendak Tuhan yang
jadi atas kota Jakarta dan bangsa ini. Kalaupun JB tidak jadi Gub dan Wagub
Jakarta tahun 2012 lalu, saya percaya rencana dan kehendak Tuhan adalah yang
terbaik. Dia Maha Tahu, Dia Maha Bijaksana, Dia Maha Kuasa. Bukankah kita
mengamini bahwa segala kuasa di muka bumi ini ada di dalam tangan-Nya?
Maka pada season 3 ini
saya juga ingin mengutip kembali kalimat-kalimat di atas. Saya menulis ini
ketika Jakarta bersiap ‘membara’ dengan demo pasukan “putih” yang ingin
melengserkan si kokoh sesegera mungkin. Saya berharap Tuhan bermurah hati dan
berbelas kasihan. Tetapi di sinilah sekali lagi saya diajak memikirkan hal ini.
Saya warga Surabaya dan bukan DKI, tetapi ikut prihatin dan memikirkan kondisi
bangsa ini.
Itulah salah satu hal
yang berhasil dilakukan si kokoh kepada saya (dan mungkin orang-orang lain di
negara ini, dan bukan di DKI saja). Dia berhasil membuat kita mulai makin
peduli dan prihatin dengan bangsa kita. Sehingga banyak orang percaya mendoakan
Jakarta, mendoakan kota mereka, mendoakan bangsa ini. Mendoakan anak-anak Tuhan
agar berani berdiri seperti Yusud dan Daniel bagi Indonesia.
Dia berhasil membuat
saya mulai mau belajar apa itu politik. Apa itu demokrasi dan segala titik
komanya, yang selama ini seakan ditutupi dari kita untuk kepentingan mereka
yang disono.
Tetapi siang hari ini,
dia membuat saya juga berharap kepada Tuhan dan sekali lagi mengamini akan
kuasa-Nya atas bangsa dan negara di muka bumi ini.
Yusuf masuk penjara
karena fitnah untuk rencana Tuhan yang lebih besar di depan. Daniel ditantang
dengan gua singa untuk memuliakan Tuhan. Tetapi
di lain pihak saya juga diingatkan, Musa mengakhiri tugasnya memimpin
Israel ke tanah perjanjian ketika kesalahan fatal dibuatnya yaitu menghina
kekudusan Tuhan. Daud karena jatuh dalam kenyamanan dan kesombongan menjadikan
kepemimpinannya atas Israel bernodakan pembunuhan dan perzinahan.
Si kokoh? Secara
pribadi saya harus mengakui bahwa kokoh sudah slip lidah. Wataknya yang sering
keluar dalam kata-kata yang tidak dipikir lebih dahulu kali ini menjatuhkan
dia. Kalaupun gak menjatuhkan dia, dipakai orang untuk menjatuhkan dia.
Saya percaya sudah ada
beberapa orang dekat yang peduli dengan dia memberikan teguran dan peringatan,
sehingga dia berani minta maaf.
Tetapi konsekuensi
tidak bisa dihilangkan. Pihak yang disono mendapat angin untuk memakai hal ini.
Memang saya marah, muak, jengkel, nanonano pokoknya melihat hal ini. Tetapi
harus diakui konsekuensi tidak bisa dihapuskan.
Disinilah ucapan
seorang teman menjadi doa…”Providensia Ilahi yang bisa menyelamatkan dia.” Di
sinilah sebenarnya saya percaya si kokoh sedang mengalami pembelajaran iman.
Tuhan sedang ingin menunjukkan sesuatu. Tapi entah apa itu. Kalau si kokoh
melewati ini dengan baik…Puji Tuhan. Tetapi kalau si kokoh harus lengser…Puji
Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan tahu yang terbaik, dan Dia tidak ingin
anak-anak-Nya mengalami sesuatu yang lebih lagi mempermalukan imannya dan Tuhannya.
Ingat kisah Hizkia?
Banyak tulisan di luar
sana berseliweran. Membela Ahok, bertheodicy, dan menguatkan iman. Tetapi saya
pribadi memilih jalan untuk berdoa, me-manage sikap saya terhadap si kokoh, dan
mulai menyadari. Adalah tidak benar kalau kita mendoakan bangsa ini, kota ini,
pemimpin kita, hanya karena dia seiman dengan kita. Kita sedang terkena sindrom
yang sama dengan mereka-mereka disono. Sindrom gigantisme iman, ingin iman kita
yang paling superior. Padahal kita lupa, Tuhan kita yang paling superior dan
terkadang Tuhan kita memilih jalan yang di luar perkiraan kita, seakan Dia
mempertaruhkan superioritasnya itu untuk dihina-hina orang. Ingat bagaimana Dia
menyerahkan umat pilihannya untuk dihancurkan penjajah. Ingat bagaimana Dia
mengutus Anak-Nya untuk datang sebagai manusia yang menghamba. Ingat bagaimana
Dia mengizinkan kekaisaran Romawi yang sudah menjadi Kristen untuk hilang.
Karena Tuhan ingin menunjukkan dan mengingatkan, “Berharaplah hanya kepada-Nya,
dan bukan kepada manusia.” “Kerajaan Tuhan bukan sama seperti dunia ini.” Tuhan
mengangkat anak-anak-Nya dalam posisi mulia di dunia untuk menunjukkan Siapa
TUHAN dan Bagaimana manusia seharusnya menyadari akan dirinya dan Diri-Nya.
Doaku untuk Jakarta.
Doaku untuk Indonesia. May God be glorified, even when we as his followers are
full with weaknesses and emptiness.
