Jumat, April 15, 2016

Milih Gubernur aja Ngalahin Milih Presiden (season 2)




Tahun 2012 lalu duet kotak-kotak menjadikan pemilihan Gubernur lebih bergaung daripada pemilihan Presiden. Tetapi karena “kotak” yang satu sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini, maka tersisalah “kotak” yang terakhir. Ternyata “kotak” yang satu ini lebih ‘gila’ lagi (bukan bermaksud tidak hormat, pis pak Ahok!). Pilkada masih sekitar setahun lagi, gaungnya sudah terasa bahkan mulai beberapa bulan lalu. Gaungnya bahkan se tanah air bahkan ke negeri tetangga…Di-gong dengan sebuah keputusan ‘nekad’ yaitu memilih jalur perseorangan yang membuat para partai menjadi ‘galau merana.’ Terpecahlah para partai, harus memilih mendukung atau melawan. Mendukung berarti ‘merendahkan diri’, kalau melawan bisa dianggap tidak mewakili rakyat.

Itulah ‘kotak’ yang terakhir itu, sebut saja dia sebagai Pak Ahok. Tetap konsisten tidak berubah sejak 2012, suka marah, terlihat belagu dan sombong (kalau tidak mau disebut arogan), dan keras serta tegas. Tetapi makin lama dan makin dilihat, ini menurut saya ya…saya mencoba memahami mengapa dia sering marah-marah, terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang terhormat itu.
Satu “istilah” yang bisa mewakili itu…dan sering pak Ahok menyebutnya dan menjadikannya senjata pamungkas yang menohok serta menelanjangi mereka…”pembuktian terbalik.”

Apakah mereka-mereka yang terlihat terhormat dan santun itu berani melakukan pembuktian terbalik? Apakah mereka yang  menuding dia dan berkata “Ahok maling” atau “Ahok korupsi” sudah melakukan pembuktian terbalik? Apakah mereka yang mengaudit semua keuangan pemerintah daerah dan pusat di tanah air ini sudah juga berani melakukan pembuktian terbalik? “Kalau bahkan melaporkan harta bendanya saja tidak pernah atau sudah kadaluarsa, how dare you nuding-nuding gue? Kalau bahkan mobil mewahnya bodong, how dare you bolak balik KPK untuk memaksa men-jaket oranye-kan gue?”
Saya berpikir, pak Ahok tidak suka ribut…tidak suka berantem…itu bikin ruwet, bikin hati gak tenang, bikin kerjaan gak fokus. “Udahlah, give me 5 more years to fix Jakarta…gua gak akan ribut2kan masa lalu kalian semua.” Just give me 5 more years…masalahnya mereka semua merasa satu periode saja seperti seribu tahun, mana tahan nunggu seribu tahun lagi…
Tapi kalau kalian ribut ama gua, ok gua beli…lu nuding gua korupsi, berani gak lu semua pembuktian terbalik? Nah senjata itu  keluar lagi…ya memang karena dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam sebuah talk show terkenal di tanah air ini, beliau membuka semua penghasilannya, harta bendanya, rekening banknya, dsb…dilihatin se-tanah air.
Satu hal yang saya saja gak mungkin akan lakukan, (fiuh…).

Saya pikir hanya itu keinginan Ahok…just please be quite, and give me 5 more years…(kalau gak kepilih lagi jadi wapres atau yang lain ya…)…atau paling tidak just give me a chance to follow next year pilkada…just that easy…

Ketika merenungkan ini, saya teringat sebuah kisah legenda dari Inggris (kalau gak salah) tentang Robin Hood. Filmnya telah dibuatkan berversi-versi sampai ke versi parody. 
Robin of Locksley, anak seorang bangsawan, yang pulang dari perang salib dan menemukan Sheriff of Nottingham telah merebut harta miliknya dan semua tanah milik keluarganya dengan cara yang licik dan culas. Membunuh ayahnya dan bukan hanya itu, mematikan karakter ayahnya dengan menuduhnya sebagai pemuja setan.
Harus melarikan diri, Robin memilih masuk hutan Sherwood yang terkenal angker dan akhirnya menjadi penguasa hutan itu. Dia malahan memimpin orang-orang tertindas untuk melawan pemerintah yang culas yang bahkan para rohaniwanpun ada yang tunduk kepada mereka yang jelas sudah tidak lagi sesuai firman Tuhan. Satu cara yang selalu dipakai Robin Hood (julukan dia) yaitu merampok harta-harta pemerintah dan membagikannya kepada orang miskin dan tertindas. Saya berpikir-berpikir-berpikir dan berpikir…are there any other ways? Akhirnya saya realize something…mungkin hanya itu jalan yang bisa dilakukan…yang kalau dinilai secara etika akan terjadi pertentangan…kalau dinilai secara moral akan ribut satu dengan yang lain…dalam konteks seperti itu, pilihan itu adalah yang paling bisa diambil Robin Hood. Di saat pemimpin sudah hanya memikirkan diri sendiri, tidak lagi mempedulikan rakyatnya, bahkan berani memakai “Tuhan” dan para hamba-Nya untuk dirinya sendiri, mungkin itu adalah jalan sementara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencoba membela rakyat. Dengan kemungkinan, ketika kita yang sekarang belajar akan legenda ini meributkan benar salahnya.

Saya pikir Ahok ada dalam posisi itu…di saat negara ini sudah demikian korup, aturan-aturan hanya dibuat untuk melayani beberapa orang saja, dan bahkan sang pembuat dan penegak aturan justru adalah mereka yang melawan aturan itu, maka Ahok tidak punya jalan lain. Dia marah dengan kemunafikan (sampai dia berharap seorang prof umur panjang), dia muak dengan itu semua…dia memang tidak sempurna karena dia hanya manusia…dia bisa salah (dan saya berharap bukan khilaf), dia hanya bisa mencoba menjaga hidupnya bersih sebersih mungkin (salah satunya dengan berani melakukan pembuktian terbalik harta miliknya)…untuk menjadi “Ahood” dan mengusahakan keadilan bagi rakyatnya…Sometimes tindakannya membuat kita mengkernyitkan dahi dan berkata "sebenare ya jangan begitu...sebenare ya ada cara lain." Tetapi itulah Ahok...Maka jangan panggil dia lagi Ahok tapi Ahood…=) (pis lagi pak Ahok, aku ojok dimarahin =))

Saya bukan ber-KTP Jakarta….saya juga gak rela ‘ibu’ saya digondol ke sana untuk melawan Ahok…Kota tempat tinggal saya mulai menikmati pembenahan. Dalam sebuah konferensi pemuridan se Asia Tenggara di kota saya tahun lalu, ‘ibu’ datang dan mengucapkan “shallom,” mempromosikan kotanya dengan bangga, dan memuji acara konferensi tersebut sesuai dengan visinya agar kaum muda makin menjadi generasi yang benar hidupnya, dan akhirnya mau didoakan seorang pendeta (bolehlah orang berkata itu mencari simpati orang Kristen, tapi bagi saya itu luar biasa)…pilkada lalu saya mbelani datang ke TPS tepat di menit akhir untuk mendapatkan tinta di jari kelingking saya demi ‘ibu’…
tapi kegaduhan DKI membuat saya ikut hanyut secara pikiran dan emosi…dan saya gak tahan untuk menulis.,.,.harep harep yang membaca berkenan……makan gak makan asal ngumpul…kalau ada kata yang gak berkenan, jangan masukan hati, soale sing nulis ya juga gak ngerti lagi nulis apa…Peace!
#salam dua jari

Akhir kata, selamat memilih Jakarta...God bless you all...Kiranya kemuliaan Tuhan yang dinyatakan melalui hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya, seperti zaman Yusuf, Daniel, dan Esther di negeri asing.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar