Tahun 2012 lalu duet
kotak-kotak menjadikan pemilihan Gubernur lebih bergaung daripada pemilihan
Presiden. Tetapi karena “kotak” yang satu sudah menjadi orang nomor satu di
negeri ini, maka tersisalah “kotak” yang terakhir. Ternyata “kotak” yang satu
ini lebih ‘gila’ lagi (bukan bermaksud tidak hormat, pis pak Ahok!). Pilkada
masih sekitar setahun lagi, gaungnya sudah terasa bahkan mulai beberapa bulan
lalu. Gaungnya bahkan se tanah air bahkan ke negeri tetangga…Di-gong dengan
sebuah keputusan ‘nekad’ yaitu memilih jalur perseorangan yang membuat para
partai menjadi ‘galau merana.’ Terpecahlah para partai, harus memilih mendukung
atau melawan. Mendukung berarti ‘merendahkan diri’, kalau melawan bisa dianggap
tidak mewakili rakyat.
Itulah ‘kotak’ yang
terakhir itu, sebut saja dia sebagai Pak Ahok. Tetap konsisten tidak berubah
sejak 2012, suka marah, terlihat belagu dan sombong (kalau tidak mau disebut
arogan), dan keras serta tegas. Tetapi makin lama dan makin dilihat, ini
menurut saya ya…saya mencoba memahami mengapa dia sering marah-marah, terutama
ketika berhadapan dengan orang-orang yang terhormat itu.
Satu “istilah” yang
bisa mewakili itu…dan sering pak Ahok menyebutnya dan menjadikannya senjata
pamungkas yang menohok serta menelanjangi mereka…”pembuktian terbalik.”
Apakah mereka-mereka yang terlihat terhormat
dan santun itu berani melakukan pembuktian terbalik? Apakah mereka yang menuding dia dan berkata “Ahok maling” atau “Ahok
korupsi” sudah melakukan pembuktian terbalik? Apakah mereka yang mengaudit
semua keuangan pemerintah daerah dan pusat di tanah air ini sudah juga berani
melakukan pembuktian terbalik? “Kalau bahkan melaporkan harta bendanya saja
tidak pernah atau sudah kadaluarsa, how dare you nuding-nuding gue? Kalau
bahkan mobil mewahnya bodong, how dare you bolak balik KPK untuk memaksa men-jaket
oranye-kan gue?”
Saya berpikir, pak
Ahok tidak suka ribut…tidak suka berantem…itu bikin ruwet, bikin hati gak
tenang, bikin kerjaan gak fokus. “Udahlah, give me 5 more years to fix Jakarta…gua
gak akan ribut2kan masa lalu kalian semua.” Just give me 5 more years…masalahnya
mereka semua merasa satu periode saja seperti seribu tahun, mana tahan nunggu
seribu tahun lagi…
Tapi kalau kalian
ribut ama gua, ok gua beli…lu nuding gua korupsi, berani gak lu semua
pembuktian terbalik? Nah senjata itu
keluar lagi…ya memang karena dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam
sebuah talk show terkenal di tanah air ini, beliau membuka semua
penghasilannya, harta bendanya, rekening banknya, dsb…dilihatin se-tanah air.
Satu hal yang saya
saja gak mungkin akan lakukan, (fiuh…).
Saya pikir hanya itu
keinginan Ahok…just please be quite, and give me 5 more years…(kalau gak
kepilih lagi jadi wapres atau yang lain ya…)…atau paling tidak just give me a
chance to follow next year pilkada…just that easy…
Ketika merenungkan
ini, saya teringat sebuah kisah legenda dari Inggris (kalau gak salah) tentang
Robin Hood. Filmnya telah dibuatkan berversi-versi sampai ke versi parody.
Robin of Locksley, anak seorang bangsawan, yang pulang dari perang salib dan
menemukan Sheriff of Nottingham telah merebut harta miliknya dan semua tanah
milik keluarganya dengan cara yang licik dan culas. Membunuh ayahnya dan bukan
hanya itu, mematikan karakter ayahnya dengan menuduhnya sebagai pemuja setan.
Harus melarikan diri,
Robin memilih masuk hutan Sherwood yang terkenal angker dan akhirnya menjadi
penguasa hutan itu. Dia malahan memimpin orang-orang tertindas untuk melawan
pemerintah yang culas yang bahkan para rohaniwanpun ada yang tunduk kepada
mereka yang jelas sudah tidak lagi sesuai firman Tuhan. Satu cara yang selalu
dipakai Robin Hood (julukan dia) yaitu merampok harta-harta pemerintah dan
membagikannya kepada orang miskin dan tertindas. Saya
berpikir-berpikir-berpikir dan berpikir…are there any other ways? Akhirnya saya
realize something…mungkin hanya itu jalan yang bisa dilakukan…yang kalau
dinilai secara etika akan terjadi pertentangan…kalau dinilai secara moral akan
ribut satu dengan yang lain…dalam konteks seperti itu, pilihan itu adalah yang
paling bisa diambil Robin Hood. Di saat pemimpin sudah hanya memikirkan diri
sendiri, tidak lagi mempedulikan rakyatnya, bahkan berani memakai “Tuhan” dan
para hamba-Nya untuk dirinya sendiri, mungkin itu adalah jalan sementara
terbaik yang bisa dilakukan untuk mencoba membela rakyat. Dengan
kemungkinan, ketika kita yang sekarang belajar akan legenda ini meributkan
benar salahnya.
Saya pikir Ahok ada
dalam posisi itu…di saat negara ini sudah demikian korup, aturan-aturan hanya
dibuat untuk melayani beberapa orang saja, dan bahkan sang pembuat dan penegak
aturan justru adalah mereka yang melawan aturan itu, maka Ahok tidak punya jalan
lain. Dia marah dengan kemunafikan (sampai dia berharap seorang prof umur
panjang), dia muak dengan itu semua…dia memang tidak sempurna karena dia hanya
manusia…dia bisa salah (dan saya berharap bukan khilaf), dia hanya bisa mencoba menjaga hidupnya bersih sebersih mungkin (salah
satunya dengan berani melakukan pembuktian terbalik harta miliknya)…untuk
menjadi “Ahood” dan mengusahakan keadilan bagi rakyatnya…Sometimes tindakannya membuat kita mengkernyitkan dahi dan berkata "sebenare ya jangan begitu...sebenare ya ada cara lain." Tetapi itulah Ahok...Maka jangan panggil
dia lagi Ahok tapi Ahood…=) (pis lagi pak Ahok, aku ojok dimarahin =))
Saya bukan ber-KTP Jakarta….saya
juga gak rela ‘ibu’ saya digondol ke sana untuk melawan Ahok…Kota tempat
tinggal saya mulai menikmati pembenahan. Dalam sebuah konferensi pemuridan se
Asia Tenggara di kota saya tahun lalu, ‘ibu’ datang dan mengucapkan “shallom,”
mempromosikan kotanya dengan bangga, dan memuji acara konferensi tersebut
sesuai dengan visinya agar kaum muda makin menjadi generasi yang benar
hidupnya, dan akhirnya mau didoakan seorang pendeta (bolehlah orang berkata itu
mencari simpati orang Kristen, tapi bagi saya itu luar biasa)…pilkada lalu saya
mbelani datang ke TPS tepat di menit akhir untuk mendapatkan tinta di
jari kelingking saya demi ‘ibu’…
tapi kegaduhan DKI
membuat saya ikut hanyut secara pikiran dan emosi…dan saya gak tahan untuk
menulis.,.,.harep harep yang membaca berkenan……makan gak makan
asal ngumpul…kalau ada kata yang gak berkenan, jangan masukan hati, soale sing
nulis ya juga gak ngerti lagi nulis apa…Peace!
#salam dua jari
#salam dua jari
Akhir kata, selamat memilih Jakarta...God bless you all...Kiranya kemuliaan Tuhan yang dinyatakan melalui hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya, seperti zaman Yusuf, Daniel, dan Esther di negeri asing.
