Jumat, Oktober 14, 2016

Milih Gubernur aja Ngalahin Milih Presiden (season 3)




Entah disengaja atau tidak, yang pasti tidak ada yang kebetulan, momen pilkada Gubernur DKI tahun ini mirip dengan masa JB 4 tahun lalu. Yaitu pas bebarengan dengan momen pemilihan presiden Amerika Serikat. Gaungnya sudah tentu kita semua tahu, pilkada DKI lebih besar dari yang disono. Kali ini juga hampir sama. Gaungnya si kokoh menggema lebih besar dari yang disono.

Pada season 1, saya menutup tulisan saya dengan menaikkan doa bahwa kiranya kehendak Tuhan yang jadi atas kota Jakarta dan bangsa ini. Kalaupun JB tidak jadi Gub dan Wagub Jakarta tahun 2012 lalu, saya percaya rencana dan kehendak Tuhan adalah yang terbaik. Dia Maha Tahu, Dia Maha Bijaksana, Dia Maha Kuasa. Bukankah kita mengamini bahwa segala kuasa di muka bumi ini ada di dalam tangan-Nya?

Maka pada season 3 ini saya juga ingin mengutip kembali kalimat-kalimat di atas. Saya menulis ini ketika Jakarta bersiap ‘membara’ dengan demo pasukan “putih” yang ingin melengserkan si kokoh sesegera mungkin. Saya berharap Tuhan bermurah hati dan berbelas kasihan. Tetapi di sinilah sekali lagi saya diajak memikirkan hal ini. Saya warga Surabaya dan bukan DKI, tetapi ikut prihatin dan memikirkan kondisi bangsa ini.

Itulah salah satu hal yang berhasil dilakukan si kokoh kepada saya (dan mungkin orang-orang lain di negara ini, dan bukan di DKI saja). Dia berhasil membuat kita mulai makin peduli dan prihatin dengan bangsa kita. Sehingga banyak orang percaya mendoakan Jakarta, mendoakan kota mereka, mendoakan bangsa ini. Mendoakan anak-anak Tuhan agar berani berdiri seperti Yusud dan Daniel bagi Indonesia.
Dia berhasil membuat saya mulai mau belajar apa itu politik. Apa itu demokrasi dan segala titik komanya, yang selama ini seakan ditutupi dari kita untuk kepentingan mereka yang disono.

Tetapi siang hari ini, dia membuat saya juga berharap kepada Tuhan dan sekali lagi mengamini akan kuasa-Nya atas bangsa dan negara di muka bumi ini.
Yusuf masuk penjara karena fitnah untuk rencana Tuhan yang lebih besar di depan. Daniel ditantang dengan gua singa untuk memuliakan Tuhan. Tetapi  di lain pihak saya juga diingatkan, Musa mengakhiri tugasnya memimpin Israel ke tanah perjanjian ketika kesalahan fatal dibuatnya yaitu menghina kekudusan Tuhan. Daud karena jatuh dalam kenyamanan dan kesombongan menjadikan kepemimpinannya atas Israel bernodakan pembunuhan dan perzinahan.
Si kokoh? Secara pribadi saya harus mengakui bahwa kokoh sudah slip lidah. Wataknya yang sering keluar dalam kata-kata yang tidak dipikir lebih dahulu kali ini menjatuhkan dia. Kalaupun gak menjatuhkan dia, dipakai orang untuk menjatuhkan dia.
Saya percaya sudah ada beberapa orang dekat yang peduli dengan dia memberikan teguran dan peringatan, sehingga dia berani minta maaf.

Tetapi konsekuensi tidak bisa dihilangkan. Pihak yang disono mendapat angin untuk memakai hal ini. Memang saya marah, muak, jengkel, nanonano pokoknya melihat hal ini. Tetapi harus diakui konsekuensi tidak bisa dihapuskan.

Disinilah ucapan seorang teman menjadi doa…”Providensia Ilahi yang bisa menyelamatkan dia.” Di sinilah sebenarnya saya percaya si kokoh sedang mengalami pembelajaran iman. Tuhan sedang ingin menunjukkan sesuatu. Tapi entah apa itu. Kalau si kokoh melewati ini dengan baik…Puji Tuhan. Tetapi kalau si kokoh harus lengser…Puji Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan tahu yang terbaik, dan Dia tidak ingin anak-anak-Nya mengalami sesuatu yang lebih lagi mempermalukan imannya dan Tuhannya. Ingat kisah Hizkia?
Banyak tulisan di luar sana berseliweran. Membela Ahok, bertheodicy, dan menguatkan iman. Tetapi saya pribadi memilih jalan untuk berdoa, me-manage sikap saya terhadap si kokoh, dan mulai menyadari. Adalah tidak benar kalau kita mendoakan bangsa ini, kota ini, pemimpin kita, hanya karena dia seiman dengan kita. Kita sedang terkena sindrom yang sama dengan mereka-mereka disono. Sindrom gigantisme iman, ingin iman kita yang paling superior. Padahal kita lupa, Tuhan kita yang paling superior dan terkadang Tuhan kita memilih jalan yang di luar perkiraan kita, seakan Dia mempertaruhkan superioritasnya itu untuk dihina-hina orang. Ingat bagaimana Dia menyerahkan umat pilihannya untuk dihancurkan penjajah. Ingat bagaimana Dia mengutus Anak-Nya untuk datang sebagai manusia yang menghamba. Ingat bagaimana Dia mengizinkan kekaisaran Romawi yang sudah menjadi Kristen untuk hilang. Karena Tuhan ingin menunjukkan dan mengingatkan, “Berharaplah hanya kepada-Nya, dan bukan kepada manusia.” “Kerajaan Tuhan bukan sama seperti dunia ini.” Tuhan mengangkat anak-anak-Nya dalam posisi mulia di dunia untuk menunjukkan Siapa TUHAN dan Bagaimana manusia seharusnya menyadari akan dirinya dan Diri-Nya.

Doaku untuk Jakarta. Doaku untuk Indonesia. May God be glorified, even when we as his followers are full with weaknesses and emptiness.

Jumat, April 15, 2016

Milih Gubernur aja Ngalahin Milih Presiden (season 2)




Tahun 2012 lalu duet kotak-kotak menjadikan pemilihan Gubernur lebih bergaung daripada pemilihan Presiden. Tetapi karena “kotak” yang satu sudah menjadi orang nomor satu di negeri ini, maka tersisalah “kotak” yang terakhir. Ternyata “kotak” yang satu ini lebih ‘gila’ lagi (bukan bermaksud tidak hormat, pis pak Ahok!). Pilkada masih sekitar setahun lagi, gaungnya sudah terasa bahkan mulai beberapa bulan lalu. Gaungnya bahkan se tanah air bahkan ke negeri tetangga…Di-gong dengan sebuah keputusan ‘nekad’ yaitu memilih jalur perseorangan yang membuat para partai menjadi ‘galau merana.’ Terpecahlah para partai, harus memilih mendukung atau melawan. Mendukung berarti ‘merendahkan diri’, kalau melawan bisa dianggap tidak mewakili rakyat.

Itulah ‘kotak’ yang terakhir itu, sebut saja dia sebagai Pak Ahok. Tetap konsisten tidak berubah sejak 2012, suka marah, terlihat belagu dan sombong (kalau tidak mau disebut arogan), dan keras serta tegas. Tetapi makin lama dan makin dilihat, ini menurut saya ya…saya mencoba memahami mengapa dia sering marah-marah, terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang terhormat itu.
Satu “istilah” yang bisa mewakili itu…dan sering pak Ahok menyebutnya dan menjadikannya senjata pamungkas yang menohok serta menelanjangi mereka…”pembuktian terbalik.”

Apakah mereka-mereka yang terlihat terhormat dan santun itu berani melakukan pembuktian terbalik? Apakah mereka yang  menuding dia dan berkata “Ahok maling” atau “Ahok korupsi” sudah melakukan pembuktian terbalik? Apakah mereka yang mengaudit semua keuangan pemerintah daerah dan pusat di tanah air ini sudah juga berani melakukan pembuktian terbalik? “Kalau bahkan melaporkan harta bendanya saja tidak pernah atau sudah kadaluarsa, how dare you nuding-nuding gue? Kalau bahkan mobil mewahnya bodong, how dare you bolak balik KPK untuk memaksa men-jaket oranye-kan gue?”
Saya berpikir, pak Ahok tidak suka ribut…tidak suka berantem…itu bikin ruwet, bikin hati gak tenang, bikin kerjaan gak fokus. “Udahlah, give me 5 more years to fix Jakarta…gua gak akan ribut2kan masa lalu kalian semua.” Just give me 5 more years…masalahnya mereka semua merasa satu periode saja seperti seribu tahun, mana tahan nunggu seribu tahun lagi…
Tapi kalau kalian ribut ama gua, ok gua beli…lu nuding gua korupsi, berani gak lu semua pembuktian terbalik? Nah senjata itu  keluar lagi…ya memang karena dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam sebuah talk show terkenal di tanah air ini, beliau membuka semua penghasilannya, harta bendanya, rekening banknya, dsb…dilihatin se-tanah air.
Satu hal yang saya saja gak mungkin akan lakukan, (fiuh…).

Saya pikir hanya itu keinginan Ahok…just please be quite, and give me 5 more years…(kalau gak kepilih lagi jadi wapres atau yang lain ya…)…atau paling tidak just give me a chance to follow next year pilkada…just that easy…

Ketika merenungkan ini, saya teringat sebuah kisah legenda dari Inggris (kalau gak salah) tentang Robin Hood. Filmnya telah dibuatkan berversi-versi sampai ke versi parody. 
Robin of Locksley, anak seorang bangsawan, yang pulang dari perang salib dan menemukan Sheriff of Nottingham telah merebut harta miliknya dan semua tanah milik keluarganya dengan cara yang licik dan culas. Membunuh ayahnya dan bukan hanya itu, mematikan karakter ayahnya dengan menuduhnya sebagai pemuja setan.
Harus melarikan diri, Robin memilih masuk hutan Sherwood yang terkenal angker dan akhirnya menjadi penguasa hutan itu. Dia malahan memimpin orang-orang tertindas untuk melawan pemerintah yang culas yang bahkan para rohaniwanpun ada yang tunduk kepada mereka yang jelas sudah tidak lagi sesuai firman Tuhan. Satu cara yang selalu dipakai Robin Hood (julukan dia) yaitu merampok harta-harta pemerintah dan membagikannya kepada orang miskin dan tertindas. Saya berpikir-berpikir-berpikir dan berpikir…are there any other ways? Akhirnya saya realize something…mungkin hanya itu jalan yang bisa dilakukan…yang kalau dinilai secara etika akan terjadi pertentangan…kalau dinilai secara moral akan ribut satu dengan yang lain…dalam konteks seperti itu, pilihan itu adalah yang paling bisa diambil Robin Hood. Di saat pemimpin sudah hanya memikirkan diri sendiri, tidak lagi mempedulikan rakyatnya, bahkan berani memakai “Tuhan” dan para hamba-Nya untuk dirinya sendiri, mungkin itu adalah jalan sementara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencoba membela rakyat. Dengan kemungkinan, ketika kita yang sekarang belajar akan legenda ini meributkan benar salahnya.

Saya pikir Ahok ada dalam posisi itu…di saat negara ini sudah demikian korup, aturan-aturan hanya dibuat untuk melayani beberapa orang saja, dan bahkan sang pembuat dan penegak aturan justru adalah mereka yang melawan aturan itu, maka Ahok tidak punya jalan lain. Dia marah dengan kemunafikan (sampai dia berharap seorang prof umur panjang), dia muak dengan itu semua…dia memang tidak sempurna karena dia hanya manusia…dia bisa salah (dan saya berharap bukan khilaf), dia hanya bisa mencoba menjaga hidupnya bersih sebersih mungkin (salah satunya dengan berani melakukan pembuktian terbalik harta miliknya)…untuk menjadi “Ahood” dan mengusahakan keadilan bagi rakyatnya…Sometimes tindakannya membuat kita mengkernyitkan dahi dan berkata "sebenare ya jangan begitu...sebenare ya ada cara lain." Tetapi itulah Ahok...Maka jangan panggil dia lagi Ahok tapi Ahood…=) (pis lagi pak Ahok, aku ojok dimarahin =))

Saya bukan ber-KTP Jakarta….saya juga gak rela ‘ibu’ saya digondol ke sana untuk melawan Ahok…Kota tempat tinggal saya mulai menikmati pembenahan. Dalam sebuah konferensi pemuridan se Asia Tenggara di kota saya tahun lalu, ‘ibu’ datang dan mengucapkan “shallom,” mempromosikan kotanya dengan bangga, dan memuji acara konferensi tersebut sesuai dengan visinya agar kaum muda makin menjadi generasi yang benar hidupnya, dan akhirnya mau didoakan seorang pendeta (bolehlah orang berkata itu mencari simpati orang Kristen, tapi bagi saya itu luar biasa)…pilkada lalu saya mbelani datang ke TPS tepat di menit akhir untuk mendapatkan tinta di jari kelingking saya demi ‘ibu’…
tapi kegaduhan DKI membuat saya ikut hanyut secara pikiran dan emosi…dan saya gak tahan untuk menulis.,.,.harep harep yang membaca berkenan……makan gak makan asal ngumpul…kalau ada kata yang gak berkenan, jangan masukan hati, soale sing nulis ya juga gak ngerti lagi nulis apa…Peace!
#salam dua jari

Akhir kata, selamat memilih Jakarta...God bless you all...Kiranya kemuliaan Tuhan yang dinyatakan melalui hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya, seperti zaman Yusuf, Daniel, dan Esther di negeri asing.