Rabu, September 25, 2013

Kontroversi Hati Seorang Guru



Sudah 2 malam ini saya menghadiri satu seminar yang diadakan oleh sebuah Gereja Injili di Surabaya. Temanya cukup menarik yaitu tentang Ke-Tuhanan Yesus Kristus, suatu tema yang terus menjadi perdebatan dan kontroversi tidak hanya di kalangan kekristenan saja, tetapi juga lintas agama. Pembicaranyapun juga menarik, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa saya mau memberi waktu untuk mengikuti seminar ini. Pendekatan yang dibawakannya terhadap tema ini tidak biasa, yaitu pendekatan apologetika, dengan membanding-bandingkan banyak respon-respon dari orang-orang terhadap Tuhan Yesus. Sang pembicara benar-benar terlihat sangat menguasai materi dan perdebatan yang ada di sekitar tema Ke-Tuhanan Yesus Kristus. “Apologet” begitulah dia menyebut tentang dirinya, yang secara sederhana berarti seseorang yang terpanggil untuk mempertahankan iman Kristen dari serangan-serangan luar yang ingin menjatuhkan pondasi kekristenan.

Di bagian akhir dari seminarnya, beliau mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang ternyata ditemukannya tidak ‘klop’ antara hati dan pikirannya. Yang mudah untuk ditemuinya adalah para mahasiswa yang dia ajar di salah satu universitas swasta di Surabaya. Begitu banyak mahasiswanya yang ternyata ditemukan tidak seperti yang dia bayangkan, klop hati dan pikirannya di dalam Tuhan. Ini dia buktikan dengan cara berpura-pura menjadi ateis, dan kemudian meminta para mahasiswanya untuk memberikan respon. Ada beberapa mahasiswa berkata bahwa secara nalar pikir teori ateisme yang dia sampaikan tadi bisa diterima, tetapi hati mereka tetap berpaut pada Kristus. Beliau tidak bisa setuju dengan jawaban itu, juga saya. Tetapi kemudian yang mengejutkan dan memiriskan hati saya adalah beliau berkata demikian, “Inilah hasil dari pembinaan sekolah-sekolah Kristen seperti Petra, Gloria, dsb termasuk sekolah-sekolah Katolik.” Beliau mengulang dua kali pernyataan itu. Meminjam perkataan seorang reporter sepakbola yang baru-baru ini kondang,  “Jebret hatiku!”

Terus terang sebagai seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah Kristen di Surabaya saya mengakui bahwa pendidikan di sekolah Kristen tidaklah sempurna, bahkan pengajaran agamanya sekalipun. Kita juga menyayangkan bahwa beberapa lulusan tidaklah mempunyai konsep iman yang utuh. Tetapi yang saya sayangkan adalah pernyataan dari sang pembicara, yang boleh saya tafsirkan demikian: bahwa kalau ditemukan para mhs barunya mempunyai konsep kekristenan yang tidak tepat, maka itu berarti pembinaan sekolah Kristen telah gagal. Ngomong-ngomong pernyataan semacam ini pernah beliau sampaikan juga di gereja yang sama, pada kesempatan seminar yang lain, dan juga saya dengar. Saya menganggap pernyataan ini telah menjadi konsep pikir dan presaposisi dalam diri sang pembicara, entah dia sadari atau tidak. Mengapa? Karena dua kali dia lontarkan, dan pada malam itu dua kali dia ulangi dalam waktu yang tidak terlalu lama. “Jebret….” Saya malu…orang-orang tertawa…tetapi saya malu. Malu yang pertama, karena saya dinilai gagal…malu yang kedua…saya menilai sang pembicara terlalu mensimplifikasi masalah, padahal dia seorang pendidik juga.

Masakan kalau anak-anak mahasiswa baru mempunyai konsep kekristenan yang tidak utuh, itu berarti salah sekolahnya? Bagaimana dengan gerejanya? Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan cara pikir mahasiswa itu sendiri, lha mereka adalah anak muda yan g labil jiwanya yang mudah diombang ambing memang. Bagaimana dengan beliau sendiri yang memang adalah seorang apologet, dengan alur pikir, karisma, argumentasi, dan sebagainya yang luar biasa, yang saya pasti sadar banyak orang bisa dipengaruhi oleh dia. Beruntunglah dia seorang Kristen. Masakan semua salah sekolah SMA Kristen yang hanya mendapat kesempatan mendidik mereka selama 3 tahun, padahal selama belasan tahun pola pikir mereka telah dibentuk oleh apa apa saja yang ada di samping mereka. How judgemental pernyataan itu…

Kalau saya mengambil posisi sebagai orang yang defense, saya akan berkata, bukankah pendidikan itu adalah proses…bukankah di universitas pendidikan itu masih berlangsung? Bukankah pendidikan itu tidak sesimple masalah menilai manusia hanya dari cara dia berpikir? Bukankah pendidikan itu seharusnya menghakimi seseorang tidak semata hanya berdasarkan tendensi dan pemaksaan kita sendiri. Kita berpikir seorang Kristen yang baik adalah seorang Kristen yang harus sama seperti kita, sama seperti kemampuan kita mengklopkan hati dan pikiran kita. Padahal itupun merupakan satu proses pendidikan dan pembelajaran dalam hidup kita. Bukankah faith seeking understanding…dan adalah tugas kita para hamba Tuhan untuk membimbing jemaat kita yang sedang kebingungan…dan bukan seenaknya menghakimi bahwa gereja dan sekolah lain telah gagal? Bukankah tingkat kemampuan berpikir orang berbeda-beda… dan itu dipengaruhi oleh interesnya…dan masih banyak lain.
Ini kadang menjadi ke”selipan” seorang pendidik, yaitu menuntut para muridnya untuk seperti dia…standardnya adalah guru…padahal sang murid masih perlu dimotivasi, diarahkan. Kalau tidak seperti dia, maka yang salah adalah para pendidiknya yang dahulu.

Ketika menulis ini, saya ingat kisah tentang seorang pemimpin pasukan yang marah kepada bawahannya yang ada di medan tempur, dan kemudian menulis surat teguran tetapi setelah dibacanya dia sadar dan kemudian tidak jadi mengirimkannya. Saya juga bertanya-tanya, apakah pantas saya berespon seperti ini? Apakah saya perlu berbicara kepada sang pembicara agar jangan sampai dia melontarkan lagi penghakiman itu pada seminar yang lain. Banyak orang akan salah menangkap dan akan ikut menghakimi sekolah-sekolah Kristen. Bukankah menghakimi orang lain adalah kesukaan kita manusia  yang pada dasarnya sombong dan berdosa ini? Banyak guru akan sakit hati karena jerih lelah mereka mendidik siswa hanya dihancurkan oleh kesalahan pikir dari siswanya yang sebenarnya masih perlu belajar.
Oleh karena itu biar tulisan ini hanya menghiasi blog pribadi saya…

Ampuni aku Tuhan, dan biarlah aku terus boleh dibimbing menjadi pendidik yang berkenan di hati-Mu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar