Sudah 2 malam ini saya
menghadiri satu seminar yang diadakan oleh sebuah Gereja Injili di Surabaya.
Temanya cukup menarik yaitu tentang Ke-Tuhanan Yesus Kristus, suatu tema yang
terus menjadi perdebatan dan kontroversi tidak hanya di kalangan kekristenan
saja, tetapi juga lintas agama. Pembicaranyapun juga menarik, yang juga menjadi
salah satu alasan mengapa saya mau memberi waktu untuk mengikuti seminar ini.
Pendekatan yang dibawakannya terhadap tema ini tidak biasa, yaitu pendekatan
apologetika, dengan membanding-bandingkan banyak respon-respon dari orang-orang
terhadap Tuhan Yesus. Sang pembicara benar-benar terlihat sangat menguasai
materi dan perdebatan yang ada di sekitar tema Ke-Tuhanan Yesus Kristus. “Apologet”
begitulah dia menyebut tentang dirinya, yang secara sederhana berarti seseorang
yang terpanggil untuk mempertahankan iman Kristen dari serangan-serangan luar
yang ingin menjatuhkan pondasi kekristenan.
Di bagian akhir dari
seminarnya, beliau mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang ternyata
ditemukannya tidak ‘klop’ antara hati dan pikirannya. Yang mudah untuk
ditemuinya adalah para mahasiswa yang dia ajar di salah satu universitas swasta
di Surabaya. Begitu banyak mahasiswanya yang ternyata ditemukan tidak seperti
yang dia bayangkan, klop hati dan pikirannya di dalam Tuhan. Ini dia buktikan
dengan cara berpura-pura menjadi ateis, dan kemudian meminta para mahasiswanya
untuk memberikan respon. Ada beberapa mahasiswa berkata bahwa secara nalar pikir
teori ateisme yang dia sampaikan tadi bisa diterima, tetapi hati mereka tetap
berpaut pada Kristus. Beliau tidak bisa setuju dengan jawaban itu, juga saya.
Tetapi kemudian yang mengejutkan dan memiriskan hati saya adalah beliau berkata
demikian, “Inilah hasil dari pembinaan sekolah-sekolah Kristen seperti Petra,
Gloria, dsb termasuk sekolah-sekolah Katolik.” Beliau mengulang dua kali
pernyataan itu. Meminjam perkataan seorang reporter sepakbola yang baru-baru
ini kondang, “Jebret hatiku!”
Terus terang sebagai
seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah Kristen di Surabaya saya
mengakui bahwa pendidikan di sekolah Kristen tidaklah sempurna, bahkan
pengajaran agamanya sekalipun. Kita juga menyayangkan bahwa beberapa lulusan
tidaklah mempunyai konsep iman yang utuh. Tetapi yang saya sayangkan adalah
pernyataan dari sang pembicara, yang boleh saya tafsirkan demikian: bahwa kalau
ditemukan para mhs barunya mempunyai konsep kekristenan yang tidak tepat, maka
itu berarti pembinaan sekolah Kristen telah gagal. Ngomong-ngomong pernyataan
semacam ini pernah beliau sampaikan juga di gereja yang sama, pada kesempatan
seminar yang lain, dan juga saya dengar. Saya menganggap pernyataan ini telah
menjadi konsep pikir dan presaposisi dalam diri sang pembicara, entah dia
sadari atau tidak. Mengapa? Karena dua kali dia lontarkan, dan pada malam itu
dua kali dia ulangi dalam waktu yang tidak terlalu lama. “Jebret….” Saya malu…orang-orang
tertawa…tetapi saya malu. Malu yang pertama, karena saya dinilai gagal…malu
yang kedua…saya menilai sang pembicara terlalu mensimplifikasi masalah, padahal
dia seorang pendidik juga.
Masakan kalau
anak-anak mahasiswa baru mempunyai konsep kekristenan yang tidak utuh, itu
berarti salah sekolahnya? Bagaimana dengan gerejanya? Bagaimana dengan
keluarganya? Bagaimana dengan cara pikir mahasiswa itu sendiri, lha mereka
adalah anak muda yan g labil jiwanya yang mudah diombang ambing memang. Bagaimana
dengan beliau sendiri yang memang adalah seorang apologet, dengan alur pikir,
karisma, argumentasi, dan sebagainya yang luar biasa, yang saya pasti sadar
banyak orang bisa dipengaruhi oleh dia. Beruntunglah dia seorang Kristen.
Masakan semua salah sekolah SMA Kristen yang hanya mendapat kesempatan mendidik
mereka selama 3 tahun, padahal selama belasan tahun pola pikir mereka telah
dibentuk oleh apa apa saja yang ada di samping mereka. How judgemental
pernyataan itu…
Kalau saya mengambil
posisi sebagai orang yang defense, saya akan berkata, bukankah pendidikan itu
adalah proses…bukankah di universitas pendidikan itu masih berlangsung? Bukankah
pendidikan itu tidak sesimple masalah menilai manusia hanya dari cara dia
berpikir? Bukankah pendidikan itu seharusnya menghakimi seseorang tidak semata
hanya berdasarkan tendensi dan pemaksaan kita sendiri. Kita berpikir seorang Kristen
yang baik adalah seorang Kristen yang harus sama seperti kita, sama seperti
kemampuan kita mengklopkan hati dan pikiran kita. Padahal itupun merupakan satu
proses pendidikan dan pembelajaran dalam hidup kita. Bukankah faith seeking
understanding…dan adalah tugas kita para hamba Tuhan untuk membimbing jemaat
kita yang sedang kebingungan…dan bukan seenaknya menghakimi bahwa gereja dan
sekolah lain telah gagal? Bukankah tingkat kemampuan berpikir orang
berbeda-beda… dan itu dipengaruhi oleh interesnya…dan masih banyak lain.
Ini kadang menjadi ke”selipan”
seorang pendidik, yaitu menuntut para muridnya untuk seperti dia…standardnya
adalah guru…padahal sang murid masih perlu dimotivasi, diarahkan. Kalau tidak
seperti dia, maka yang salah adalah para pendidiknya yang dahulu.
Ketika menulis ini,
saya ingat kisah tentang seorang pemimpin pasukan yang marah kepada bawahannya
yang ada di medan tempur, dan kemudian menulis surat teguran tetapi setelah
dibacanya dia sadar dan kemudian tidak jadi mengirimkannya. Saya juga
bertanya-tanya, apakah pantas saya berespon seperti ini? Apakah saya perlu
berbicara kepada sang pembicara agar jangan sampai dia melontarkan lagi
penghakiman itu pada seminar yang lain. Banyak orang akan salah menangkap dan
akan ikut menghakimi sekolah-sekolah Kristen. Bukankah menghakimi orang lain
adalah kesukaan kita manusia yang pada
dasarnya sombong dan berdosa ini? Banyak guru akan sakit hati karena jerih
lelah mereka mendidik siswa hanya dihancurkan oleh kesalahan pikir dari
siswanya yang sebenarnya masih perlu belajar.
Oleh karena itu biar
tulisan ini hanya menghiasi blog pribadi saya…
Ampuni aku Tuhan, dan
biarlah aku terus boleh dibimbing menjadi pendidik yang berkenan di hati-Mu….
