Senin, Oktober 19, 2009

Kebaktian Ucapan Syukur: Apa'an tuh?

Banyak orang dan lembaga mengadakan kebaktian ucapan syukur ketika mencapai usia tertentu. Seorang Pendeta yang telah melayani 30 tahun mengadakannya, sebuah lembaga pendidikan yang telah berusia 25 tahun mengadakannya, bahkan sepasang suami istri yang telah menikah 25/50 tahun mengadakannya. Tetapi apa itu kebaktian ucapan syukur? Karena ternyata yang ditemukan adalah bukan kebaktian ucapan syukur, tetapi kebaktian untuk menonjolkan diri.

Mengapa begitu?

Karena ternyata dalam kebaktian itu bukan Tuhan yang dimuliakan, bukan Tuhan yang diberi ucapan syukur, tetapi diri kita sendiri yang ditonjolkan dan diri kita sendiri yang coba mengatur Tuhan.

'Kok begitu toh?

Apakah Firman Tuhan mendapatkan tempat dalam kebaktian itu? Ketika Firman Tuhan diberitakan, apakah pihak yang mengadakan ucapan syukur benar-benar membuka hati dan pikirannya untuk mendengarkan dan dikoreksi oleh Firman Tuhan? Ataukah justru mereka sedang sibuk sendiri dan menganggap Firman Tuhan itu untuk undangan. 'toh Tuhan kan sudah memberkati aku selama ini...(mungkin begitu kata pihak tuan rumah dalam hati).
Apakah benar-benar kita memberikan ibadah syukur itu untuk Tuhan? Kalau ya, apakah perlu acara-acara lain yang berbungkus promosi? Kalau ya, mengapa perlu mencari dana dari orang lain? Bukankah ibadah ini diadakan dengan satu semangat bahwa saya ingin mengajak undangan semua untuk bersyukur atas berkat Tuhan.
Kebanyakan dari kita mengadakan ucapan syukur dengan semangat meniru, entah karena hanya itu yang kita bisa, atau memang hanya itu yang kita mau.

Lalu bagaimana?
Mari kita mempertanyakan beberapa hal berikut ini ketika berniat mengadakan kebaktian ucapan syukur.
1. Apakah benar aku/kami merasakan berkat dan pimpinan Tuhan selama ini? Merasakan dalam arti, Tuhan benar-benar memberikan pimpinan, pelajaran, dan pertumbuhan. Kalau Ya, maka mari kita mengadakannya dengan kerendahan hati. Kalau tidak/ragu-ragu, maka kita perlu berpikir ulang untuk mengadakannya...mungkin tahun depan saja, atau 5 tahun lagi.
2. Apakah Firman Tuhan akan mendapat tempat yang utama dan aku/kami ingin sekali mendengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku dari hamba-Nya? Penulis pernah menghadiri satu dan beberapa perayaan syukur. Yang terjadi adalah kesibukan sendiri dari para pihak yang mengatakan dirinya ingin bersyukur, atau mencoba "mendekati" Pendeta untuk menyingkatkan kotbahnya karena takut acara lain tidak mendapatkan waktu yang pantas. Aduuhh!!!
3. Apakah benar aku/kami ingin mengadakan ucapan syukur ini dengan segala kekuatan yang Tuhan sudah berikan? Adakah keinginan untuk mencari untung dengan menarik sumber dana? Adakah keinginan untuk mengumpulkan dana dengan mencari sponsor atau hungpao?
4. Apakah benar ketika ibadah syukur ini berakhir, undangan yang datang termasuk aku/kami akan berkata "Luar biasa Tuhan itu...!" ataukah justru mereka akan berkata "Luar biasa si anu ini" atau "Luar biasa lembaga ini" ... kalo begitu, maka penulis takutkan yang ada adalah kebaktian merayakan diri sendiri. Atau kita hanya ingin menonjolkan berkat yang Tuhan berikan dan bukan Tuhan, Sang Pemberi berkat itu (ingat cerita Hizkia dalam Alkitab?).
5. Maka, tidak bisa tidak, mari kita memulai rencana dan persiapan serta pelaksanaan kebaktian ucapan syukur dengan selalu berdoa dan meminta Tuhan mengkoreksi setiap perjalanan persiapan kita.
Adalah lebih baik untuk bersyukur dalam kamar tidur kita tetapi benar-benar mendapatkan upah dari Bapa di surga, daripada mengucapkan syukur di tengah lautan ribuan manusia tetapi mendapatkan upah dari manusia...
Soli Deo Gloria!!!