Rabu, Juni 03, 2009

Memperjuangkan Jabatan "Pelayan"?

Melayani bukanlah hal yang sebenarnya senang untuk dilakukan seseorang karena berkonotasi seorang yang rendah dan tidak bernilai. Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang pembantu rumah tangga, pelayan restoran, dan lainnya. pekerjaan dari orang-orang yang rendah dan tidaklah dipandang tinggi.
Uniknya, istilah pelayan juga dipakai untuk jabatan-jabatan yang cukup dipandang di beberapa tempat, memang ini tidaklah berarti seperti pembantu rumah tangga/pelayan restoran. Di Gereja, istilah pelayan dikenakan kepada para hamba Tuhan (Pdt., Ev., Pdm., Ps., dsb.) dan majelis/penatua/diaken gereja. Di perpolitikan, istilah pelayan dikenakan kepada para pemimpin dan wakil rakyat yang sering disebut sebagai pelayan rakyat, seorang yang melayani rakyat. Sehingga, seharusnya seorang yang dikenakan istilah pelayan menyadari tanggung jawab untuk melaksanakan tugas itu untuk orang-orang yang mereka layani. Mereka hadir untuk memperjuangkan atau memperhatikan atau mencoba membantu orang-orang yang mereka layani. Mereka hidup bukan lagi untuk diri mereka sendiri dan mencari keuntungan sendiri, tetapi siap untuk 'memberikan' hidup mereka bagi orang lain. Mereka siap untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Herannya, jabatan "pelayan" justru dikejar-kejar dan dicari. Mengapa? Bukan karena banyak orang rindu untuk melayani orang lain. Tetapi banyak orang rindu prestise dari jabatan tersebut. Mereka adalah pelayan tetapi yang "dipandang ok", bahkan lebih dari manusia pada umumnya. Seandainya jabatan tersebut mengakibatkan mereka seperti pembantu rumah tangga, saya yakin tidak ada yang mau. Justru karena mereka dianggap sebagai seorang yang baik karena rela memberikan diri sebagai pelayan orang lain melalui jabatan tersebut. Tetapi apakah benar mereka menghidupi pelayanan mereka? Ini masalahnya.
Tidak heran, mereka yang mengejar jabatan ini rela melakukan apapun, bahkan, untuk mendapatkannya. Menjatuhkan orang lain, mempelintir kata-kata, berpura-pura baik, dsb. Mereka hadir seperti serigala berbulu domba...seakan baik dan tulus, tetapi di dalamnya adalah mengerikan dan mempunyai keinginan menerkam. Ketika mendapatkannya, mereka akan mati-matian mempertahankannya, bila perlu meningkatkannya, dan menikmatinya. Mereka lupa, mereka adalah pelayan.
Maka, mari kita yang berkecimpung di tengah-tengah jabatan yang dikenakan istilah "pelayan" untuk mawas diri. Mari kita ingat, kita mendapatkan posisi itu bukan karena kehebatan kita...tetapi karena sebuah kepercayaan. Kepercayaan dari orang lain, dan lebih lagi, kepercayaan dari Tuhan. So, kalau berhadapan dengan Tuhan, masihkah kita bermain-main???