Selasa, Januari 27, 2009

Zakheus: Tukang Pajak yang diubah Tuhan Yesus

Lukas 19:1-10

Seorang pernah berkata bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berubah hidupnya ketika bertemu Tuhan Yesus. Hal ini pula yang terjadi kepada Zakheus yang dikenal seantero Yerikho sebagai kepala pemungut cukai. Di mata masyarakat pada waktu itu, Zakheus telah dicap sebagai “orang berdosa” (ay. 7). Mengapa?
(1) Pemungut cukai adalah orang dari bangsa Yahudi yang dipercaya pemerintah Romawi (penjajah orang Yahudi) untuk memungut pajak dari orang sebangsanya sendiri. Jadi, mereka bekerja untuk kepentingan penjajah dan bukan bangsanya. Tidak heran para pemungut cukai dicap sebagai pengkhianat negara, apalagi Zakheus adalah “kepala” pemungut cukai.
(2) Pemungut cukai akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan melalui pemungutan pajak yang mereka lakukan. Tidak heran mereka adalah golongan orang yang kaya ketika itu.
Tidak heran orang banyak menjadi bingung ketika Tuhan Yesus mendongak ke atas pohon dan meminta Zakheus segera turun karena Dia ingin menumpang di rumahnya.
Tetapi, perubahan hidup terjadi ketika Zakheus mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Zakheus sebelum bertemu Tuhan Yesus adalah berbeda dengan Zakheus setelah bertemu dan menerima Tuhan Yesus. Ada 2 perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Yang pertama adalah perubahan arah hidup. Kalau dulu hidup Zakheus begitu terarah kepada materi/uang, sekarang hidupnya tertuju kepada Tuhan. Apa buktinya?
1. Dia tidak segan-segan untuk berbagi dengan orang lain (menjadi berkat bagi orang lain). Seorang pemungut cukai yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan bagaimana mengeruk keuntungan dari orang lain, sekarang memikirkan orang miskin dan siap untuk menolong mereka dengan hartanya (ay. 8).
2. Sikapnya terhadap materi yang dimilikinya. Dia menyadari bahwa materi ini adalah pemberian Tuhan dan tidak boleh menjadi berhala di dalam hidupnya. Sehingga tidak heran dia berani memberikan separuh hartanya kepada orang miskin, bahkan siap mengganti 4 kali lipat kalau ada orang yang pernah diperasnya (ay. 8).
Perubahan hidup kedua adalah sikapnya terhadap dosa. Zakheus begitu serius menanggapi dosa yang dia perbuat di dalam kehidupannya, terutama selama dia memungut pajak dari orang lain. Dia tidak ingin terus-menerus bermain-main dengan dosa tersebut. Dia ingin hidup benar meresponi kasih dan penerimaan Tuhan Yesus atas dirinya. Maka, dia berani untuk berjanji bahwa kalau ada orang yang pernah dia peras, dia akan kembalikan 4 kali lipat (ay. 8). Mengembalikan 4 kali lipat adalah hukuman yang dijatuhkan kepada seorang pencuri pada zaman itu. Dengan kata lain, Zakheus menunjuk dirinya sendiri sebagai seorang pencuri dan dia ingin menebus kesalahannya itu. Dia tidak ingin terus-menerus menjadi pencuri, dia ingin berhenti.
Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah hidup kita terfokus kepada Tuhan ataukah kepada yang lain? Bagaimana pula dengan kekudusan hidup kita? Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang bermain-main dengan dosa. Kita tahu bahwa sesuatu yang kita lakukan adalah dosa, tetapi kita terus-menerus melakukannya. Mungkin kita takut kehilangan keuntungan yang bisa kita dapat kalau kita menghentikan perbuatan itu. Tetapi Tuhan di surga justru sedang bersedih hati melihat perbuatan kita yang mempermainkan anugerah dan pengampunan-Nya. Atau kita menganggap dosa itu adalah perbuatan seperti membunuh, merokok, mencuri, atau berzinah. Tetapi kebiasaan buruk kita seperti pemarah, egois, iri hati, pemfitnah, atau tingkah laku lainnya yang sering menyakiti hati orang lain adalah bukan dosa. Sehingga tanpa sadar diri kita tidak menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain di sekitar kita.
Mari kita mengaca diri dan meminta pertolongan Tuhan.