Senin, Desember 22, 2008

Refleksi di akhir tahun 2008

Semua karena Anugerah-Nya

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” I Korintus 15:10

Tak terasa kita telah memasuki minggu terakhir di bulan Desember pada tahun ini. Dalam hitungan hari, kita akan segera menyongsong tahun yang baru. Seperti ‘tradisi’ setiap tahunnya, kita selalu diajak untuk berdiam di hadapan Tuhan dan memikirkan perjalanan hidup kita selama ini di tahun 2008. Ada hal yang bisa kita syukuri kepada Tuhan, tetapi pasti ada sesuatu yang perlu kita perbaiki di tahun yang baru sembari kita selalu memohon pertolongan dan kekuatan dari Tuhan.
Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan? Walaupun bagi beberapa orang tahun ini adalah tahun yang sulit, tetapi ucapan syukur tidak boleh tidak ada dalam hidup kita sebagai orang percaya. Firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengajar kita untuk mengucap syukur atas anugerah Allah dalam kehidupan kita. Anugerah Allah ini bukan hanya diberikan-Nya pada tahun ini saja, tetapi setiap tahun kehidupan kita bahkan sampai sepanjang kehidupan kita. Anugerah Allah ini tidak bisa diukur dengan berapa banyak pertolongan yang Tuhan berikan ketika kita mengalami kesusahan/kesulitan. Atau berapa banyak keuntungan yang kita dapatkan Tetapi anugerah Allah ini nyata dalam beberapa hal berikut:
1. Kita mendapatkan bagian di dalam Injil keselamatan Yesus Kristus.
Siapakah di antara kita yang merasa layak untuk mendapatkan keselamatan dari Tuhan? Demikian yang dirasakan Paulus yang dulunya adalah penganiaya Gereja Tuhan. Apalagi, ketika kita mendapatkan keselamatan itu berarti kita kembali kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan kita. Kita yang dulunya seorang pendosa, sekarang telah dipulihkan dan kembali kepada Tuhan.
2. Di dalam Tuhan Yesus, kita mengalami perubahan hidup.
Paulus menyadari bahwa hidupnya yang sekarang ini semata karena anugerah Allah. Dulunya dia adalah seorang pendosa besar, tetapi Tuhan menyelamatkannya. Dulunya dia adalah penganiaya, tetapi Tuhan menjadikannya rasul. Tidak heran dia mengatakan semestinya dia tidak layak untuk menjadi rasul (ay. 9). Sadarkah kita akan hal ini?
3. Anugerah Allah selalu menyertai kita dan yang mendorong kita hidup bagi-Nya.
Anugerah Allah tidak hanya berhenti pada saat kita menerima keselamatan saja, tetapi selalu menyertai kita sepanjang hidup kita. Oleh karena itu hidup kita ini semata adalah anugerah-Nya. Oleh karena itu, Paulus ingin agar anugerah Allah dalam hidupnya itu tidak menjadi sia-sia. Sehingga ia dengan keras bekerja bagi Tuhan. Namun, diapun menyadari, semua kerja kerasnya selama ini hanya dimampukan oleh anugerah Allah dalam hidupnya. Jadi, memang benar, semua karena anugerah-Nya. Adakah kita menyadari akan betapa besar Allah telah beranugerah dalam kehidupan kita? Maukah kita tidak menyia-nyiakan anugerah-Nya itu? Biarlah hati kita melimpah dengan syukur di penghujung tahun ini, sekaligus kita berkomitmen kepada Tuhan agar di tahun mendatang kita boleh lebih lagi hidup bagi Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar